oleh

Tokoh Hamas Yang Diincar Mossad

-Opini-828 views

Oleh : Andreas Ambesa

Nama lengkapnya Yahya Ibrahim Hassan Sinwar, alias Yehya Al-Sinwar atau populer dipanggil Yahya Sinwar. Pria kelahiran 59 tahun lalu di kamp pengungsi kota Khan Yunis, Selatan Jalur Gaza ini adalah Ketua Hamas yang paling dicari Israel saat ini, karena beberapa kali lolos dari usaha pembunuhan yang dilakukan Israel. Yahya beberapa kali berhasil mengecoh dari kejaran pihak Israel baik dari dinas intelijen Mossad, Shin Bet, hingga militer Israel (IDF). Dia dijuluki “The Eel from Hamas” (Si Belut Dari Hamas).

Yahya sendiri telah terpilih sebagai Ketua Hamas di Jalur Gaza yang kali kedua. Dia terpilih pertama kali di Februari 2017 menggantikan Ismail Haniyeh. Berkat ketokohan dan keberaniannya melawan Israel, Yahya terpilih kembali 10 Maret 2021 lalu dengan 167 suara dari 320 suara di Dewan Syura Gaza. Para analis politik mengatakan dengan terpilihnya kembali Yahya menggambarkan kuatnya cengkeraman dia dalam gerakan sayap militer Hamas.

Sepak terjang Yahya sendiri dalam melawan Israel dimulai sejak dia berusia sangat muda. Dia dijebloskan di penjara Far’a, Tepi Barat, wilayah yang dikuasai Israel, di tahun 1982, dengan tuduhan subversif. Di penjara Far’a, dia bertemu dengan beberapa aktivis Palestina lainnya, termasuk Salah Shehade, yang tewas dibunuh Israel Juli 2002. Sejak di penjara itu, Yahya menyatakan dirinya mengabdi total untuk perjuangan Palestina.

Di tahun 1985 Yahya ditangkap lagi. Setelah dibebaskan, dia bersama dengan Rawhi Mushtaha mendirikan organisasi keamanan Munazzamat al Jihad w’al-Dawa (Majd), yang bekerja untuk mengidentifikasi mata-mata Israel dalam gerakan Palestina. Pada tahun 1988, Yahya mendalangi penculikan dan pembunuhan dua tentara Israel. Dia ditangkap dan dijatuhi hukuman empat tahun penjara pada tahun 1989. Karena beberapa kali mencoba melarikan diri dari penjara, hukumannya diperberat menjadi 22 tahun penjara sebelum akhirnya Sinwar dibebaskan pada tahun 2011 dan dipulangkan ke Gaza sebagai bagian dari pertukaran tahanan dengan tentara Israel Gilad Shalit.

Pada Februari 2017, Sinwar terpilih sebagai pemimpin Hamas di Jalur Gaza, menggantikan Ismail Haniyeh. Sejak terpilih sebagai pemimpin Hamas, Sinwar selalu memberikan instruksi kepada para militan untuk menangkap dan membunuh lebih banyak tentara Israel. Tentunya Sinwar menjadi target kembali Israel untuk dilenyapkan.

Dalam pengumuman tak terduga di Al Jazeera, pada 16 Mei 2018, Sinwar menyatakan bahwa Hamas akan membuka pintu negosiasi dan perdamaian dengan Israel. Padahal seminggu sebelumnya dia telah meminta warga Gaza untuk melakukan perlawanan kepada Israel yang mengepung Gaza City.

Desember 2020 lalu, Sinwar dinyatakan positif menderita Covid-19. Tidak lama dalam pesakitan virus corona, Sinwar terpilih sebagai Ketua Hamas Maret 2021 lalu. Dia adalah pejabat tertinggi Hamas di Gaza dan penguasa de facto Gaza, serta anggota Hamas terkuat kedua setelah Ismail Haniyeh.

Pada Sabtu malam 15 Mei 2021 lalu, Israel melakukan serangan udara hebat di Jalur Gaza, salah satunya adalah menyasar kediaman Sinwar dengan rudal yang berkekuatan dahsyat. Dalam video yang dirilis militer Israel, rumah yang dihuni Yahya Sinwar dan saudara laki-lakinya, Muhammad Sinwar nampak hancur lebur, rata dengan tanah.Namun serangan udara Israel itu tidak ada rincian langsung apakah Sinwar dan saudaranya tewas atau cidera. Sejak saat itu keberadaan Sinwar misterius. Baik Mossad, Shin Bet dan IDF belum menerima laporan rinci tentang status Yahya.

Militer Israel terperangah, ketika Sabtu (22/5/2021) lalu sehari setelah gencatan senjata, foto Yahya Sinwar beredar di berbagai media, muncul di publik, disambut oleh para pendukungnya di Kota Gaza (foto berbaju lengan panjang biru), saat dia tiba di kediaman komandan sayap militer tertinggi Hamas, Bassem Issa, untuk menyampaikan belasungkawa kepada keluarga Issa yang tewas baru-baru ini dalam serangan udara Israel. Tentu saja Israel kaget. Sinwar yang dinyatakan sebagai teroris sejak September 2015, ternyata masih hidup. Apakah perburuan Yahya Sinwar akan terus berlangsung, belum ada pernyataan resmi Israel. Namun operasi pengejaran Yahya bisa saja terhenti seandainya Israel-Palestina damai, dan Hamas bergabung dalam pemerintahan baru Palestina. Kita doakan perdamaian akan segera terwujud dan masyarakat baik Israel maupun Palestina berhak hidup berdampingan dengan damai.

 

Penulis adalah Pengamat Politik Luar Negeri

Komentar

Jangan Lewatkan