oleh

“Jurus Mabuk” Operasi Tangkap Tangan Satgas 53 Kejaksaan Agung RI

-Opini-7.246 views
Spread the love

Oleh: Victor Manbait

Tanggal 23 Desember 2021 Nusa Tenggara Timur (NTT) dihebohkan dengan adanya Operasi Tangkap Tangan (OTT) Tim Satgas 53 Kejaksaan Agung RI atas Jaksa Penyidik pada Kejaksaan Tinggi NTT. Jaksa Penyidik yang menjabat sebagai Kepala Seksi Penyidikan Kejaksaan Tinggi NTT tersebut ditangkap saat berada di rumah seorang pengusaha asal Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) di kota Kupang.

Sesaat publik dibuat terpana, kaget dan kagum. Kejaksaan luar biasa, lakukan OTT atas jaksanya sendiri dan seorang pengusaha ini sejarah, untuk pertama kalinya sejak propinsi NTT berdiri, Kejaksaan RI melakukan OTT di NTT.

Sesaat setelah OTT Satgas 53 Kejaksaan Agung, Kepala Kejaksaan Tinggi NTT melalui Kasi Penumkum Kejaksaan Tinggi NTT, menyampaikan ke Publik melalui media cetak, elektronik dan media online “OTT Kepala Jaksa Penyidik Kejaksan Tinggi NTT atas sepengetaghuan dan ijin Kejati NTT. Kepala Seksi Penyidikan Kejaksaan Tinggi NTT Kundrat Mantolas SH. MH yang diOTT oleh Satgas 53 Kejaksaan Agung, karena yang bersangkutan lakukan perbuatan tercela. Dan Kepala Kejaksaan Tinggi sudah pernah ingatkan Kepala Seksi Penyidikan Kejaksaan Tinggi NTT tersebut.

Menurut Kepala Seksi Penkum Kejati NTT, Pengusaha yang didatangi Kepala Seksi Penyidikan Kejati NTT Kundrat Mantolas, SH. MH tersebut tidak pernah diperiksa oleh Kejaksaan Tinggi NTT terkait suatu kasus apapun.

Namun setelah OTT dan akan dibawa ke Kejaksaan Agung di Jakarta, Pengusaha Direktur PT Sari Karya Mandiri Hironimus Taolin yang ditangkap bersama Kepala Seksi Penyidikan Kejaksaan Tinggi NTT, Kundrat Mantolas SH. MH. Itu, katakan bahwa “Dialah yang melaporkan kepala seksi penyidikan Kejaksaan Tinggi NTT, Kundrat Mantolas, SH. MH ke Kejaksaan Agung karena sering diteror dan diperas oleh Jaksa Kundrat Mantolas SH. MH.

Senada dengan Kepala Kejaksaan Tinggi NTT, Jaksa Agung RI melalui Kepala Penerangan dan Hukum Kejaksaan Agung RI, menyampiakn ke Publik bahwa Pengusaha yang diamankan bersama Kepala Seksi Penyidikan NTT itu, tidak pernah diperiksa oleh Kejaksaan Tinggi NTT terkait sesuatu kasus Apapun.

Namun berdasarkan jejak digital yang ada telah diberitakan media cetak dan media online bahwa pengusaha yang diOTT bersama kepala seksi penyidikan Kejaksaan Tinggi NTT itu, pernah diperiksa oleh Kepala Seksi Penyidikan Kejaksaan Negeri TTU atas dugaan korupsi pekerjaan peningkatan jalan dalam kota Kefa tahun angaran 2015 dengan pagu anggaran sebesar Rp 10 milyar lebih di tahun 2019, namun satu minggu setelah Kepala Seksi Tindak Pidana Khusus Kejaksaan Negeri TTU yang meminta perpanjangan waktu penyelidikan selama 20 hari kepada kepala Kejaksaan Negeri TTU, justru dipindahkan ke Kejaksaan Negeri Lembata dan kasus tersebut mendendap tak jelas kelanjutan penegakan hukumnya.

Dikatakan oleh Kepala Seksi Penerangan dan Hukum Kejaksaan Tinggi NTT maupun Kepala Penerangan dan Hukum Kejaksaan Agung RI, bahwa Kepala Seksi Penyidikan Kejaksaan Tinggi NTT tersebut di-OTT oleh Satgas 53 Kejaksaan Agung RI berdasarkan Laporan Masyarakat karena melakukan Perbuatan Tercela.

Hal mana membuat publik berkerit dahi dan bertanya, perbuatan tercela seperti apakah yang dilakukan oleh Kepala Seksi Penyidikan Kejaksaan Tinggi NTT, sehingga pemeriksaan atas Jaksa penyidik tersebut mesti dilakukan dengan sebuah operasi tangkap tangan?

Bukankah perbuatan tercela yang disangkakan ke Kepala Seksi Penyidikan Kejaksaan Tinggi NTT telah diketahui oleh Kepala Kejaksaan Tinggi NTT, bahkan oleh Kepala Kejaksaan Tinggi NTT yang bersangkutan pernah ditegur?

Tidak mempankah mekanisme pemeriksaan infernal baik itu dengan pemanggilan sebagaimana diatur dalam Undang-undang ASN dan Peraturan Pemerintah Tentang Disiplin Pegawai Negeri Sipil, dan Peraturan Jaksa Agung RI tentang Penanganan Disiplin Jaksa lebih dikedepankan?

Mengapa harus pula melalui sebuah Operasi Tangkap Tangan, yang tentunya membutuhkan waktu pengamatan, pengintaian yang tidak singkat, bahkan mungkin melalui proses penyadapan dengan menggunakan biaya yang tidak sedikit pula?

Pinjam Uang Natal

Apa sebenarnya perbuatan tercela yang terjadi? Bila di Tanggal 23 Desember 2021 dalam Temu Pers di Kota Kupang setelah kembali dari diperiksa di Kejaksaan Agung RI Jakarta, Pengusaha Direktur PT Sari Karya Mandiri Hironimus Taolin yang diOTT bersama Kepala seksi penyidikan Kejaksaan Tinggi NTT Kundrat Mantolas,SH.MH, katakan, Dia (Hironimus Taolin) dan Kepala Seksi Penyidikan Kejaksaan Tinggi NTT Kundrat Mantolas SH. MH, berteman baik sudah lama, dan kedatangan Jaksa Kundrat ke rumahnya malam itu untuk meminjam uang Natal, sebesar Rp50.000.000.

Menurut Pengusaha Direktur Perusahaan PT Sari Karya Mandiri, Ini adalah pinjaman uang Natal yang ketiga kalinya dipinjam oleh Jaksa Kundrat Mantolas SH. MH darinya yakni yang pertama sebesar Rp10.000.000, kedua Rp25.000.000 dan semuanya telah dikembalikan oleh Jaksa Kundrat kepadanya, tanpa menyebutkan kapan dan di mana Jaksa Kundrat Mantolas SH. MH telah mengembalikan uang yang telah dipinjamnya dari Pengusaha Direktur PT Sari Karya Mandiri .

Apakah memang pinjam meminjam uang Natal oleh Jaksa penyidik Kundrat Mantolas kepada pengusaha Direktur perusahaan PT. Sari Karya Mandiri Hironimus Taolin tersebut mesti diamankan dengan sebuah Operasi tangkap tangan di akhir tahun anggaran 2021?

Lain Di-OTT Lain Diperiksa?

Di-OTT-nya Kepala Seksi Penyidikan Kejaksaan Tinggi NTT Kundrat Mantolas, SH. MH ini bak misteri tiba tiba lengap informasinya. Kejaksaan Tinggi NTT dan Kejaksaan Agung RI menutup rapat rapat informasi, sejauh mana penanganan lanjutan OTT oleh Satgas 53 Kejaksaan Agung RI di tanggal 23 Desember 2021 tersebut.

Di berita media muncul informasi baru lagi yang tak kalah hebohnya dengan, diperiksanya Kepala Dinas Pekerjaan umum Kabupaten TTU Yanuarius Salem pada tanggal 5 Januari 2022 lalu oleh Kejaksaan Agung RI, sehubungan dengan adanya laporan masyarakat atas Kepala Seksi Intelejen Kejaksaan Negeri Timor Tengah Utara Bendrid Foeh ke Kejaksaan Agung RI. Dan akan menyusul diperiksanya sejumlah Pengusaha yang mengikuti Tender Proyek Pembangunan Jembatan Naen Kabupaten TTU dengan Pagu Anggaran Rp19 milyar lebih, termasuk PPK , Panitia Proyek dan Perusahaan Pemenang Tendernya.

Ini langkah tak terduga ala “jurus mabuk” Melakukan OTT atas Jaksa Penyidik Kejaksaan Tinggi NTT, sementara yang dilaporkan adalah Kepala Seksi intelejen Kejaksaan Negeri TTU dan yang diperiksa adlah kepala Dinas PU, PPK, Panitia, para Pengusha dan pemenang tender Proyek pekerjaan jembatan Naen Tahun anggaran 2021,

Apakah OTT atas kepala seksi penyidikan Kejaksaan Tinggi NTT dan pengusaha Direktur PT Sari Karya Mandiri, dan dilaporkannya Kepala Seksi Intelejen Kejaksaan Negeri TTU dan diperiskanya sejumlah pihak di atas dalam pekerjaan jembatan Naen senilai Rp 19 milyar lebih oleh Kejaksaan Agung RI adalah dua peristiwa yang berbeda? Ataukah keduanya adalah sebuah bingkai kasus besar yang hendak diungkap penegak hukum di gedung bundar Jakarta, dan aparatur Adhyaksa Kejaksaan Tinggi NTT yang berkantor di jalan El Tari Kota Kupang ini?

Publik yang berkepentingan memperoleh kejelasan informasi yang wajib disampaikan oleh pihak Kejaksaan, menanti dengan segera agar adanya informasi yang tegas dan jelas atas “jurus mabuk” OTT Satuan Tugas 53 Kejaksaan Agung RI atas Kepala Seksi penyidikan Kejaksaan Tinggi NTT Kundrat Mantolas SH. MH dan Pengusaha Direktur PT Sari Karya Mandiri Hironimus Taolin di tanggal 23 Desember 2021 lalu itu.

 

Penulis adalah Direktur Lakmas Cendana Wangi NTT

Komentar

Jangan Lewatkan