oleh

Geopolitik Kota Kupang

-Politik-387 views

Setiap saat dalam perjumpaan dengan banyak kalangan, sering ada pertanyaan begini. Ade/kakak/saudara serius mau maju di Pilkada Kota 2024? Saya biasanya menjawab singkat, saya serius. Kemudian muncul pertanyaan lagi, mau nomor satu atau nomor dua? Secara diplomatis saya katakan kalau bisa nomor satu mengapa harus nomor dua. Politik itu berdinamika. Ada ideal politik tetapi ada real politik. Makanya harus ‘ikut bermain’ supaya bisa merasakan dinamikanya.

Pertanyaan-pertanyaan di atas memicu saya untuk mengulas soal ‘geopolitik Kota Kupang’. Ini bukan soal baku, bukan pakem dogmatis. Geopolitik melihat politik dari sisi kewilayahan, teritori. Artinya setiap daerah yang di dalamnya mencakup entitas etnis, suku dan budaya bisa menjadi referensi politik.

Sejak awal, pakem politik di Kota Kupang yang ‘hampir baku’ adalah calon walikota berasal dari entitas Kristen etnis Rote atau Sabu dan calon wakil walikota dari entitas Katolik etnis Flores. ‘Kelaziman’ seperti ini hampir membentuk anggapan bahwa membangun pakem di luar ‘konstruksi’ itu sudah diduga ‘kalah’ sebelum bertarung.

Tentu ada banyak variabel yang saling berpengaruh. Tetapi politik selalu menyediakan ruang kompetisi yang sama bagi siapa saja yang mau berkompetisi. Maka, Pilkada Kota Kupang di 2024 adalah pembuktian bahwa pakem-pakem ‘lazim’ itu bisa digugurkan. Kupang itu kota kita. Politik itu dinamis tetapi juga atraktif. Maka memunculkan pakem-pakem baru di 2024 adalah kemestian. Bukan tidak mungkin ada pakem calon walikota entitas Katolik etnis Flores dgn calon walikota entitas Kristen etnis Rote atau Sabu. Bisa juga calon walikota entitas Kristen etnis Sumba dengan calon wakil walikota muslim etnis Flores.

Soal geopolitik ini tidak perlu amandemen seperti mengamandemen pasal-pasal dalam UUD. Kalau partai politik mendukung, rakyat berpihak, bukan tidak mungkin pakem-pakem baru akan muncul dalam pentas politik Kota Kupang. Dengan itu ada gairah baru, ada suasana baru, ada energi baru, tentu ada harapan baru. Daripada monoton atau dwiton yang itu-itu saja.

So, wait and see…

 

Oleh: Isodorus Lilijawa

Komentar

Jangan Lewatkan