oleh

Memaknai Kembali Kemerdekaan Melalui Gerakan Mahasiswa

-Politik-107 views

Di usia 76 tahun Republik Indonesia, tentu masih menyisakan berbagai pertanyaan untuk apa di balik kemerdekaan itu. Untuk menjawabnya harus dimulai dari berbagai pendekatan, salah satunya adalah sejarah.

Ya, bukan untuk mencoba beromantisme pada sejarah seperti yang dituduhkan oleh beberapa kawan, melainkan upaya penelusuran sebagai fakta historis yang tak terbantahkan. Dan juga apa salahnya hanya sekadar romantis? Iya, kan, bung?

Pertanyaan seputar sampai sejauh mana republik ini membawa keselamatan, kesejateraan, dan kebahagiaan rakyat pada umumnya lantaran berbagai masalah kemiskinan masih saja menjadi persoalan yang pelik dan tidak tertuntaskan. Laporan Transparency International menempatkan Indonesia pada urutan ke-3 terkorup setelah India dan Kamboja dari jumlah negara di Asia (Merdeka).

Berbasis pada fenomena ini mengungkapkan kepada kita sekalian bahwa korupsi masih menjadi kebiasaan laten masyarakat Indonesia terkhusus para pemangku kebijakan. Dari sini jugalah kita patut mempertanyakan sampai sejauh mana pemaknaan kita pada kemerdekaan, sampai sejauh mana Pancasila sebagai filosofi grondslag menjawab tantangan bangsa Indonesia.

Mengutip dari pidato Soekarno presiden pertama RI yang sering disingkat TAVIP 1964  (Tahun Vivere Pericoloso: Masa Berbahaya), “Revolusi kita bukan sekadar mengusir Pemerintahan Belanda dari Indonesia. Revolusi kita menuju lebih jauh lagi daripada itu. Revolusi Indonesia menuju tiga kerangka yang sudah terkenal. Revolusi Indonesia menuju kepada Sosialisme! Revolusi Indonesia menuju kepada Dunia Baru tanpa ‘exploitation de l‘homme par l‘homme’ dan ‘exploitation de nation par nation” .

Bahwa kemerdekaan hanyalah jembatan emas, satu tahapan dalam mewujudkan sosialisme tanpa exploitation de l‘homme par l‘homme’ dan exploitation de nation par nation (ekploitasi antar-manusia dan eksploitasi antar-bangsa).

Memang pada saat pidato kenegaraan itu disampaikan, Indonesia mengalami krisis multidimensi. Klau coba dibandingkan hari ini tentu tidak akan jauh berbeda, bahwa memang pada masa itu wabah Covid-19 seperti sekarang tidak ada namun wabah Gezag seperti penyelewengan pada cita-cita bangsa oleh sekelompok orang sangatlah besar akibat ketegangan perang dingin antara timur dan barat.

Pun hari ini Indonesia dirundung oleh banyak persoalan selain pada aspek kesehatan dan ekonomi. Masih banyak juga orang yang merindukan kejayaan khilafah padahal amat sangat bertentangan dengan jiwa kebangsaan kita.

Penemuan Arah Kebangsaan Kita

Pemuda dari latar belakang daerah dan pendidikan yang berbeda-beda melalui pergulatan pemikiran mampu mencetuskan platform dasar kebangsaan sebagai simbol semangat persatuan. 28 Oktober 1928 itulah awal sekaligus akhir pernyataan senasib dan sepenanggungan bahwa kita mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia. mengaku berbangsa yang satu bangsa Indonesia, menjunjung bahasa persatuan bahasa Indonesia.

Dari ikrar pemuda yang dalam proses perjalanannya mewujud menjadi teks proklamasi 17 Agustus 1945 sebagai pernyataan bersama bahwa bangsa Indonesia telah merdeka yang diwakili serta ditandatangani Soekarno dan Hatta. Anak zaman yang dilahirkan untuk mengemban tugas suci nan mulia selalu akan menemui RODINDA (Romantika, Dinamika, Dialektika)-nya sendiri pada setiap keadaan zamannya.

Pemerintahan Soeharto selama 32 tahun memaksa pemuda sebagai pewaris zaman untuk melakukan redefinisi makna kemerdekaan Indonesia yang hasilnya menjadi kami mahasiswa Indonesia bersumpah, bertanah air satu tanah air tanpa penindasan; kami mahasiswa Indonesia bersumpah, berbangsa satu bangsa yang gandrung akan keadilan; kami mahasiswa Indonesia bersumpah, berbahasa satu, bahasa tanpa kebohongan.

Redefenisi yang bertujuan menyesuaikan keadaan zaman telah membuahkan Reformasi dengan penyataan mundur Soeharto dari jabatan Presiden RI tertanggal 21 Mei 1998. Rentetan peristiwa ini tentunya tidak datang secara kebebetulan, melainkan ada proses yang mendahului dan sering berkontradiksi antara satu dengan yang lain, sampai pada saling menegasi atau meniadaan salah satunya, terjatuh pada kubangan kehancuran ataukah maju melanjutkan perjuangan (bangkit atau hilang selamanya, istilah yang sering dilontarkan dalam gerakan mahasiswa).

Revolusi Belum Selesai

Penulis selalu meyakini bahwa selain membangun Indonesia berdasarkan Pancasila, kita juga harus dan mutlak ikut terlibat sepenuhnya menjebol segala rintangan untuk menuju pada terkabulnya impian dan cita-cita bangsa, “Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia”, dengan membabat habis perilaku-perilaku penyimpangan yang bertentangan prinsip keindonesiaan kita. Membabat habis pemikiran konservatif dari sisa mental kolonialisme yang menyengsarakan.

Melalui semangat kepemudaan, berani mengatakan tidak untuk eksploitasi alam atas nama pembangunan dan kemakmuran, ekploitasi atas nama kesejahteraan. Seperti ungkapan Jefri Winters dalam buku yang ditulisnya (Oligargi), bahwa untuk meniadakan oligarki sebagai kekuasan yang dominan pada yang minor dalam segala aspek sangatlah tidak mungkin, melainkan kita dapat membuatnya untuk tidak tampil di permukaan dengan memukul mundur segala kekuatan yang dimiliki atau mengurangi perannya dari segala sendi-sendi kehidupan.

Dari sinilah gerakan kita sebagai mahasiswa bersama rakyat Indonesia ditantang untuk medefinisikan ulang makna kemerdekaan, ditantang untuk menyusun platform gerakan melalui semangat Samenbundeling Van Alle Revolutionare Kracthen sebagai generasi pemikul zaman.

Melalui ini, saya mengucap syukur sekaligus mengucap selamat pada bangsaku, pada negeriku dan seluruh rakyat Indonesia. Tegak dan tegarlah terus dalam perjuangan. Revolusi belum selesai!

 

Oleh: Abd Muid / Mahasiswa Ilmu Hukum Universitas Cokroaminoto Yogyakarta. Aktif di Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)

 

Artikel ini telah dipublish di nalarpolitik.com

Komentar