oleh

Meneropong Ketidakadilan sebagai Racun Kebersamaan

-Opini-182 Dilihat

(Sebuah Catatan Reflektif atas Tema Pertemuan II Bahan BKSN 2022)

Oleh: Frater Jhoni Lae

Catatan Awal

Kita sedang berada pada bulan september. Pada bulan ini Gereja Katolik Indonesia, secara istimewa mendedikasikannya untuk menghormati serentak mengakrabi sabda Allah sebagai sabda yang menghidupkan.

Tema Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN) pada tahun ini adalah “Allah Sumber Harapan Hidup Baru”. Tema ini tentu berangkat dari satu pertimbangan eksistensial tentang keberadaan manusia yang tidak pernah terhindarkan dari apa yang dinamakan problem. Sebut saja cCovid-19 yang hingga kini masih terus menjadi momok yang menakutkan dan masih banyak problem lain yang juga ikut memberikan sumbangan keperihan dan kepahitan kepada manusia.

Dalam kenyataan demikian, titik terang untuk manusia adalah tentang bagaimana manusia itu bisa terus menjaga pengharapannya agar tak dapat surut. Dan pengharapan itu haruslah kepada Allah.

Tema besar ini kemudian dielaborasi ke dalam empat subtema yakni Allah Sumber Harapan Untuk Mentalitas Keagamaan (Am. 5:4-6), Allah Sumber Harapan Untuk Melawan Ketidakadilan (Am. 5:14-17), Allah Sumber Harapan Karena Kasih Setia-Nya (Hos. 6:1-6) dan Allah Sumber Harapan karena Kasih Setia-Nya (Hos. 11:1-11).

Kebersamaan itu Harus Harmonis

Manusia secara hakiki merupakan makhluk sosial. Hal ini menunjukkan bahwa eksistensi manusia itu juga dibentuk karena hadirnya “aku, aku yang lain”. Dalam dan melalui kehadiran “aku, aku yang lain”, manusia bisa bereksistensi secara baik dan benar.

Kehidupan bersama atau kebersamaan tentu bukanlah hal yang mudah. Hal ini dikarenakan dalam kebersamaan terdapat keanekaragaman pikiran, parasaan dan lain-lain yang kerapkali memicu problem. Sebab itu masalah-masalah yang timbul banyak kali menjauhkan nada dasar dari kebersamaan itu sendiri yakni keharmonisan. Padahal secara imperatif, kebersamaan itu haruslah menjadi ruang tempat orang menemukan kehamonisan, bukan sebaliknya.

Absennya keharmonisan dalam suatu kebersamaan semisal kebersamaan dalam satu lembaga pendidikan, hanya akan menjadikan lembaga tersebut sebagai ruang untuk saling membenci, menggosip atau saling mencurigai. Hal ini tentu sangat memprihatinkan bila kita bercermin kembali kepada tujuan hadirnya lembaga tersebut. Sebab itu, adalah satu keharusan bahwa kebersamaan itu harus diupayakan sedemikian rupa sehingga terciptanya keharmonisan.

Ketidakadilan sebagai Racun Kebersamaan

Ketidakadilan selalu menciptakan penderitaan, sedangkan keadilan selalu menciptakan kehidupan yang baik dan keharmonisan. Keadilan merupakan perwujudan dari relasi yang baik dengan Tuhan, sedangkan ketidakadilan merupakan perwujudan dari sikap egosentris.

Ketidakadilan hadir sebagai racun yang mematikan kebersamaan. Ketidakadilan menjadikan kebersamaan tidaklah harmonis melainkan selalu berada dalam situasi tegang dan mencemaskan. Realitas demikian tentu sangat memprihatinkan sebab hal yang semestinya diusahakan dalam kehidupan bersama adalah keadilan bukan ketidakadilan. Seorang pemimpin yang tidak adil akan menjadi racun bagi mereka yang dipimpinnya.

Ketidakadilan menjadi sikap yang tidak mendapat tempat di hati Tuhan. Contoh kecil sikap ketidakadilan seperti mengambil barang yang bukan menjadi haknya atau mengeksploitasi tenaga kerja demi keuntungan diri sendiri tanpa memperhatikan kesejahteraan para pekerja, dan masih banyak contoh lain yang biasa kita temukan dalam kehidupan kita setiap hari. Tanpa disadari realitas ketidakadilan itu adalah racun yang menjauhkan keharmonisan dalam kehidupan bersama.

Pada pertemuan kedua bahan Katekese Bulan Kitab Suci Nasional tahun ini, tema Allah Sumber Harapan Untuk Melawan Ketidakadilan sekiranya bisa memberikan pencerahan tentang pentingnya keadilan dalam kehidupan bersama. Tuhan sebagai sumber harapan kiranya juga menjadi andalan setiap orang untuk menumpas orang-orang yang selalu bersikap tidak adil, yang selalu menghadirkan racun dalam kehidupan bersama.

Ketidakadilan mesti dihindarkan dalam kehidupan bersama supaya apa yang dinamakan keharmonisan bisa tampak dalam kebersamaan. Sebab kalau ketidakadilan masih ada dalam kebersamaan tentu keharmonisan juga akan absen.

Memelihara Harapan

Menjaga api harapan agar tetap bernyala dalam hati merupakan satu titik terang untuk menumpas orang-orang yang bersikap tidak adil. Segala sesuatu bisa terjadi, asal punya keinginan yang kuat untuk melakukannya.

Kita adalah nabi Amos masa kini yang diutus untuk memberantas ketidakadilan. Oleh karena itu, mari terus merawat harapan kita bahwa bersama dan dalam Dia manusia-manusia “racun” itu bisa dikalahkan.

 

Penulis adalah Mahasiswa Tingkat V di Seminari Tinggi Santo Mikhael Penfui Kupang

Komentar