oleh

Merah Putih: Eksistensi Eksklusif yang Perlu Dihargai Bukan Dirusaki!

-Opini-553 views

Oleh: Yosefino Rhiti Reda

Bangsa Indonesia merupakan bangsa majemuk yang terdiri dari berbagai suku bangsa, agama dan bahasa. Sebagai bangsa yang majemuk bangsa Indonesia memiliki alat pemersatu yang mempersatukan satu dengan yang lain. Pancasila menjadi “Payung” pemersatu perbedaan antara satu dengan yang lainnya. Pancasila juga menjadi produk hukum yang kuat dan sakti untuk menyatukan bangsa Indonesia dengan butir-butir sila yang saling mengisi dan menjiwai. Pancasila sebagai Dasar Negara Indonesia bagi Soekarno sendiri sebenarnya lahir dari penggalian nilai-nilai luhur yang telah hidup dalam diri bangsa Indonesia sebagai Weltenshaung (pandangan hidup). Segala kemajemukan yang ada dalam diri bangsa indonesia, yang telah disatukan di bawah “Payung Pancasila” sebagai dasar negara esensinya menjadi satu dari beberapa identitas Nasional yang dimiliki oleh bangsa ini.

Eksistensi Pancasila sebagai Kepribadian Nasional menjadi sumber utama kristalisasi dari pandangan hidup dan kepribadian bangsa, sehingga  di dalamnya terangkum dan terbentuk nilai-nilai dasar yang menjadi identitas bangsa Indonesia. Semua identitas-identitas yang dimiliki, menjadikan bangsa Indonesia unik dari bangsa-bangsa lain. Dari keunikan-keunikan yang dimiliki maka terbentuklah sebuah jati diri bangsa yang esensinya beranekaragam. Faktor-faktor pembentuk identitas Nasional bangsa ini ialah, suku bangsa, agama, bahasa, budaya Nasional, wilayah Nusantara, dan Ideologi Pancasila.

Identitas Nasional tidak semata-mata dibentuk berdasarkan kemauan atau keinginan orang-orang atau pihak tertentu, melainkan dari proses perjalanan  panjang sejarah yang memiliki unsur-unsur kesamaan sejarah, kebudayaan masyarakat yang tidak dimiliki oleh bangsa lain. Karakter unik dari bangsa yang menyangkut core values (nilai dasar/fondasi) dan nilai-nilai yang berakar pada filosofi Pancasila menjadi dasar pembentukan ciri utama Identitas Nasional Bangsa Indonesia seperti, Bahasa Nasional, Bendera Nasional, Lagu Kebangsaan, Lambang Negara, Simbol Negara, Dasar Falsafah Negara, Konstitusi Negara, Bentuk Negara dan Bentuk Pemerintahan, Konsep Wawasan Nusantara, dan Kebudayaan.

Defenisi “Merah yang adalah Berani dan Putih yang adalah Suci” merupakan perpaduan dua warna yang kemudian menjadi Bendera Kebangsaan Indonesia, yang merupakan salah satu bentuk dari karakter unik bangsa Indonesia  atau lebih dikenal dengan istilah Identitas Nasional. Bendera Merah Putih mengandung sejarah yang panjang  sebelum disebut sebagai jati diri bangsa Indonesia. Bendera Merah Putih juga memiliki sebutan lain diantaranya, Bendera Pusaka, Sang Saka Merah Putih, Sang Merah Putih, Merah Putih atau Sang Dwi Warna (dua warna).

Eksistensi Bendera Merah Putih sebagai bentuk, simbol, atau Identitas Nasional bangsa Indonesia esensinya juga diatur dan oleh Undang-undang (UU) Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lembaga Negara, serta Lagu Kebangsaan. Eksistensi Bendera Merah Putih esensinya adalah eksklusif, tapi dalam realitas merupakan relevansi dengan bentuk atau simbol negara lainnya, yang kemudian menjadi karakter unik bangsa Indonesia yang membedakannya dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Bendera merah putih merangkum nilai-nilai kepahlawanan, patriotisme, dan nasionalisme.

Dalam realitas  yang terjadi, fenomena pelanggaran atau penghinaan terhadap Bendera Merah Putih tidak asing lagi didengar. Praktek pelanggaran terhadap Bendera Merah Putih seakan-akan menjadi suatu kebudayaan dan kebiasaan yang tendensi sulit untuk tidak dilakukan dalam realitas kehidupan bangsa ini. Bendera Merah Putih seolah-olah dibuat seperti layaknya kain-kain biasa tanpa makna dan sejarahnya yang jelas. Salah satu kasus pelanggaran terhadap Bendera Merah Putih yang fenomenal dan yang menjadi Tranding topik ialah ditemukannya Bendera Merah Putih yang dipenuhi dengan coretan-coretan gambar palu arit khas Partai Komunis Indonesia (PKI). Selain palu arit, juga terdapat gambar bulan bintang, salib, bintang segilima, dan tulisan “Aku tak butuh bendera ini”, “Yang Kuinginkan Hanya Kemerdekaan”.

Ini merupakan sesuatu yang menyedihkan yang terjadi di Bumi Pertiwi ini. Sekelompok orang dengan sewenang-wenang melakukan kejahatan radikalisme yang bertujuan agar Ideologi Pancasila diubah menjadi ideologi komunis. Pancasila yang menjadi dasar dan ideologi bangsa Indonesia seenaknya diancam oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Pengerusakan dan penghinaan terhadap Sang Saka Merah Putih merupakan salah satu kejahatan dari kejahatan-kejahatan lainnya yang ingin merusak bangsa ini. Eksistensi Bendera nasional Indonesia yang disebut Sang Saka Merah Putih mengandung sejarah yang panjang mulai dari asal usulnya hingga kini. Oleh karena merupakan identitas nasional, Bendera Merah Putih tidak dapat digunakan seenaknya dengan fungsi dan tujuan tertentu.

Bendera merah putih merupakan salah satu bentuk dan simbol negara yang perlu dihargai bukan dirusaki. Bendera Nasional Indonesia merupakan manifestasi historis yang menjadi ciri khas bangsa, yang perlu dan wajib untuk dihormati dan bukan dikhianati. Masih banyak kasus-kasus yang sering terjadi di negara ini yang menunjukan bentuk penghinaan terhadap Bendera Merah Putih” diantaranya ialah, pembakaran Bendera yang kemudian viral di aplikasi tik tok, seorang perempuan yang menghina Pancasila yang adalah dasar negara dan kemudian menginjak Bendera Merah Putih, perilaku yang tidak bertanggung jawab oleh pihak-pihak tertentu yang menjadikan Bendera Merah Putih seperti halnya selembar kain biasa yang kemudian digunting-gunting tanpa ada sikap nasionalisme dan patriotisme serta menyadari kedudukan dari Bendera Merah Putih, dan Bendera Merah Putih yang disikat dengan menggunakan sikat WC. Ini merupakan suatu tindakan yang sangat-sangat menyedihkan yang terjadi di negara ini.

Kebiasaan-kebiasaan buruk menjadi habitus yang terus dilakukan tanpa disadari konsekuensi atau penyebab yang terjadi kedepannya. Disorientasi hidup hanya berdasarkan perilaku-perilaku atau sikap egosentrisme yang tinggi tanpa ada kesadaran utuh dari apa yang dilakukan, apakah perbuatan yang dilakukan itu baik atau tidak, dapat merugikan suatu negara atau tidak. Sikap menjunjung tinggi nilai-nilai kebangsaan menjadi suatu hal yang aneh untuk tidak dilakukan. Dalam hal sikap terhadap Bendera Merah Putih, kebanyakan pihak-pihak tertentu malu untuk menghormati Bendera Merah Putih pada saat upacara-upacara bendera atau upacara 17 Agustus, yang diperingati sebagai hari Kemerdekaan Bangsa Indonesia.

Pengakuan atas kedudukan tertinggi dari Bendera menjadi sesuatu yang tidak dapat dilakukan karena merasa malu dan gensi. Lebih mengerikan lagi kejadian-kejadian tersebut biasanya terjadi dan dilakukan oleh para  aparatur negara. Status pekerjaan yang dimiliki hanyalah sebuah formalitas belaka, yang sebenarnya sikap dan tindakan jauh dari tujuan dan keinginan yang akan dicapai. Pakaian jas berdasi hanyalah simbol strata yang dimiliki yang esensinya tanpa ada sikap kebangsaan yang jelas. Pancasila yang adalah ‘Payung’ persatuan dan kesatuan bangsa ini dibuat seperti sebuah ideologi tanpa ada dasar dan nilai-nilai di dalamnya.

Fenomena kasus-kasus penghinaan terhadap Bendera Nasional Indonesia mestinya diperhatikan secara  lebih tegas lagi. “ Eksistensi Bendera Merah Putih yaitu untuk Dihargai bukan Dirusaki” harus dipahami dengan sungguh-sungguh. Keberadaan Bendera Merah Putih mestinya dihormati bukan untuk dikhianati. Para pemerintah negara dengan segala peraturan dan produk hukum yang telah dirancang sedemikian rupa, seharusnya menjadi teladan bukan pengkhianat. Keberadaan Bendera Merah Putih bukanlah suatu simbol yang seenaknya dibuat menurut ego dan kemauan sendiri. Peraturan-peraturan hukum yang ada harus menjadi alat pemberantas terhadap kasus-kasus kejahatan yang menghina Pancasila sebagai payung yang mempersatukan Bendera Merah Putih dan simbol atau bentuk negara lainnya.

Para pemerintah hendaknya mempunyai kesadaran yang tinggi atas fenomena kasus-kasus yang terjadi, agar bangsa Indonesia tetap eksis adanya. Harus ada sanksi yang keras terhadap warga negara atau pihak manapun yang kedapatan menodai, menghina, dan merendahkan Bendera Negara. Masalah-masalah seperti ini  harus cepat ditindaklanjuti oleh para aparatur penegak hukum bangsa ini, karena kalau dibiarkan terus-menerus akan menjadi sebuah habitus yang pelan-pelan akan merusak dan menghancurkan kedaulatan negara Indonesia. Para pemerintah seharusnya menjadi motor penggerak persatuan dan bukan perusak yang menjadi pelopor atau pelaku kejahatan bangsa ini.

Tindakan-tindakan atau praktek yang dapat dilakukan ialah dengan cara meneguhkan dan mengaktualisasikan kembali nilai-nilai budaya bangsa yang diyakini mampu meningkatkan semangat kebangsaan, contohnya seperti membudayaan upacara bendera, dan menanamkan nasionalisme serta patriotisme,sehingga masyarakat dengan sendirinya mempertahankan Identitas Nasional karena kecintaannya terhadap tanah air Indonesia. Sebagai manusia Pancasilais (terlebih khusus para generasi muda),  setiap orang perlu menyadari akan nilai-nilai dan Eksistensi Bendera Nasional sebagai simbol dan bentuk serta jati diri bangsa Indonesia yang perlu dihargai dan bukan dirusaki.

Sebuah bangsa akan menjadi kokoh kuat kalau setiap manusia di dalam wilayah itu berperan sebagai “protector” dari ancaman-ancaman luar dan bukan “bandit” yang membawakan kehancuran. Sebagai generasi muda penerus bangsa, setiap orang mesti mempunyai aspek kognitif yang baik  untuk memahami semua nilai-nilai yang ada dalam diri Pancasila yang adalah payung bagi simbol dan bentuk-bentuk negara, agar bumi Pertiwi ini tidak menjadi satu tempat incaran yang terus ditakuti dan diancam oleh para criminal yang berusaha untuk mengubah ideologi Pancasila. Kesadaran bahwa pribadi adalah penangkal dari segala ancaman-ancaman yang merusak kedaulatan bangsa, hendaknya ditanam sejak dini dan terus dipupuk dalam diri setiap orang.

 

Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandira Kupang (Seminari Tinggi Santo Mikhael-Penfui)

Komentar