oleh

Ansy Lema Ingatkan Bahaya Radikalisme dan Intoleransi kepada Ratusan Mahasiswa

-Politik-690 views

RADARNTT, Kupang — Yohanis Fransiskus Lema (Ansy Lema) Anggota DPR RI Fraksi PDI Perjuangan mengingatkan bahaya radikalisme dan intoleransi terhadap keutuhan negara.

Hal ini disampaikan Ansy Lema kepada ratusan mahasiswa Politani Kupang dalam rangka kegiatan Sosialisasi 4 Pilar Kehidupan Berbangsa dan Bernegara (Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika dan NKRI), yang dilaksanakan di Ruang Student Center Politani Kupang, Rabu, (12/2/2020).

Ansy Lema mengungkapkan bahwa survei menunjukkan adanya perkembangan warga negara Indonesia yang terpapar radikalisme. Bahkan, tidak hanya menyasar masyarakat bawah, agenda radikalisme juga telah bersarang di kalangan masyarakat terpelajar, termasuk dunia kampus.

“Radikalisme kini telah menyerang kaum terpelajar, termasuk dunia kampus. Survei Setara Institute tahun 2019 menemukan banyak dosen dan mahasiswa 10 perguruan tinggi negeri terkemuka terpapar radikalisme. Survei UIN Jakarta menyebut 33% guru setuju diadakan perang untuk pendirian negara Islam. Bahkan, survei mencatat radikalisme dan penolakan kepada Pancasila beredar di kalangan PNS dan TNI, yakni 19,4% PNS (2017), dan 3% TNI (2019),” papar anggota Komisi IV DPR RI tersebut.

Karena itu, Ansy mengajak para mahasiswa untuk menjaga Pancasila dari ancaman, sekaligus mewujudkan Pancasila dalam hidup sehari-hari. Apalagi, penyebaran radikalisme cenderung lebih mudah menyasar para pemuda ataupun  pelajar.

“Ancaman radikalisme dan intoleransi kepada para pemuda atau pelajar itu nyata. Tahun 2019, jumlah pelajar yang setuju Jihad dan Negara Islam mencapai 23,4 %. Tahun yang sama, terdapat 21 % pelajar menilai Pancasila tidak lagi relevan. Apalagi, hampir mayoritas pelajar menggunakan internet atau media social. Media sosial seperti Facebook, Instagram, dan Twitter memiliki algoritma yang dengan sengaja mengkategorisasi preferensi dan mengulanginya berulang-ulang. Potensi terpapar pun jadi lebih mudah jika tidak ada sikap selektif-kritis,” ujar Ansy.

Oleh karena itu, Ansy Lema mengapresiasi langkah pemerintah yang memutuskan untuk tidak memulangkan 600 pengikut ISIS ke Indonesia. Sebab mereka adalah ancaman bagi keutuhan NKRI.

Dalam hal ini, pemerintah harus memberikan rasa aman bagi 264 juta penduduk Indonesia. Berbagai virus radikalisme dan intoleransi yang mengganggu dasar negara Pancasila harus diberantas.

Ansy Lema menyatakan sejak dicetuskan Bung Karno pada 1 Juni 1945, Pancasila telah menjadi pandangan hidup, falsafah dasar, dan pemersatu bangsa yang bhinneka ini.

Maka dari itu, para mahasiswa sebagai generasi masa depan bangsa harus berada di garda terdepan mempertahankan Pancasila dari ancaman, sekaligus mewujudkan Pancasila dalam hidup sehari-hari.

Ansy pun menyatakan upaya mahasiswa menjaga Pancasila dapat dilakukan dengan menggiatkan literasi Pancasila, mencintai budaya dengan membentuk UMKM berbasis kearifan lokal, berorganisasi untuk latihan dialektika dan kepemimpinan, serta terlibat dalam KKN atau gerakan sosial.

“Tetapi, untuk adik-adikku mahasiswa Politani, saya punya harapan besar untuk mewujudkan Pancasila dalam sektor pertanian. Karena saya tahu Politani memiliki para dosen dan mahasiswa yang pakar di sektor pertanian. NTT sangat membutuhkan regenerasi petani milenial, serta inovasi dan kreasi di bidang pertanian. Khususnya, saya mengharapkan gagasan dan keterlibatan adik-adik untuk mencari solusi pemanfaatan lahan kering di NTT. Saya yakin pembangunan sektor pertanian merupakan kunci utama pengentasan kemiskinan di NTT,” pungkasnya. (ND/RN)

Komentar

Jangan Lewatkan