oleh

Ganjar Pranowo Terlepas dari PDI Perjuangan?

-Politik-542 Dilihat

Indikasi kuat bahwa Ganjar Pranowo bakal terlepas dari induk partai yang membesarkannya, PDI Perjuangan. Terbaca oleh publik bahwa bukan Ganjar yang keluar dari PDI Perjuangan, tetapi PDI Perjuangan yang menendang Ganjar Pranowo.

Dua tokoh kuat dalam lingkaran dalam alias ring satu DPP PDI Perjuangan, Bambang Wuryanto dan Trimedya Pandjaitan, secara vulgar dan kasar menyerang Ganjar Pranowo. Kinerja Ganjar dipertentangkan dengan kinerja Puan Maharani, Ketua DPR RI, salah satu Ketua DPP PDI Perjuangan, dan putri Megawati Soekarnoputri.

Dinarasikan, Puan berprestasi besar dan membanggakan sebagai Ketua DPR RI, juga sebagai Menko PNK sebelumnya. Sementara Ganjar Pranowo dinilai tidak berhasil memimpin Jawa Tengah dan hanya dikenal di media sosial (medsos), tetapi berambisi menjadi calon presiden (Capres) 2024.

Kritikan vulgar dan kasar terhadap kinerja Ganjar ini ditanggapi positif oleh Ganjar yang dinilainya sebagai vitamin yang disuntikkan oleh sesama koleganya di PDI Perjuangan. Pada titik ini, citra Ganjar tidak ternoda, sebaliknya bagi pihak yang mengkritiknya secara vulgar dan kasar.

Bagi publik, kinerja seorang pejabat publik terbaca pada elektabilitas pejabat publik tersebut. Publik tentu langsung membandingkan elektabilitas Ganjar dan Puan dari sekian banyak hasil survei pada akhir-akhir ini.

Fenomena Ganjar ditendang PDI Perjuangan ini membuat Koalisi Indonesia Bersatu (KIB) melonjak kegirangan. KIB yang terdiri atas Golkar, PPP, dan PAN (bakal menyusul PKB) yang tempohari getol memperjuangkan Jokowi tiga periode, sukses menggaet Ganjar Pranowo.

Dalam Silaknas KIB baru-baru ini, ternyata ada Luhut Binsar Pandjaitan (LBP) di KIB. Rupanya LBP inilah sebagai mentor andalan KIB, di samping Aburizal Bachrie, Akbar Tanjung, Hata Radjasa, dan lain-lain. Ingat, LBP adalah tokoh kuat kepercayaan Jokowi pada saat ini.

Dengan demikian, dipastikan Ganjar Pranowo bakal diusung KIB. Siapa pasangannya? Bisa Anis Baswedan, bisa Airlangga Hartarto, bisa Erick Thohir, bisa Sandiaga Uno, bisa Ridwan Kamil.

Karena saya bukan pengamat politik, tetapi pengamat sastra, maka ada kemungkinan analisis ini meleset. Tetapi kalau analisis ini benar, maka analisis sastra bisa diandalkan pula untuk analisis politik.

 

Oleh: Yohanes Sehandi

Komentar