oleh

Yesus sebagai Model Manusia yang Peduli Kesetaraan Gender 

-Opini-193 views

Oleh: Soterdino Obe

Persoalan mengenai kesetaraan gender merupakan persoalan klasik yang sampai kini masih hangat dibahas. Persoalan gender lebih mengacu pada ketidakadilan dan kesewenang-wenangan yang terjadi antara laki-laki terhadap perempuan. Dalam budaya yang berkembang di tengah masyarakat, kaum laki-laki seperti mempunyai otoritas yang lebih dibandingkan perempuan. Kondisi fisik, pola pikir, dan kewibawaan merupakan alasan yang disajikan dalam mempertegas posisi laki-laki sebagai pihak yang lebih dominan dibandingkan perempuan. Pandangan tentang laki-laki sebagai pihak yang dominan, justru berdampak pada diskriminasi terhadap kaum perempuan.

Dimana kaum perempuan sering diperlakukan secara tidak adil dan sewenang-wenang oleh kaum laki-laki. Hal ini dapat kita telaah dari berbagai fenomena-fenomena yang terjadi masa kini, misalnya mengenai posisi perempuan dalam keluarga, dimana perempuan seringkali dipandang sebagai milik laki-laki dan tunduk kepada otoritas laki-laki dibandingkan hadir sebagai rekan kerja yang sederajat. Latar belakang budaya patriakh yang berkembang di masyarakat merupakan salah satu alasan mengapa perempuan mempunyai posisi yang tidak diunggulkan dibandingkan dengan laki-laki.

Alkitab menghadirkan secara jelas bagaimana persoalan gender yang hadir di tengah bangsa Israel. Bangsa Israel merupakan bangsa yang bercorak patriakh, dimana laki-laki mengambil peran penuh dalam semua tatanan hidup masyarakat. Secara ekstrem alam budaya Yahudi, perempuan justru akan diakui eksistensinya sejauh mana ia berguna bagi laki-laki. Karena itu diskriminasi terhadap kaum perempuan bertumbuh sangat subur dalam budaya Yahudi.

Terlepas dari pandangan budaya patriakh bahwa laki-laki adalah kaum yang lebih dominan dibandingkan dengan perempuan, Yesus justru datang dengan semangat baru yang berpihak kepada kaum perempuan sebagai kaum yang menderita. Semangat baru ini ditunjukan lewat penghargaan Yesus terhadap martabat perempuan. Teks Lukas 7: 36-50 tentang Yesus yang diurapi oleh perempuan berdosa menjadi salah satu rujukan yang dapat membuktikan bagaimana Yesus memberikan keprihatinannya kepada kaum perempuan sebagai kaum tertindas pada masa itu.

Eksistensi Perempuan dalam Pelayanan Yesus

Dalam perjalanan-Nya mewartakan Kerajaan Allah, Yesus memberi perhatian kepada orang-orang miskin, buta, lumpuh, pendosa, sengsara, orang kecil, dan mereka yang tertindas dalam kehidupan masyarakat. Dalam konteks ini kita dapat menempatkan kaum perempuan dalam lingkup mereka yang tertindas, sebab kalau ditilik dari kehidupan zaman Yesus perempuan menjadi objek diskriminasi yang terbelenggu dalam dominasi kaum lelaki.

Berbanding terbalik dengan pandangan kaum Yahudi pada zaman itu, Yesus memiliki pandangan yang sama sekali berbeda dimana Yesus menekankan penghargaan terhadap kaum perempuan. Yesus memberikan paradigma baru yang melampaui tradisi dan pandangan kaum Yahudi. Artinya bahwa Yesus ingin memperlihatkan kesamaan kedudukan manusia yang revolusioner dalam pelayanan-Nya, siapapun entah dia laki-laki atau perempuan sama-sama mempunyai peran yang sama dalam membangun kerajaan Allah di tengah dunia walau dengan tugas yang berbeda-beda.

Yesus Pribadi Yang Peduli Terhadap Kaum Perempuan

Yesus bukanlah pribadi yang secara radikal menuntut perubahan tatanan masyarakat patriakh, namun Yesus lebih kepada menghadirkan kepedulian dan pemberdayaan terhadap kaum perempuan yang tertindas. Kepedulian Yesus terhadap kaum perempuan terlukis dalam teks-teks injil antara lain: janda di Nain ( Luk 7: 11-15), perempuan yang mengurapi kaki Yesus (Luk 7 36-50) dsb. Pemberdayaan kaum perempuan terlukis dalam kisah mengenai wanita-wanita yang mengikuti Yesus (Luk 8:1-3), percakapan dengan wanita Samaria (Yoh 4: 1-42), dimana secara jelas kita dapat melihat bagaimana kaum perempuan member kesaksian hidup yang benar lewat pelayanan yang total bagi karya Yesus.

Di sini Yesus mengizinkan para perempuan untuk menyertainya dan hadir secara aktif dalam karya pewartaann-Nya. Selain itu dalam kisah-kisah mengenai Yesus dapat dilihat bagaimana perempuan mengambil bagian dalam karya penyelamatan. Kisah Maria ibu Yesus merupakan model yang  pas mengenai peran perempuan dalam menghadirkan keselamatan bagi dunia (Luk 1: 26-38), ada juga Elisabeth (Luk 1: 39-45), juga Hanna (Luk 2: 36-40) yang menjadi bukti bagaimana kaum perempuan mengambil bagian penting dalam karya keselamatan Yesus.

Dari penjelasan tersebut termuat bagaimana pribadi Yesus sebagai pribadi yang peduli dan menghargai martabat kaum perempuan. Ada dua hal penting yang menjadi pokok kepedulian Yesus terhadap kaum perempuan, pertama bahwa Yesus dalam pewartaan dan teladan hidupnya menepis anggapan tentang tidak ada kesempatan bagi perempuan dengan memberikan tempat bagi perempuan dalam karya-Nya, kedua bahwa Yesus menunjukan bagaimana para perempuan juga mengalami sentuhan kasih Yesus dalam kehidupan pribadi mereka yang membawa mereka ke dalam kehidupan yang baru. Kehidupan baru yang dimaksudkan adalah kehidupan yang meneladani pribadi Yesus dalam konteks ini adalah pelayanan dan pemberian diri bagi kepentingan banyak orang.

Relevansinya dalam kehidupan masa kini

Selayaknya Yesus yang menanamkan rasa peduli terhadap kaum perempuan, masyarakat juga harus menanamkan rasa kepedulian terhadap kaum perempuan yang notabene sering mengalami diskriminasi akibat ketimpangan kesetaraan gender.

Yesus merupakan model yang bagus untuk diteladani, mengingat tindak-tanduk-Nya yang justru berpihak pada kaum marginal khususnya perempuan pada masa itu. Dengan menaruh rasa peduli niscaya segala bentuk diskriminasi terhadap kaum perempuan dapat diminimalisir. Perubahan pola pikir juga menjadi modal utama dalam menyikapi masalah ketimpangan gender.

Masyarakat (khususnya kaum laki-laki) sebaiknya menyingkirkan pemikiran patriakh dan memandang kaum perempuan sebagai sesama manusia yang setara. Perempuan seharusnya dipandang sebagai rekan kerja, bukan sebagai pelengkap dari otoritas kaum laki-laki.

 

Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Filsafat UNWIRA Kupang

Komentar

Jangan Lewatkan