oleh

Tongkat Komando Sang Bupati

-Opini-2.303 views

Oleh: Isidorus Lilijawa

Aneka aksi ditunjukkan oleh para bupati dan wakil bupati yang baru dilantik tanggal 26 Pebruari 2021 ketika hari pertama mereka berdinas. Saya tertarik pada aksi bupati Manggarai Barat yang melakukan sidak di hari pertama sambil membawa tongkat komando. Menurut catatan Florespedia.com, bupati Endi mengaku tongkat itu adalah simbol sebagai pemimpin daerah di kabupaten itu. Pada tongkat komando itu ada simbol atau lambang tiga bunga melati. “Simbolnya, melambangkan seorang pemimpin. Seperti di Polres, saya (Kapolres) mau menunjukkan saya komandan kalian, sama juga dengan bupati, saya mau menunjukkan saya pemimpin kalian,” kata sang bupati.

Aksi sang bupati memantik pernyataan pakar hukum tata negara, Dr. John Tuba Helan. Menurutnya, sudah tidak ada aturan di pemerintahan sipil mengunakan tongkat komando. Tongkat hanya digunakan di kalangan militer dan kepolisian. “Undang-undang nomor 23 tahun 2014 tentang pemerintahan daerah tidak mengatur tentang itu, karena memang tidak cocok digunakan di kalangan sipil,” katanya kepada Florespedia.com, Senin (1/3/2021).

Lalu, apa maksud sang bupati menggunakan tongkat komando? Untuk sekedar menunjukkan identitas bahwa beliau adalah bupati atau memang hanya untuk gagah-gagahan, gaya-gayaan bahkan ‘gara-gara’ saja? Menguliti soal ini tidak cukup di permukaan. Membaca bahasa simbolik di balik itu penting. Di kalangan sipil, menggunakan lagi tongkat komando atau semacamnya seperti membuka bilur-bilur masa lampau ketika pemerintahan begitu otoriter. Semuanya sistem komando. Tanpa kesadaran pun tak apa, asalkan ikut komando.

Orang-orang tua di kampung berkisah pada zaman mereka, para kepala wilayah memerintah dengan tangan besi. Wujud tangan besi adalah tongkat, rotan atau ekor ikan pari (iko pai – bahasa daerah kami) yang dipakai untuk memukul dan mencambuk warga yang malas. Zaman itu, membangkitkan kesadaran memang butuh tangan besi, tongkat dan rotan. Nah, ketika hari gini pemimpin masih membawa tongkat, ekor pari dalam acara-acara kedinasan, orang bertanya-tanya: maksudnya apa? Hendak menakut-nakuti siapa? Mau mengancam siapa? Mau memukul siapa? Di era demokrasi ini mulut dan hatilah yang berbicara, bukan tongkat dan rotan. Kesadaran dilahirkan oleh pemberdayaan dan edukasi. Bukan oleh tongkat komando. Apalagi hal semacam ini tidak diatur dalam tata protokol kedinasan pemerintahan sipil.

Saya meneropong dari perspektif yang lain. Tongkat komando sang bupati walau tidak diatur dalam regulasi tetapi memberi banyak makna simbolik. Tongkat komando sang bupati ini bisa jadi adalah spiritus, penyemangat dalam menjalankan tugasnya. Bukan sekadar orang tahu bahwa beliau adalah bupati. Menjadi bupati di kabupaten super premium memang tidak gampang. Di Manggarai Barat ada Labuan Bajo. Di situ ada komodo. Salah satu keajaibam dunia. Maka tidak heran jika Taman Nasional Komodo (TNK) ditetapkan sebagai salah satu kawasan wisata super premium di Indonesia. Belum lagi tahun 2022 akan digelar pertemuan para pemimpin dunia dalam forum G-20 yang lokusnya di Labuan Bajo. Uang negara dan swasta mengalir deras ke Labuan Bajo. Kota ujung barat Flores ini didandan habis-habisan, di-make up terus-menerus. Karena banyak uang mengalir ke sana, maka pasti banyak aliran bahkan banjir kepentingan yang juga mengalir ke sana. Follow the money. Pertanyaannya, Labuan Bajo itu milik siapa? Komodo itu punya siapa? Bagaimanakah posisi rakyat Manggarai Barat terhadap pariwisata mendunia di Labuan Bajo itu?

Di posisi ini, bupati memang butuh tongkat. Ya, tongkat untuk membela rakyatnya agar tidak menjadi penonton di Labuan Bajo. Tongkat untuk memberdayakan rakyatnya agar tidak menjadi penganggur di hadapan gelimangan uang yang terus mengalir. Sang bupati butuh tongkat untuk secara tegas memastikan rakyatnya adalah tuan dan pemilik Labuan Bajo serta Manggarai Barat. Bukan menjadi orang asing di tanah sendiri. Karena Manggarai Barat itu bukan hanya Labuan Bajo, maka tongkat komando itu harus dipakai untuk mendistribusikan kue kesejahteraan juga ke wilayah yang lainnya di Manggarai Barat. Apa artinya kemegahan, kecantikan, kepongahan Labuan Bajo jika daerah lain di sekitarnya bergelimang susah dan derita, kemiskinan dan kemelaratan, akses sekolah dan transportasi yang buruk, sanitasi dan pelayanan kesehatan yang bikin hati teriris?

Gempuran ekonomi kapitalis tak tehindarkan. Labuan Bajo itu seksi. Menggoda. Orang dari mana-mana datang. Orang Jakarta bolak balik seperti ke kebun sendiri. Lalu lahirlah persoalan agraria. Mafia tanah dan mafia hukum bergentayangan. Di hadapan persoalan ini, tongkat komando sang bupati harus berbicara. Bicara tentang kebenaran. Bicara soal keadilan. Bicara mengenai keberpihakan. Eksotisme Labuan Bajo dengan komodo dan pantai nan indah harus dikonversi ke kesejahteran rakyat, minimal Manggarai Barat, jika Flores umumnya terlampau luas.

Dengan tongkat komandonya, sang bupati mempertaruhkan kepercayaan rakyat. Jangan pikul tongkat ke mana-mana kalau nasib rakyat tidak menjadi lebih baik. Jangan tunjuk tongkat di mana-mana jika perubahan yang dijanjikan dalam slogan-slogan kampanye tidak segera terbit. Bila mengusahakan kebaikan rakyat menjadi perkara rumit, sarungkanlah tongkatmu.

Saya menduga tongkat komando sang bupati yang dibawa ke mana-mana itu bukan untuk gagah-gagahan, gaya-gayaan apalagi sekedar ‘gara-gara’. Saya membayangkan tongkat itu harus menjadi seperti tongkat Nabi Musa. Tongkat yang menuntun bangsa Israel keluar dari penindasan bangsa Mesir; tongkat yang menyelamatkan umat Israel dengan membelah laut merah; tongkat yang memuaskan dahaga kaum Israel dengan hanya memukul batu cadas; tongkat yang memberikan orientasi kepada Yosua dan bangsa Israel untuk terus berjalan menuju Kanaan, negeri yang kaya susu dan madunya. Manggarai Barat dengan super premium Labuan Bajonya harus keluar dari situasi kemiskinan, ketidakadilan dan ketertindasan ‘manusia/golongan/korporasi ala. Mesir’. Rakyat harus dituntun menuju Kanaan, simbol kesejahteraan. Itu hanya mungkin bola tongkat komando sang bupati berfungsi dengan baik dan berdaya guna. Proficiat dan selamat melayani rakyat Manggarai Barat dengan tongkat komando itu. Salve

 

Penulis adalah Warga Kota Kupang tinggal di Liliba

Komentar

Jangan Lewatkan