oleh

Politik Membuat Hidup Warga Jadi Lebih Buruk

-Politik-152 views

“Bagiku sendiri, politik adalah barang paling kotor, lumpur-lumpur yang kotor. Tapi suatu saat di mana kita tidak dapat menghindari diri lagi, maka terjunlah.”

Kata-kata Soe Hok Gie itu agaknya benar. Realitas hari ini membuktikan, makin luas ruang lingkup politik, makin kebijakan yang buruk dan praktik kejahatan terus meningkat.

Meski kita berusaha mengabaikannya, politik akan selalu memengaruhi sebagian besar aspek kehidupan. Di mana-mana, entah di koran-koran atau berita-berita televisi, politik selalu muncul dan didiskusikan layaknya hal paling krusial.

Politics can weigh heavily in forging friendships, choosing enemies, and coloring who we respect,” tulis Aaron Ross Powell dan Trevor Burrus tentang betapa semaraknya politik dalam kehidupan warga negara (Libertarianism, 2012).

Tidak sulit memahami kenapa politik begitu memainkan peran sentral dalam kehidupan. Pengambilan keputusan politik hari ini makin menentukan apa yang boleh kita lakukan dan bagaimana kita melakukannya.

Politik menuntun kita untuk memilih apa yang boleh dipelajari anak-anak kita di sekolah dan bagaimana metode pelajarannya. Bahkan untuk hal-hal yang menyangkut kehidupan pribadi, seperti apa yang boleh kita konsumsi atau dengan siapa kita boleh menikah, semua melibatkan keputusan politik sebagai panglima.

In such crucial life decisions, as well as countless others, we have given politics a substantial impact on the direction of our lives. No wonder it’s so important to so many people.”

Apakah kita benar-benar ingin hidup di dunia seperti itu, yang membuat kita tidak bisa tidak terlibat secara politik?

Banyak orang mengatakan YA. Dengan melibatkan diri, bukan hanya kebijakan demokratis yang akan lahir, melainkan juga warga negara yang baik. Sayangnya, seperti dicatat Aaron dan Trevor untuk kasus ruang lingkup dan pengambilan keputusan politik di Amerika dan negara-negara Barat lainnya, yang muncul justru efek sebaliknya.

The solution is simple: when questions arise about whether the scope of politics should be broadened, we must realistically look at the effects that politics itself has on the quality of those decisions and on our own virtue.”

Politik, faktanya, memang sering mengambil rangkaian kemungkinan dan mengubahnya menjadi pilihan yang hitam-putih saja: kalau bukan si A, ya si B; entah kebijakan tertentu menjadi hukum atau tidak. Akibatnya, hanya mereka yang paling terpengaruh dari pilihan tersebut yang akan menilai politik itu sangat penting.

These black and white choice mean politics will often manufacture problems that previously didn’t exist, such as the ‘problem’ of whether we—as a community, as a nation—will teach children creation or evolution.”

Anehnya, tidak sedikit pihak yang percaya bahwa pengambilan keputusan politik adalah cara egaliter yang memungkinkan semua suara bisa didengar. Karena hampir semua orang bisa memilih dan hanya punya masing-masing satu suara, maka hasil apa pun akan selalu tampak adil di matanya.

Mereka tidak memahami bahwa begitu keputusan diberikan sepenuhnya kepada proses politik, maka satu-satunya warga negara yang dapat memengaruhi hasilnya adalah mereka yang paling memiliki kekuatan politik memadai, sementara minoritas menjadi pihak yang paling kehilangan hak.

In an election with thousands of voters, a politician is wise to ignore the grievances of 100 people whose rights are trampled given how unlikely those 100 are to determine the outcome.”

Aspek hitam-putih politik juga mendorong orang untuk turut berpikir hitam-putih pula. Bukan hanya memunculkan partai politik yang itu-itu saja, namun para pendukungnya pun menjadi makin mirip dengan penggemar olahraga. Nuansa perbedaan pendapat diperjualbelikan demi dikotomi yang mencolok padahal sebagian besarnya hanyalah hasil rekayasa.

Thus, we get the ‘no regulation, hate the environment, hate poor people’ party and the ‘socialist, nanny-state, hate the rich’ party—and the discussions rarely go deeper than this.”

Politik seperti ini tidak lebih dari dari pertengkaran antar-penggemar olahraga, dan sering kali lebih buruk karena politik lebih bermuatan moral. Mereka yang berada di luar barisannya bukan hanya dipandang sebagai saingan, melainkan sekaligus dianggap mewakili semua kejahatan di dunia.

Politics often forces its participants into pointless internecine conflict, as they struggle with the other guy not over legitimate differences in policy opinion but in an apocalyptic battle between virtue and vice.”

Bagaimana ini bisa terjadi?

Meski mengerikan, perilaku tersebut adalah hal yang lazim. Para psikolog, sudah sejak beberapa dekade ke belakang, telah menunjukkan kecenderungan orang untuk selalu tertarik pada mentalitas kelompok. Mereka telah memperlihatkan betapa kuatnya identifikasi kelompok menciptakan kesalahan yang sistematis dalam berpikir.

“Your ‘teammates’ are held to less exacting standards of competence, while those on the other team are often presumed to be mendacious and acting from ignoble motives. This is yet another way in which politics makes us worse: it cripples our thinking critically about the choices before us.”

Apa yang meresahkan dari politik berdasar perspektif moral bukanlah bahwa hal itu mendorong mentalitas kelompok, karena banyak kegiatan lain yang juga mendorong pemikiran serupa tanpa menimbulkan kekhawatiran moral yang signifikan. Sebaliknya, itulah cara politik berinteraksi dengan mentalitas kelompok, menciptakan umpan balik negatif yang mengarah langsung ke praktik kejahatan.

Politics, all too often, makes us hate each other. Politics encourages us to behave toward each other in ways that, were they to occur in a different context, would repel us. No truly virtuous person ought to behave as politics so often makes us act.”

Mungkin saja kita mampu mengubah cara-cara pengambilan keputusan politik yang seolah-olah egaliter dan tampak adil itu, tetapi kita tidak akan pernah bisa mengubah dasar atau watak sejati dari politik. Selamanya, kita tidak akan pernah bisa menyesuaikan watak politik dengan visi utopis tentang kebijakan dan warga negara yang baik. Masalah utamanya tidak terletak di sistem, melainkan berasal dari sifat pengambilan keputusan politik.

The only way to better both our world and ourselves-to promote good policies and virtue-is to abandon, to the greatest extent possible, politics itself.”

*Sari pati “Politics Makes Us Worse” karya Aaron Ross Powell & Trevor Burrus.

 

Oleh: Maman Suratman

 

Artikel ini sudah dipublish di nalarpolitik.com

Komentar

Jangan Lewatkan