oleh

Tumbangnya Para Petahana di NTT

-Opini-2.396 views

Oleh: Isidorus Lilijawa

Kemarin (Senin, 22 Maret 2021), Mahkamah Konstitusi memutuskan perkara sengketa Pilkada Sumba Barat. Sebagaimana kita ketahui, gugatan petahana ditolak. Sama persis dengan 3 petahana sebelumnya di Manggarai Barat, Malaka dan Belu yang gugatannya juga ditolak MK. Dengan demikian di NTT, semua petahana yang mengikuti Pilkada 9 Desember 2020 kemarin dinyatakan tumbang.

Mungkin banyak orang bertanya, apa sih salah dan dosa petahana sehingga mereka gagal melaju ke periode kedua? Padahal, para petahana ini sedang berkuasa. Mereka memiliki sumber dana dan sumber daya yang bisa dimobilisasi. Mereka punya modal dan jaringan. Incumbent sebagai pemegang kendali kekuasaan akan mudah memenangkan pertarungan dibanding dengan pendatang baru atau penantang. Selain telah memperlihatkan hasil kerja selama satu periode, incumbent juga memiliki kekuatan menggerakkan sumber daya yang dimiliki untuk mengarahkan dukungan kepadanya.

Tumbangnya para petahana di NTT memberikan gambaran bahwa politik itu dinamis. Tidak menjadi garansi bahwa petahana mudah memenangkan pertarungan. Dalam Pilkada yang memikul beban lebih berat adalah petahana karena ia harus mempertanggungjawabkan kinerja dan janji-janji politiknya kepada publik. Rakyat akan dengan mudah melihat celah dan kelemahan petahana.

Di lain sisi, rakyat sebagai pemilih akan menjadi hakim atas petahana. Jika selama berkuasa, program-programnya tidak menjawab kebutuhan rakyat, janji-janji politik hilang begitu saja, mulai membangun kerajaan bisnis, melestarikan dinasti kekuasaan, menjadi tirani bagi birokrasi, tim sukses dan tim hore menguasai proyek pemerintah, maka rakyat akan menjadi hakim yang kejam di tempat pemungutan suara.

Belum puasnya masyarakat dengan kinerja incumbent lalu hadirnya pendatang baru dengan program yang lebih menjanjikan, juga menjadi alasan rakyat berpaling dari petahana. Selain itu, faktor kesolidan partai pengusung juga bisa menjadi penyebab tumbangnya incumbent. Belum lagi jika incumbent bertarung head to head dengan penantang, jelas semakin menyulitkan posisi Incumbent. Karena masyarakat condong membandingkan kedua pasangan berdasar kinerja atau harapan dari pendatang baru.

Kekalahan para petahana di NTT adalah gambaran politik bahwa rakyat mengingingkan suasana baru, orang baru dan program-program baru yang lebih menyentuh harapan mereka. Apalagi bagi para pemilih milenial, kebaruan adalah kesukaan mereka. Incumbent dilihat sebagai yang status quo atau out of date. Maka new comer dengan program-program baru serta menggunakan platform media sosial tentu diminati kaum milenial ini.

Lalu, apa pembelajaran dari gugurnya para petahana ini? Pertama, untuk sekali lagi mengingatkan bahwa jabatan itu amanah dan kepercayaan. Kalau sudah tidak dipecayai rakyat karena tidak amanah, maka pasti kehilangan jabatan. Kedua, uang – kekuasaan – jaringan – birokrasi bukanlah garansi untuk terpilih lagi. Kinerja petahana diukur dari apakah ia menepati janji politiknya atau tidak; apakah ia tetap rendah hati seperti saat kampanye atau tidak; apakah ia tidak ‘bermain’ proyek bersama kroni-kroninya atau tidak. Ketiga, birokrasi bukan alat politik. Karena itu, terlalu percaya pada ‘anggukan dan yes’-nya para birokrat itu bisa blunder. Orientasi kebanyakan mereka adalah ‘mencari aman’. Maka bermain beberapa kaki adalah pola agar selamat walau kemudian petahana babak belur. Keempat, menjalankan roda pemerintahan dengan pola biasa-biasa saja akan membuat rakyat bosan. Maka kehadiran yang baru tentu diharapkan. Kelima, jika selama berkuasa petahana tidak cukup memberikan mata air kesejahteraan bagi rakyat dan malah memicu tirisnya air mata penderitaan rakyat, maka Pilkada adalah cara paling santun membalas semuanya itu agar petahana juga merasakan efek air mata rakyat.

Menjadi petahana itu enak, nikmat. Itu terjadi ketika anda baru saja dilantik, lalu di tahun pertama, kedua dan ketiga. Banyak orang akan menghormatimu, mengikuti arahanmu. Tetapi ketika musim Pilkada tiba dan anda mau bermain lagi, rasa nikmat dan enak itu memudar. Karena segala dosa, kekurangan dan kelemahan anda ditampilkan ke permukaan, bahkan oleh orang-orang yang sejak awal menaruh respek padamu. Karena itu, sesuai pesan biblis, jadilah tulus seperti merpati dan cerdik bagai ular.

Dan untuk yang terpilih dalam Pilkada kemarin, belajarlah dari momen tumbangnya para petahana ini. Semoga anda-anda nanti di tahun 2024 ketika mau bertarung lagi, tidak mengulangi kesalahan yang sama dan akhirnya KO ditumbangkan rakyat di ronde pertama Pilkada. Kekuasaan itu nikmat. Mudah-mudahan anda tidak terlena dan terjebak dalam aneka arus lalu lintas kepentingan yang bikin nikmat itu. Salve

Komentar

Jangan Lewatkan