oleh

Kesiapsiagaan Bela Negara dengan Kearifan Lokal Kebekolo

-Opini-139 Dilihat

Oleh: Antoni, S.I.Kom

Globalisasi yang sarat dengan semangat perubahan berdampak kepada perubahan nilai-nilai sosial budaya bangsa. Tidak dapat dipungkiri bahwa perubahan nilai-nilai mempengaruhi pola pikir, sikap dan pola tindak generasi penerus bangsa. Pengaruh globalisasi tidak hanya berdampak terhadap perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan, namun berpengaruh juga pada paradigma masyarakat. Bahkan bisa saja membawa nilai-nilai yang bersinggungan dengan nilai-nilai bangsa yang sudah ada. Konsep keindonesiaan tidak lepas dari bentuk perasaan senasib karena pernah dijajah dan semangat untuk menegakkan perdamaian dunia sebagaimana yang telah dicita-citakan para
pendiri bangsa.

Setiap daerah memiliki kearifan lokal yang lahir dari jiwa kebenaran dan kebaikan dalam masyarakat yang berkembang dan merupakan sebuah pegangan hidup masyarakat. Dengan berlandaskan pada nilai kearifan lokal, peran serta masyarakat tidak hanya diharapkan mampu berperilaku sesuai dengan fungsi masing-masing, namun juga tetap berpatokan terhadap nilai yang telah ditetapkan agar senantiasa selalu terjaga dalam norma.

Kearifan lokal dianggap penting sebagai pegangan hidup masyarakat dan sebagai dasar untuk seseorang berhubungan dengan orang lain, dengan alam, dan dengan kehidupan. Pada suku atau komunitas apapun di wilayah Indonesia, kearifan lokal menempati posisi khusus dan terhormat dalam kehidupan masyarakat pemiliknya. Dalam bentuknya yang disampaikan secara lisan, kearifan lokal tersebut justru memiliki kekuatan yang lebih kuat daripada yang tertulis. Kebekolo merupakan salah satu kearifan lokal yang dimiliki Indonesia, tepatnya berada di daerah Ende, Nusa Tenggara Timur (NTT). Keadaan geografis di NTT berupa gunung dengan kelerengan lebih dari 30 persen. Hal ini mengakibatkan NTT potensial terhadap erosi longsor serta menghilangkan produktivitas lahan terlihat dari top soil tanah yang mulai tipis tergerus, padahal sebagian besar masyarakatnya bekerja di bidang pertanian.

Kebekolo merupakan barisan kayu atau ranting yang disusun atau ditumpuk memotong lereng. Tumpukan kayu/ranting ini berfungsi untuk menahan tanah yang tergerus aliran permukaan (erosi). Kebekolo banyak ditemukan pada lahan kering di NTT, khususnya di daerah Ende. Jarak antar kebekolo bergantung pada kemiringan lahan; makin miring lahan, jarak antar kebekolo makin rapat. Kebekolo cukup efektif menahan lolosan tanah, selama kayu atau ranting yang digunakan belum melapuk. Oleh karena itu, cara konservasi ini memerlukan penggantian kayu/ranting secara kontinu. Agar kebekolo berfungsi lebih lama maka diperlukan sentuhan inovasi.

Dilansir dari warta penelitian dan pengembangan penelitian Vol 30, No. 2 tahun 2008, Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Nusa Tenggara Timur, Penyempurnaan kebekolo dapat dilakukan dengan menanam tanaman konservasi di sepanjang barisan kebekolo. Ada beberapa manfaat menanam tanaman konservasi pada barisan kebekolo. Bila yang ditanam jenis legum pohon maka hijauan dari pangkasannya bermanfaat sebagai pupuk hijau atau pakan ternak, sedangkan rantingnya untuk memperkuat kebekolo atau mengganti kayu/ranting kebekolo yang sudah lapuk.

Kayu atau ranting dapat pula digunakan sebagai kayu bakar. Bila barisan tanaman konservasi sudah tumbuh rapat maka penggantian kayu kebekolo tidak diperlukan lagi, karena barisan tanaman konservasi sudah mampu menahan erosi. Tanaman legum lain seperti glirisidia (gamal) dapat pula digunakan sebagai penguat kebekolo. Jenis tanaman ini banyak terdapat di NTT. Beberapa petani di Nualise, Ende sudah mulai menanam gamal pada barisan kebekolo.

Namun penanamannya kurang rapat sehingga pada saat kebekolo lapuk, barisan tanaman gamal tidak mampu menahan erosi Tanaman lain yang dapat digunakan sebagai penguat kebekolo adalah rumput pakan ternak, lamtoro, dan vetiver (akar wangi). Dengan berjalannya waktu, tanaman konservasi seperti rumput, vetiver atau legum akan membentuk teras yang dikenal sebagai teras kredit.

Terdapat info yang tidak kalah penting ialah bahwa pertanian yang berkelanjutan ternyata terdiri dari tiga pilar, ketiga pilar tersebut adalah Lingkungan, Sosial dan Ekonomi.

Lingkungan, supaya pertanian dapat “berkelanjutan” maka salah satu hal penting yang perlu dijaga ialah lingkungan. Teknik Kebekolo ini telah meliputi aspek manajemen kesuburan tanah, konservasi tanah, dan biodiversitas sehingga aman dan sehat bagi lingkungan.

Sosial, teknik Kebekolo telah menciptakan kerja sama antar petani, karena dengan diketahuinya teknik ini maka menjadi contoh bagi petani dalam menjaga aspek lingkungan dan petani memiliki wawasan.

Ekonomi, secara ekonomi teknik Kebekolo menguntungkan. Menguntungkan karena tidak mengeluarkan banyak biaya dalam menangani aspek lingkungan, justru teknik ini memiliki banyak manfaat, selain itu hasil panen dari tanaman budidaya dipastikan sehat karena awalnya telah memberlakukan sistem pertanian organik, sehingga kualitas hasil panen tidak diragukan, sehingga konsumen pun puas terhadap produk pertanian, apalagi produk pertanian organik nilai jualnya lebih tinggi dibanding produk non-organik.

Wujud Bela Negara yang terkandung dari earifan lokal Kebekolo ini adalah kearifan lokal pertanian organik karena menggunakan bahan-bahan dari alam sehingga pertanian dapat berkelanjutan karena salah satunya lahan (tanah) kesehatannya tetap terjaga melalui konservasi lahan. Menjaga Bumi dan Lingkungan merupakan bela negara setiap individu yang memiliki kesadaran bela negara akan mendukung upaya yang sistematis, terencana dan terpadu untuk melestarikan sumber daya energi yang ada di dalam negeri.

Kepedulian lingkungan dalam upaya penyelamatan ekologi dan kesadaran bela negara memang menjadi tugas setiap warga negara. Seorang individu yang hidup di lingkungan alam tertentu akan dipengaruhi oleh lingkungan tersebu. Pola kebiasaan (habits) dan perilaku (behaviours) yang peduli terhadap lingkungan merupakan peran sentral dari warga negara yang peduli terhadap lingkungan dan negara.

 

Penulis adalah Peserta Latsar CPNS Kemkominfo Angkatan 28

Komentar