oleh

Membangun Akar Kreativitas dengan Menulis

Komunitas Kampung Berliterasi mengadakan kelas menulis kreatif secara virtual melalui zoom pada Kamis, 18 Maret 2021. Kegiatan ini menjadi sesi kedua kelas komunitas yang melibatkan 54 pegiat literasi dari seluruh Nusa Tenggara Timur. Dalam sesi ini, Gloria Fransisca Katharina Lawi sebagai pemateri memaparkan konsep-konsep tentang menulis kreatif untuk branding dan campaign.

Di awal materinya, Gloria mengutip pendapat Pramoediya Ananta Toer tentang menulis sebagai pekerjaan untuk keabadian. “Menulis adalah dasar komunikasi. Menulis seharusnya adalah kegiatan yang setara dengan aktivitas pokok misalnya makan. Penulis tidak akan pernah mati. Artinya, hasil tulisan kita akan bisa kita wariskan ke generasi selanjutnya dan kita “tidak akan benar-benar mati”, kata content caretaker MOSI.ID ini.

Gloria menambahkan, menulis menjadi sebuah branding. Untuk membentuk branding itu, menulis menjadi dasar sebelum memulai branding diri sampai menciptakan branding usaha dan komunitas. Branding diri melalui tulisan perlu diasah dengan kebiasaan menulis kreatif. Kreativitas harus menjadi kebiasaan hidup, bukan sekadar tuntutan pekerjaan dan tanggung jawab. Inilah mengapa untuk memulai menulis kreatif penting untuk membangun kebiasaan “peka” dalam “menstimulus diri” untuk selalu mendorong kebiasaan kreatif.

Lebih lanjut, Mantan Reporter Koran Bisnis Indonesia ini memberikan beberapa tips mencari ide orisinal untuk branding dan campaign. Pertama, refleksikan pengalaman. Menulis paling mudah untuk membentuk branding dan campaign diawali dengan menulis pengalaman harian. Menulis pengalaman dengan baik adalah fondasi untuk memulai kebiasaan riset dan berpikir kreatif. Menulis pengalaman juga adalah bentuk pekerjaan meriset karena dimulai dengan kemampuan membaca konteks, membangun animo pembaca dan membuat tulisan lebih personal bagi si pembaca dan penulis.

Kedua, refleksi mendorong emosi. Menulis dengan mengutamakan bahan utama ‘refleksi’ berarti kita memilih diri menulis dengan emosi. Unsur emosi ini penting karena lebih memikat pembaca, mempercepat branding dan memudahkan strategi campaign ke depan. Ketiga, kebiasaan cerpenting. Cerpenting (cerita tidak penting) atau disebut dengan storytelling adalah strategi menulis yang efektif memikat pembaca. Keempat, menciptakan power melalui emosi. Kalimat dengan emosi yang positif membuat seseorang merasa senang membagikan, share di media sosial ketimbang kalimat yang provokatif. Kalimat yang positif juga cenderung lebih “harmless” tidak mudah diberikan kritik sehingga lebih mudah dalam melakukan manajemen followers.

Kelima, rima. Rima menjadi penting untu membangun loyalitas dan kemudahan pembaca menyelaraskan bacaan. Selain rima juga ada rumus 3P + 1K yaitu Pengalaman, pengamatan, pengemasan, dan karakterisasi. Keenam, editing. Hal ini penting untuk melihat kembali isi tulisan sebelum diposting di akun media sosial.

Dalam sesi diskusi, seorang peserta atas nama Damianus Hambur, pegiat literasi dari Manggarai Timur menanyakan kepada Gloria mengenai halangan besar dalam menulis yaitu ketidakpercayaan diri. Berkaitan dengan pertanyaan ini, Gloria menjelaskan bahwa ketidakpercayaan diri seringkali menjadi halangan dalam menulis. Salah satu cara agar percaya diri ialah kembali ke dalam diri untuk melihat alasan utama apakah karena kekurangan bahan menulis atau susunan ide belum tersistematis.

Menurut Gloria, cara paling mudah dalam menghasilkan tulisan yaitu kita perlu mengendapkan tulisan kita selama beberapa hari untuk mengambil jarak dan memberikan ruang untuk kita memberikan evaluasi terhadap tulisan kita. Di akhir diskusi, Gloria mengajak semua peserta kelas komunitas untuk terus mengasah kemampuan menulis. Menulis kreatif perlu dibarengi dengan kebiasaan kreatif pula. Kebiasaan kreatif itu antara lain membekali diri dengan membaca dan menulis pengalaman harian setiap hari.

Tentang Kelas Komunitas dan Kampung Berliterasi

Kelas Komunitas adalah agenda awal Kampung Berliterasi yang memfasilitasi kaum muda Nusa Tenggara Timur untuk meningkatkan softskill dalam mengelola komunitas di daerahnya. Adapun Kampung Berliterasi memiliki visi untuk menjadi wadah yang mempertemukan setiap penggerak komunitas agar dapat saling berbagi, berjejaring, dan mendukung untuk menjaga keberlanjutan dari setiap gerakan baik yang sudah dimulai.

Saat ini Kelas Komunitas diadakan terbatas untuk 40 orang, Peserta akan mengikuti kelas yang terdiri atas 7 sesi dengan materi yang beragam, di antaranya Menulis Kreatif, Coaching, Community Development, dan Pengelolaan Media Sosial. Pasca pelatihan, peserta diajak untuk mengimplementasikan ilmu yang didapatkan ke komunitas masing–masing dengan adanya pendampingan dari para mentor yang sudah diajak berkolaborasi.

Info lebih lanjut tentang Kampung Berliterasi dapat dilihat melalui media sosial instagram @kampung_berliterasi. Kampung Berliterasi sangat terbuka pada kegiatan kerja sama dan kolaborasi yang berfokus pada pembangunan berkelanjutan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia.

 

Oleh: Yohanes De Brito Nanto/Pegiat Komunitas Kampung Berliterasi

Komentar

Jangan Lewatkan