oleh

Fakultas Ilmu Linear versus Fakultas Inovasi Transdisiplin

-Pendidikan-318 Dilihat

Sistem pendidikan Indonesia masih bangga dengan Linear Thinking dan mengkotak-kotak-an ilmu pengetahuan dan teknologi, serta mengembangkan linearitas ilmu, maka di negara-negara maju, sistem pendidikannya telah mengembangkan pendekatan Non Linear Thinking (Systemic Design Thinking) agar menciptakan inovasi transdisiplin dalam ilmu pengetahuan dan teknologi. Universitas Teknologi Sydney di Australia bahkan telah memberikan kesempatan kepada siapa saja yang memenuhi kualifikasi persyaratan untuk belajar sampai tingkat Ph.D dalam Fakultas Inovasi Transdisiplin (Faculty of Transdiciplinary Innovation).

Apa itu Fakultas Inovasi Transdisiplin?

Dalam Fakultas Inovasi Transdisiplin, dikembangkan berbagai pengajaran dan penelitian transdisipliner yang mengacu pada berbagai disiplin ilmu untuk memberikan basis pengetahuan kuat dan mendalam agar pembelajar mampu menyelesaikan masalah-masalah kompleks dalam masyarakat berdasarkan pendekatan Inovasi Disrupsi (Disruptive Innovation), yang disebut Inovasi Transdisiplin (Transdisciplinary Innovation).

Model pembelajaran inovasi transdisiplin ini tidak lagi mengenal Jurusan A, Jurusan B, apalagi Konsentrasi A1 dalam Program Studi A, Konsentrasi B1 dalam Program Studi B, dst. Tidak ada lagi model pembelajaran yang mengikuti kurikulum dan silabus kaku seperti di Indonesia. Seseorang yang belajar pada Fakultas Inovasi Transdisiplin (Faculty of Transdisciplinary Innovation) ini bersifat personal dan dapat menyusun atau memilih sendiri mata kuliah apa saja yang tersedia dan ditawarkan di seluruh Universitas Teknologi Sydney. Pembelajar berkonsultasi dengan penasehat akademik, kemudian bebas mengembangkan disiplin ilmu yang diinginkan oleh si pembelajar, bekerja sama dengan para pengajar yang ahli dalam disiplin ilmu yang dipelajari berdasarkan hasrat pembelajar itu agar menjadi seorang yang juga akan menjadi ahli yang mengembangkan inovasi transdisiplin di berbagai bidang kehidupan, dan mampu menyelesaikan masalah-masalah kompleks dalam masyarakat.

Bagi mereka yang berpikir linear seperti kebanyakan orang di Indonesia, model pembelajaran ini akan terasa aneh. Tetapi itulah inovasi disrupsi (disruptive innovation) yang sedang dan akan terjadi dalam pendidikan tinggi global di dunia.

Sesungguhnya pada tahun 1988 ketika saya mengikuti Program S3 Teknik dan Manajemen Industri di ITB, Promotor saya yang merupakan bapak pendiri teknik industri di Indonesia, Alm. Prof. Matthias Aroef, Ph.D telah menerapkan model pembelajaran inovasi transdisiplin ini kepada saya. Pertama kali model seleksi bagi saya adalah diwawancarai langsung oleh Prof. Matthias Aroef. Ketika disepakati bahwa topik disertasi saya adalah berkaitan dengan Productivity and Quality di Indonesia dengan pembandingnya adalah negara yang belum maju ketika itu yaitu: Korea Selatan, maka saya diijinkan menyusun sendiri semua mata kuliah yang mendukung penelitian disertasi dalam topik Productivity and Quality itu. Karena saya memang pada dasarnya ingin menjadi seorang ahli dalam Productivity and Quality, bukan sekedar memperoleh gelar Doktor (Dr) dari ITB, maka ia tidak mau lagi memilih mata kuliah yang telah diketahuinya, seperti metode kuantitatif dan statistika, ekonometrika, dll; karena ia telah belajar pada program magister statistika terapan di IPB Bogor. Semua mata kuliah yang berhubungan dengan teknik sistem dan manajemen industri yang akan mendukung penelitian disertasinya yang dipilih untuk dipelajari secara serius.

Model pembelajaran ini yang diterapkan pada Fakultas Inovasi Transdisiplin (Faculty of Transdisciplinary Innovation) di Universitas Teknologi Sydney (UTS) sekarang ini. Dengan demikian lulusan dari Fakultas Inovasi Transdisiplin ini bisa saja seperti saya yang berlatar belakang Pendidikan S1 Peternakan dan S2 Statistika Terapan menjadi seorang ahli dalam bidang Teknik Sistem dan Manajemen Industri, dengan spesialisasi Productivity and Quality Engineering and Management.

Bagi yang berpikir linear, memang model pendidikan dan pembelajaran inovasi transdisiplin (transdisciplinary innovation) yang mengembangkan non linear thinking ini akan terasa aneh. Tetapi itulah perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi masa kini yang akan mendisrupsi model pendidikan dan pembelajaran usang (mengembangkan FIXED Mindset dan linear thinking) yang masih dikembangkan di perguruan tinggi Indonesia. Pilihan ada pada masyarakat, mau menekuni untuk belajar pada Fakultas Ilmu Linear yang kaku dalam hal kurikulum dan isinya (content) atau Fakultas Inovasi Transdisiplin yang sedang dan akan terus berkembang dalam era industry 5.0 dan masyarakat 5.0 yang berfokus pada solusi masalah-masalah kompleks dan penciptaan nilai (value creation) bagi masyarakat itu?

Bagi yang berminat belajar pada Level S2 maupun S3 di Faculty of Transdisciplinary Innovation Universitas Teknologi Sydney (UTS), silakan mengunjungi website berikut.
https://www.uts.edu.au/future-students/transdisciplinary-innovation

Kita tidak akan menemukan daftar kurikulum mata kuliah beserta SKS setiap semester, karena kita harus berkonsultasi dengan penasehat akademik dan bebas memilih semua mata kuliah apa saja yang ditawarkan oleh UTS, sesuai bidang penelitian yang berkaitan langsung dengan Thesis S2 atau Disertasi S3. Model Pendidikan dan Pembelajaran Inovasi Transdisiplin ini benar-benar hanya ditawarkan kepada mahasiswa mandiri yang mampu mengubah paradigma berpikir menjadi Non Linear Thinker dan tidak disarankan bagi mereka yang hanya mencari gelar S2 maupun S3 secara mudah, apalagi mahasiswa yang masih membutuhkan harus disuapi dan dibujuk oleh dosen seperti “bayi” baru mau belajar. Tidak ada tempat bagi linear thinker maupun mahasiswa yang bergantung 100 persen pada dosen untuk belajar pada Fakultas Inovasi Transdisiplin ini. Fakultas Inovasi Transdisiplin ini juga menawarkan program S1 (Undergraduate Program). Ini benar-benar belajar sesuai minat dan bakat mahasiswa, bukan terpaksa belajar berdasarkan kurikulum dan silabus yang kaku. Pengembangan Fakultas Inovasi Transdisiplin ini benar-benar belajar ilmu pengetahuan dan teknologi tanpa batas, tanpa sekatan-sekatan dengan nama Jurusan A, Konsentrasi B, dst.

 

Oleh: Vincent Gaspersz

Komentar