oleh

Mencintai Kemanusiaan

-Opini-53 Dilihat

Oleh: Setyo Budiantoro

Sahabat baru saya, Fikri Dienan Assidiqi ini belajar Islamic Studies di Al Qasimia University, Uni Emirat Arab. Fikri juga jadi Ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI). Diskusi penuh semangat dengan Fikri, membuat saya terkenang kembali ketika aktif di PPI Den Haag, Belanda. Belajar ke luar negeri dengan semangat membangun negeri sendiri, membuat kerinduan dan kecintaan tanah air terus menebal. Bila mendengar lagu “Tanah Airku”, rasanya bergetar seluruh jiwa raga dan tak terasa air mata pun menggenang.

Kenangan saya merebak, terutama mengingat ketika menginisiasi bersama teman-teman membuat pertemuan PPI se-Eropa dengan tema lugas “Indonesia Masa Depan”. Salah satu yang memantik pemikiran ini, ketika suatu waktu saya menjadi narasumber pada acara peringatan kemerdekaan di Kedutaan Besar Indonesia di Belanda. Saya menyampaikan pemikiran menanggapi dokumen “Mapping the Global Future” dari pemerintah Amerika. Dokumen “Memetakan Masa Depan Global” itu adalah scenario planning tentang 4 skenario (multiple scenarios) yang akan terjadi pada dunia di masa depan.

Saya sangat familiar dengan pendekatan scenario planning, karena terlibat intens dalam penyusunan “Skenario Indonesia Masa Depan” pada awal-awal masa reformasi yang waktu itu difasilitasi Komnas HAM dan waktu itu pertama kalinya ketemu dengan Mbak Binny Buchori. Scenario planning pada prinsipnya adalah mengidentifikasi berbagai kecenderungan-kecenderungan besar (driving forces) yang akan terjadi di masa depan, lalu “mengimajinasikan” beberapa kemungkinan yang akan terjadi.

Dalam penyusunan skenario semua pihak terkait, baik yang pro dan kontra duduk bersama. Jadi, scenario planning ini bukanlah proyeksi linier tapi memetakan kemungkinan-kemungkinan apa yang akan terjadi di masa depan. Biasanya setelah ada pencerahan dari scenario planning, baru kemudian dilakukan berbagai perencanaan meng-create atau mengantisipasi masa depan dilakukan.

Pendekatan scenario planning ini sangat membantu Afrika Selatan keluar dari potensi konflik mengerikan pasca rezim apartheid. Transisi damai terjadi karena kesadaran bila balas dendam atas kebencian diskriminasi dilakukan, maka Afrika Selatan akan mengalami konflik kekerasan tak berujung dan keterpurukan bersama. Bila mata dibalas mata, semua akan buta. Di dunia bisnis yang sangat terkenal adalah ketika Shell menggunakan scenario planning berhasil mengantisipasi kemungkinan kebangkrutan, karena krisis minyak atau krisis-krisis lain di dunia.

Saya bersyukur karena dari diskusi di kedutaan itu memantik pemikiran banyak sahabat, untuk memikirkan “Indonesia Masa Depan” di Belanda. Namun sebelum berbagai persiapan kegiatan besar dilakukan, sayang saya harus pulang ke tanah air karena studi sudah selesai. Persiapan besar dilakukan teman-teman PPI Belanda untuk membuat konferensi PPI se-Eropa, saya hanya bisa mengikuti perkembangan secara virtual atau email. Teman-teman yang lead di Belanda waktu itu beberapa diantaranya Shiskha Prabawaningtyas dan Michael Putrawenas.

Ketika Konferensi Indonesia Masa Depan diselenggarakan di Belanda, saya turut diundang. Saya mengajak beberapa teman muda yabg memiliki komitmen tinggi pada kemajuan Indonesia, yaitu pentolan aktivis 1998 Savic Ali (kini Ketua PB NU), Melki Laka Lena (kini pimpinan di DPR, Komisi IX) dan dari kalangan nasionalis Dr Wahyuni Refi. Senang juga waktu itu bertemu dengan sahabat lama Najib Azca, Poppy Ismalina, Berly Martawardaya, dll. Tampaknya, kita perlu buat pertemuan sekali-kali ini memperingati 15 tahun acara tersebut dan merefleksikan apa yang terjadi sekarang.

Kembali ke sahabat baru saya Fikri yang belajar Islamic Studies dan Ketua PPI. Saya menyampaikan harapan padanya, greater power comes greater responsibility. “Power” bukan hanya berarti sempit kekuasaan pemerintahan/politik, “power” bisa berarti pula pengetahuan dan informasi, ini perlu dikabarkan. Uni Emirat Arab (UEA) adalah salah satu contoh bagus tentang Islam dengan keterbukaan dan kemajuan ilmu pengetahuan, ini perlu dikabarkan ke tanah air untuk inspirasi.

UEA adalah negara Arab pertama yang berhasil mencapai planet Mars. UEA hingga kini juga menjadi negara satu-satunya di dunia yang memiliki menteri di bidang Artificial Intelligence (AI). Bila kita mengenal musium hanya tentang masa lalu, di UEA adalah negara pertama di dunia yang memiliki Museum Masa Depan (Museum of the Future). Lalu, pembangkit listrik tenaga matahari terbesar dan paling efisien di dunia juga ada di UAE.

Ketika kami mengunjungi salah satu pusat artificial intelligence di Abu Dhabi yang memiliki salah satu superkomputer tercepat di dunia, mereka yang bekerja di situ dari berbagai suku bangsa. Ada yang dari China, India, Mesir, dll. Seorang profesor berasal dari Mesir, begitu impresif menjelaskan manfaat sophistikasi AI terhadap tubuh/kesehatan. Lalu ketika ada pertanyaan dengan begitu hebatnya dia, tentu banyak sekali pilihan untuk bekerja di berbagai negara (maju). Mengapa diantara begitu banyak pilihan, justru memilih ke Abu Dhabi.

Jawabannya, membuat saya begitu respek. Sebenarnya kemanapun tidak masalah menurutnya, karena yang paling penting adalah berkontribusi pada kemanusiaan (humanity). Itu yang utama. Lalu kenapa ke Abu Dhabi, dia memang sengaja memilih karena itu di negara Arab.

Kebudayaan Islam adalah kebudayaan ilmu pengetahuan. Pada abad pertengahan, berbagai intelektual Arab mengembangkan fondasi ilmu pengetahuan melalui matematika dan astronomi. Ilmu pengetahuan modern itu, lalu dikembangkan Eropa mulai abad 15. Hal itu, dijelaskan di Museum Louvre di Abu Dhabi.

Ilmu pengetahuan modern lalu terus berkembang di Eropa dan Amerika. Puncak ilmu pengetahuan seperti kita tahu, diselebrasikan melalui penerimaan Nobel Ilmu Pengetahuan. Eropa dan Amerika adalah pusat penerima hadiah Nobel Ilmu Pengetahuan. Sebaliknya, dari Arab yang menjadi perintis ilmu pengetahuan justru sangatlah jarang.

Saya menangkap passion professor yang berasal dari Mesir itu demikian, mencoba mengangkat kembali semangat pengembangan ilmu pengetahuan untuk disumbangkan pada kemanusiaan, dari negara Arab. Wow, professor ini mulia sekali. Saya sempat menemui sebentar dan menyampaikan respek yang begitu dalam kepadanya. Orang-orang yang memperjuangkan kemanusiaan (entah berbagai bidangnya), saya anggap sebagai sahabat dan teman seperjalanan.

Untuk menjadi “besar”, kita harus “melampaui” primordialitas kita. Entah itu identitas ras, suku, agama, golongan, dll. Bila kita hanya memperjuangkan diri kita sendiri atau kelompok kita sendiri, artinya kita hanya mengkerangkeng diri sendiri. Dalam catatan besar sejarah, mereka yang besar adalah mereka yang mampu melampaui itu dan teguh dalam memperjuangkan hal yang lebih besar, dari hanya sekedar dirinya sendiri atau kelompoknya.

Selain itu, tidak mungkin persoalan besar dunia hanya dilakukan oleh satu kelompok saja. Justru kini tantangan menyelamatkan dunia adalah seberapa jauh kita bisa bekerja sama. Kita belajar banyak dari mengatasi pandemi covid yang melanda dunia dan kini tantangan perubahan iklim. Tanpa kerja sama atau bahkan terjadi konflik, semua akan menderita. Game theory disini berlaku dan kuncinya adalah terus memupuk trust, saling percaya dan bekerjasama. Tidak ada jalan lain.

Komentar

Jangan Lewatkan