oleh

Perang Bintang dari Sibolangit

-Politik-902 views

PARTAI Demokrat dirundung prahara. Dualisme kepemimpinan di tubuh Partai Demokrat digoyang lewat Kongres Luar Biasa (KLB) dari Sibolangit, Deli Serdang, Sumatera Utara. Lewat saluran telepon genggam (handhpone), Jenderal TNI AD (Purn) Moeldoko, Kepala Staf Kepresidenan menyatakan terima kasih atas kepercayaan memimpin partai berlambang bintang mercy itu. Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono dan kepengurusannya tentu dibikin pening. Partai Demokrat berada di tubir ujian: perang dingin dua pensiunan tentara yang mengabdikan diri bagi bangsa dan negara lewat jalur politik.

Saya tak pernah bersua langsung dengan Jenderal Moeldoko meski hanya lewat media. Namun tatkala ia masuk dalam jajaran ring 1 Jokowi-Ma’ruf dan didapuk jadi Kepala Staf Kepresidenan, nama Moeldoko kian akrab. Ia heboh di jagad politik negeri tatkala menerima sejumlah petinggi Partai Demokrat, pintu masuk tudingan kalangan petinggi partai di bawah kepemimpinan mas Agus, sosok yang juga belum saya kenal baik kecuali melalui pikiran bernasnya yang muncul di Harian Kompas. Dan benar adanya kalau tudingan terhadap Moeldoko berada di balik KLB menemui titik terang setelah Sibolangit mencatat sejarah mengangkat Moeldoko menuju kursi panas Demokrat 01 “bersanding” dengan Agus Harimurti Yudhoyono, putera sulung mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono alias SBY.

Selain Moeldoko dan Harimurti, nama Marzuki Alie, bekas Sekjen Partai Demokrat dan mantan Ketua DPR RI sudah familiar. Saya mengenal Marzuki sejak ia diberi tugas sebagai Sekjen Partai Demokrat. Saya pernah mendampingi Marzuki dalam sebuah kegiatan di Sumatera Selatan. Begitu juga sang isteri meski tak begitu lama tatkala terpilih menjadi anggota Dewan Perwakilan Daerah dari Sumatera Selatan. “Adik nginap di hotel saja agar bisa punya banyak waktu melihat-lihat kota Palembang. Nanti sore baru ke rumah untuk ngambil foto kegiatan doa di rumah. Besok nanti bisa main ke kampus saya,” kata Marzuki Alie di Palembang usai acara bersama Herfyan Sofial Danal di Hotel Putri Duyun Muara Enim, Senin, 12 Maret 2007.
Muara Enim.

Johni Allen Marbun dan Max Sopacua pun sudah saya kenal. Sekilas. Johni, pria Batak bersuara bariton ini, saya kenal tatkala ia sering bersama rekan Tino Koban, sahabat seasal dari Lembata. Johni adalah salah satu kader Partai Demokrat segenerasi Max Sopacua. Max, bekas penyiar TVRI, yang sudah familiar di mata tatkala saya masuk hutan menonton duel Elias Pical vs Yu Do Chun di Lusikawak, sebelah atas Lewoleba, kota Kabupaten Lembata. Johni, kalau tak salah adalah mantan Kepala Taman Manrgasatwa Ragunan Jakarta. Baik Marzuki, Marbun maupun Sopacua punya niat besar membuat Partai Demokrat menjadi alat perjuangan politik demi kemaslahatan bangsa.

Tentang cita-cita dan kerinduan kolektif membuat Partai Demokrat menjadi partai modern guna mengabdi bagi kebaikan umum (bonume commune), saya mencatat baik pengalaman meliput kegiatan Kongres ke-2 Partai Demokrat di Bandung Barat, Jawa Barat tahun 2010. Kongres itu berlangsung di Gedung Sport Center, Hotel Mason Pine, kawasan Kota Bumi Parahyangan, Padalarang, Kabupaten Bandung Barat mulai 21-23 Mei 2010. “Anas Urbaningrum saya pastikan akan terpilih jadi ketua umum,” kata Eudes, senior saya sesama jurnalis. Prediksi senior ini tak meleset. Pada putaran pertama Anas terpilih mengungguli dua calon lainnya: Marzuki Alie (209) dan Andi Mallarangeng (84) dengan total suara sebesar 236. Kemudian pada putaran kedua Anas unggul 280 suara (53 persen) dari Marzuki Alie sebesar 248 (47 persen).

Ada cita-cita besar Susilo Bambang Yudhoyono agar Partai Demokrat. Pertama, Demokrat harus mampu menawarkan keunggulan-keunggulan politik yang dimilikinya kepada masyarakat. Keberadaan ketua umum yang memiliki nilai jual politik tinggi, sistem dan manjemen kepartaian modern serta arah kebijakan partai merupakan solusi menjawab tantangan ke depan. Kedua, Yudhoyono mengingatkan Demokrat menjadi partai tengah yang kuat dan modern melalui kepemimpinan para kader. Cita-cita ideal itu kini tengah mengalami ujian berat pasca KLB Sibolangit yang dianggap inkonstitusional bagi sebagian kader di bawah kepemimpinan Harimurti Yudhoyono. Apakah dua kutub berseberangan ini akan duduk satu meja? Moeldoko dan Agus Harimurti lebih tahu. Namun, tentu dalam benak mereka berdua ada kerinduan menjadikan partai alat perjuangan bagi kemasalahatan rakyat, bangsa, dan negara. Kalau tak sampai duduk satu meja maka rasanya bakal (meminjam istilah Soetan Bhatoegana Batubara) “ngeri ngeri sedap”.

 

Jakarta, 5 Maret 2021
Oleh: Ansel Deri

Komentar

Jangan Lewatkan