oleh

Mantap! Jokowi Panen Kemenangan Atas Cikeas-Cendana-JK!

-Politik-609 views

Publik pun paham siapa-siapa saja yang jadi lawan politik Presiden Jokowi. Ada yang secara resmi menjadi lawan politiknya dalam pemilu. Ada yang terlihat ikut mendukung demo yang isinya anti-Jokowi. Ada yang ikut dalam deklarasi kelompok yang berusaha mengajak publik untuk melengserkan Jokowi. Ada pula yang memuja pentolan yang menyebut dirinya imam besar, yang jelas-jelas menyebut Jokowi presiden ilegal. Ada pula yang menuduh Presiden Jokowi terlibat dalam apa yang mereka sebut sebagai kudeta partai.

Orang-orangnya ya itu itu saja. Mereka yang disebut punya dana besar. Yakni klan Cikeas, klan Cendana, dan tentu saja, JK. Entah kenapa mereka terus saja jadi lawan politik Presiden Jokowi. Mungkin iri karena nama besar keluarganya nampak tidak jadi apa-apa ketika dihadapkan dengan seorang Jokowi yang sederhana? Atau karena tidak pernah bisa menyaingi rekor kemenangan 5 kali pemilu yang dimiliki Jokowi? Atau merasa terganggu bisnisnya dengan berbagai kebijakan Presiden Jokowi yang pro-rakyat? Yang pasti mereka tidak menutupi di pihak mana mereka berdiri. Selalu berseberangan dengan Jokowi. Berkumpul dengan gerombolan yang memang memusuhi Jokowi, yang berusaha mempengaruhi publik untuk mendukung pemakzulan Jokowi. Namun, nampaknya mereka ini malah menuai kekalahan. Sedangkan Jokowi malah panen kemenangan.

Pertama, adalah JK. Kepulangan Rizieq Shihab dari Arab Saudi sempat disebut melahirkan poros baru dalam dunia politik Indonesia, yakni poros Anies-JK-Rizieq. Waktu itu Rizieq dianggap sangat kuat. Apalagi pada hari pertama dia pulang, langsung dihampiri oleh Anies ke rumahnya di Petamburan. Lalu Rizieq pun berkoar soal membuka rekonsiliasi dengan pemerintah, dengan syarat macam-macam, termasuk pembebasan Abu Bakar Baasyir. Seakan Rizieq ini posisinya sejajar dengan Presiden Jokowi. JK pun menyambut dengan menyebut Rizieq sebagai pemimpin kharismatik. Seolah berusaha membuat publik lupa bahwa Rizieq pernah jadi buronan dalam kasus chat porno yang memalukan itu. Tujuannya sama, mengangkat derajat Rizieq agar terlihat kuat dan sejajar dengan Presiden Jokowi. Kita tahu kan apa yang terjadi kemudian. Pamor Rizieq ternyata sangat rapuh. Spanduk raksasa berfoto Rizieq pun diturunkan hingga robek-robek tak karuan. Hingga sekarang ini Rizieq sudah ditahan dan sedang menghadapi ancaman penjara bertahun-tahun. Mana suara JK? Mana suara Anies? Senyap! Jokowi yang menang!

Kedua, klan Cikeas. Keluarga baperan ini demen banget dengan strategi playing victim. Minta dikasihani publik. Seakan 10 tahun SBY jadi presiden itu rakyat yang kerja dan SBY yang diurus rakyat. Kebalik hehe… AHY, sang ketua umum partai, dibantu para kadernya, beramai-ramai merengek dan menuduh Presiden Jokowi terkait dalam soal kudeta partai. Soal internal partai. Ngapain minta klarifikasi ke Presiden Jokowi? Seakan Presiden RI itu sejajar dengan AHY dan SBY. Seakan Presiden Jokowi tidak punya kerjaan lain selain ngurusin partai yang isinya orang-orang baperan. Drama panjang pun dimulai.

Akhirnya, Kemenkumham tidak mengesahkan Partai Demokrat versi KLB Deli Serdang. Terbukti Presiden Jokowi tidak ada hubungannya dengan konflik internal partai Demokrat. “Masalah utama atau apinya ada di dalam. Pengurus KLB yang menjemput Moeldoko, bukan Moeldoko yang datang ke pengurus KLB,” ungkap Direktur Eksekutif Indo Barometer, M Qodari. Sedangkan pihak AHY sejak awal sudah membangun kesan bahwa istana berada di balik kudeta itu. “Konstruksi kesan itu dimulai dengan pengiriman surat ke istana oleh AHY,” kata Qodari.

Oleh sebab itu, Qodari setuju dengan banyak pendapat bahwa AHY harusnya menyampaikan permintaan maaf secara terbuka kepada Presiden Jokowi. Sementara citra SBY pun luntur akibat drama ini. Sebab borok-borok SBY dan Demokrat terungkap seiring bergulirnya kekisruhan internal partai itu. “Dulu pernah terbit biografi berjudul “SBY Sang Demokrat”. Buku ini luntur karena kan sekarang terungkap bahwa AD/ART nya Partai Demokrat banyak masalah dan kurang demokratis”, ujar Qodari. Dan pemenang sesungguhnya dalam drama Partai Demokrat ini adalah Presiden Jokowi.

Ketiga, klan Cendana. Kalau yang ini, saya pun tidak menyangka. Karena tidak pernah mencari tahu sebelumnya. Kirain TMII (Taman Mini Indonesia Indah) itu ya milik pemerintah RI. Yang pengelolaannya dan penghasilannya menjadi urusan pemerintah. Ternyata tidak seperti itu. Tiba-tiba saja Presiden Jokowi menggebrak, dengan menerbitkan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 19 Tahun 2021 tentang TMII. Isinya mengatur tentang penguasaan dan pengelolaan TMII oleh Kemensetneg. Mengakhiri kiprah Yayasan Harapan Kita yang ternyata telah mengelola TMII selama 44 tahun. Yayasan Harapan Kita ini dimiliki oleh klan Cendana. Ternyata dalam pengelolaan selama bertahun-tahun itu, TMII tidak pernah menyetorkan pendapatannya ke kas negara.

Artinya? Pendapatan TMII mengalir ke keluarga Cendana dong. Padahal TMII merupakan aset negara. Dengan demikian, seperti yang disebut oleh PDIP, Presiden Jokowi berhasil mengembalikan TMII menjadi milik pemerintah Indonesia. Presiden Jokowi disebut berhasil menjalankan amanat reformasi, yakni menyelamatkan aset-aset negara yang sebelumnya dikuasai oleh keluarga Soeharto. Seperti halnya Jokowi berhasil mengambil alih saham Freeport dan Blok Minyak Rokan.

Presiden Jokowi meraih kemenangan lagi. Saya yakin masih ada kemenangan-kemenangan lain yang akan menyusul. Bisa bersifat pelan-pelan dengan proses, bisa pula dengan kondisi menggebrak dan mengejutkan publik. Ya publik pasti suka, wong itu semua buat kepentingan rakyat kok. Publik merasakan ketenangan dan kedamaian sejak perayaan Natal sampai bulan Puasa sekarang ini. Publik disuguhi pembongkaran borok-borok lama SBY, yang tak kalah seru dengan drama Korea. Aset negara pun dikembalikan buat sebesar-besarnya kepentingan rakyat. Presiden Jokowi kurang baik gimana lagi? Selalu dari kura-kura!

 

Oleh: Ninanoor

Komentar

Jangan Lewatkan