oleh

Trauma Masalah Pelik di Tengah Pandemi

-Opini-275 views

Oleh: Saverinus Dosom

Waktu terus berlalu .Tiada hari tanpa persoalan, corona virus desease 2019 (Covid-19) tak kunjung henti dari muka bumi ini. Entah sampai kapan virus berbentuk mahkota itu menyelimuti sekaligus menghantui seluruh aspek kehidupan manusia. Virus yang pertama kali muncul di Wuhan, Cina ini sudah  menyebar ke seluruh dunia. Sejak virus ini menyebar, seluruh aspek kehidupan manusia diselimuti oleh rasa kecemasan, ketakutan dan kegelisahan.

Kedahsyatannya melampaui segalanya, spesifiknya menyelami kehidupan manusia. Manusia mempunyai julukan binatang yang berakal budi (animal rationale). Sejatinya kegelisahan ini disebabkan oleh pikiran manusia yang cemas, resah, tidak tenteram, tidak tenang, tidak sabar menunggu, dan selalu khawatir.

Prespektif Sigmund Freud mengafirmasikan tiga macam kecemasan yang menghantui kehidupan manusia. Kecemasan tersebut antara lain: pertama, kecemasan kenyataan (obyektif) karena adanya bayangan dari luar yang mengancam. Kedua, kecemasan neutorik (syaraf) karena pengamatan tentang bahaya dan naluriah. Ketiga, kecemasan moral disebapkan oleh sifat tamak, kikir, iri hati, dengki dan sifat lainya yang tidak terpuji di hadapan sesama dan Tuhan. Semua itu menjadi konklusi universal sifat manusia yang bisa mengalami rasa takut sekaligus gelisah.

Prespektif Freud mempunyai relevansi terkait dengan kehidupan kita di tengah situasi pandemi saat ini. Kita diperhadapkan dengan polemik pelik sehingga menjadi menderita dan tidak merasa nyaman. Bisa dikatakan bahwa, tantangan utama yang tergolong cukup sulit dihadapi oleh semua manusia saat ini.

Di negara kita yang tercinta ini, begitu banyak masyarakat tanpa terkecuali diselimuti rasa kegelisahan dan ketakutan. Perasaan semacam itulah yang dapat membawa banyak polemik untuk mempengaruhi pikiran dan kinerja kerja kita. Implikasi itu dapat kita lihat dari pelbagai macam aspek, salah satunya disebabkan oleh banyaknya peraturan dari pemerintah yang secara serentak diumumkan kepada masyarakat dalam mengantisipasi penularan Covid-19. Semisal terkait pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Peraturan pemerintah tersebut yang membuat masyarakat merasa sangat gelisah. Entah itu karena  semua pekerjaan terhenti atau pun kebutuhan akan hidup tidak cukup.

Selain itu terkait situasi NTT belakangan ini. Semua jalur transportasi diminimalisasi di tengah situasi mudik perayaan lebaran. Sejak berlakunya peraturan pemerintah yang diumumkan secara serentak ini, begitu banyak tanggapan dari masyarakat mengenai praturan ini. Secara tidak langsung adanya kecemasan, kegelisahan dan ketakutan.

Masyarakat memikirkan hal-hal positif maupun  negatifnya. Memang peraturan pemerintah itu sangat baik demi membantu masyarakat dalam menjaga untuk memutus mata rantai penyebaran virus ini. Akan tetapi di lain pihak, banyak masyarakat yang memikirkan bahwa peraturan pemerintah yang secara serentak ini dapat merestrukturisasi kebiasaan baik sebelumnya.

Situasi di atas sebetulnya hendak menampilkan problem yang baru sehingga membuat semua masyarakat  merasa gelisah. Tentu kita telah ketahui bersama sejak berlakunya peraturan pemerinta yang secara mendadak di negara ini, suasana aktivitas sangat sepi. Kesepian ini juga yang membuat manusia sangat gelisah. Setiap orang tidak bisa melakukan aktivitas di luar rumah dikarenakan jaga jarak (social distancing).

Ada banyak persoalan di masa pandemi sehingga pikiran dan perasaan setiap orang merasa sangat gelisah. Kegelisahan itu atas dasar motif takut akan tidak ada momen indah, kehilangan makna perayaan iman, dan lain sebagainya. Hal itu karena setiap orang diharuskan mengikuti regulasi dari pemerintah.

Begitu banyak harapan dan impian kita dalam mengghadapi wabah Covid-19 ini. Harapan dan impian  tersebut agar bisa keluar dari situasi pandemi agar bisa bebas dari rasa kegelisahan. Jika pandemi hilang lenyap maka secara otomatis aturan pemerintah pun tidak ada. Hal itu bertujuan supaya semua rasa kegelisahan akan sendirinya hilang jika kita memiliki begitu banyak harapan dan impian yang normal.

Kita mesti bersikap tenang dan sabar dalam menghadapi situasi pandemi saat ini. Dengan sikap seperti itu, kita bisa mengendalikan atau mengontrol semua pikira–pikiran yang dapat menghantui sehingga menghadirkan  kegelisahan.

Alternatif terbaik dalam mengatasi masalah kegelisahan tidak lebih dari menetralkan kembali cara berpikir yang berbau negatif dan menyesuaikan diri dengan situasi yang ada. Masyarakat memang harus menghargai dan mengikuti semua informasi yang disampaikan oleh pemerintah demi terciptanya situasi yang harmonis.

Melalui semua itu penyebaran Covid-19 terhindar dengan sendirinya jika masyarakat betul-betul megikuti arahan dari pemerintah. Di samping itu, masyarakat juga harus bersikap disiplin dan menaati semua protokol kesehatan. Sikap disiplin sebagai salah satu cara yang mungkin kita  bisa lakukan dalam menghadapi situasi ini.

Kita juga perlu sadar, mungkin virus yang mematikan ini yang telah menyebar keseluruh dunia suatu kritikan atas kehidupan kita. Tentu kita telah lihat dan merasakan bersama selama ini, kita kurang berdisiplin dalam menjaga dan memelihara kehiduban kita. Sehari-hari kita sering menganggap hidup disiplin itu tidak seberapa penting. Setelah wabah ini telah membawa banyak korban menuju kematian, kita baru sadar betapa pentingnya untuk hidup berdisiplin. Karena virus ini sangat cepat menyerang kepada orang yang tidak berdisiplin. Disiplin berarti menaati protokol kesehatan, seperti memakai masker, mencuci tangan, jaga jarak  dan sebagainya.

Sikap menganggap segala sesuatu itu tidak pentinglah justru membawa kita menuju kematian. Selama ini kita juga sering cuek terhadap himbauan dari pemerintah tentang betapa pentingnya untuk hidup berdisiplin. Sekarang baru kita sadar setelah banyak korban yang sudah meninggal dan di karantina.

Ada pepata yang mengatakan “siaplah payung sebelum hujan’’. Kata-kata inilah suatu refleksi yang sangat mendalam dalam kehidupan kita. Kadang dalam kehidupan kita ketika melakukan suatu tindakan atau perbuatan yang tidak baik, kita sering menyesal di akhir cerita. Sikap inilah  yang selama ini tidak pernah berubah sedikit pun.

Oleh karena itu, mari kita mengarahkan semua pikiran-pikiran ke hal-hal yang positif. Pikiran positiflah akan menghasilkan buah sejati ketenteraman jiwa yang baik. Semua itu agar kita bisa memulihkan kembali rasa kegelisahan, ketakutan dan kecemasan di masa pandemi saat ini. Dengan itu kita bisa mengenal dan menemukan segala titik kelemahan di dalam setiap diri masing-masing. Mengenal diri sendiri berarti bisa mengendalikan diri dari semua rasa ketakutan, kegelisahan dan lain sebagainya. Murnikan pikiran, jadikanlah diri sendiri menjadi lebih bermakna!(*)

 

Penulis adalah pelajar di Kongregasi Scalabrinian Ruteng-Manggarai-Flores

Komentar

Jangan Lewatkan