oleh

Doa Menyambung Hidup

-Puisi-411 views

Inilah bahasa titipan, bahasa cinta Tuhan untuk manusia menjadi landasan hidup, untuk berjuang dan terus berjuang, ”dengan niat baik tujuan mulia, untuk mau dan mampu menghadapi tantangan”. Bahasa cinta Tuhan lahir dari hati nurani yang masih memiliki kejujuran dan rasa syukur, agar mampu mendengar bisikan nurani. Bahasa cinta Tuhan keras dan kejam, yang menusuk jantung menggores rasa, bagaikan anak panah yang diarahkan ke segala arah. Yang menusuk jantung menggores rasa dan hanya rasa yang merasakan jalan Tuhan tidak ada yang lurus dan mulus, jalan Tuhan butuh pengorbanan. Dan ikut Tuhan pun kita harus jual seluruh harta yang kita miliki.

”Dengan penderitaan mampu melewati jalan Tuhan” dan beban hidup kita harus terima menjadi landasan kekuatan hidup yang membahagiakan hati tempat lahirnya senyum. Senyum mampu mengalahkan kekuatan otak dan fisik, agar tak mampu berbuat apa-apa. “karena semua kejahatan akan terungkap saat Indonesia menggugat”. Semua yang terjadi di bawah kolong langit adalah cambukan untuk manusia sadar. “Untuk mencintai sesama menikmati hidup dan hidup”. Manusia mampu mendengarkan bisikan nurani, demi cinta kasih sejati ”cinta antara manusia dan manusia”.

Semua hanya hati yang memahami hidup, karena Tuhan hanya ada di hati dan semua hati. “Hati tenang, rasa bahagia, gejolak jiwa mengalirkan darah, melahirkan hidup”. Manusia dilahirkan untuk semua yang hidup, bukan hanya untuk yang hidup. Mulut menjaga tubuh agar hati selamat, hidup untuk mengenal diri sendiri agar tidak saling mencurigai. ”Dasar hidup saling curiga akan hilang kepercayaan”. Kepercayaan itu penting dalam hidup, jalan hidup untuk hidup dan jalan Tuhan tak akan berubah. ”Membuat semuanya indah pada waktunya”.

Memang sulit mengikuti jalan Tuhan, jalan Tuhan kecil dan sempit menghadapi tantangan penuh onak dan duri. Untuk mengikuti jalannya Tuhan, kita harus jalani menghadapi tantangan dan tanyakan pada diri sendiri untuk menemukan jawaban semua yang lahir dari hati tidak ada yang sulit, yang berat pun jadi ringan jika dikerjakan dengan hati. Yang berat dan terasa berat jika kita hanya mampu melihat, menonton dan menanti perubahan.

Kita habis berpikir dan hilang tenaga suasana hidup bagaikan dunia mau kiamat.”hidup karena napas hidup masih tersisa”. Kejahatan hidup kita yang mengantarkan kita untuk berpikir siang dan malam, pikiran kita yang melahirkan penyakit yang sulit disembuhkan. Manusia bersandar pada manusia bukan lagi pada Tuhan. Yang menyelamatkan bukan iman di dada tapi iman di pikiran dan iman di mata. ”Iman penghias bibir”, lain di bibir lain di hati manusia sulit menemukan rasa puas dan rasa damai dalam hidup. Kita manusia hidup untuk satu tujuan yang sama. ”tapi bukan dan sama” agama sama, ajaran berbeda untuk menjalani tugas berbeda. Tugas berbeda kita jalani menuju pelabuhan berbeda. Hidup adalah perjuangan dan perjuangan dasar politik hidup. “ideologi bangsa pun politik adalah panglima”. Politik yang merusak adalah politik pikiran bukan politik hati nurani.

Kita hidup, kita mencari sepasang rasa yang Tuhan sembunyikan di hati. ”Rasa puas dan rasa damai”. Manusia hidup untuk menjalani proses hidup, manusia berjuang melawan diri sendiri antara hati nurani dan pikiran. ”Untuk memenangkan hati nurani”. Hati nurani memiliki sepasangan rasa. Rasa puas dan damai milik semua hati yang Tuhan berikan untuk hidup, untuk semua manusia cari. ”Semua manusia cari untuk menemukan, mendapatkan dan memiliki, untuk mencintai sesama”.

Kita saling butuh demi keutuhan hidup menjadi pasangan hidup untuk menjalani tugas berbeda. ”Untuk berada di sisi kiri dan sisi kanan bapak di surga”. Politik hati nurani mengikat perbedaan, politik pikiran untuk menghalalkan segala cara, otak dan fisik yang digunakan. Bisikan nurani tidak perlu didengar, larangan jangan dalam ketidakberdayaan, tetap menyuarakan kebenaran, ”Berbisik dalam kemiskinan, berbincang tiada kata suatu kata, mendengar tanpa mendengarkan, kejujuran dan rasa syukur pun diabaikan”.

Inilah hidup, hidup dalam ketidaktahuan, dalam ketidakberdayaan hilangnya tempat bersandar. “Hati nurani tidak di fungsikan lagi”. Yang hidup hanya sekedar hidup, otak dan fisik yang digunakan. “Untuk merusak hidup dan menghancurkan tubuh”. Manusia hidup saling membenci dan saling meniadakan. Manusia lupa diri, manusia semakin jauh dari kebenaran. “Manusia tinggalkan sang pencipta dan menjauhi sang juruslamat”.

Inilah hidup seutuhnya hidup, hidup bukan untuk saling meniadakan, yang melahirkan perbedaan membuat manusia hidup cacat. Hidup sudah dipengaruhi pikiran, yang hidup hanya sebatas leher ke atas. Manusia lupa diri, manusai tinggalkan hati nurani. Manusia sudah tinggalkan Tuhan, manusia hidup kehilangan arah tujuan hidup, karena manusia sulit bertanya diri sendiri. ”Manusia kehilangan tubuh, tempat hati nurani menjadi tempat tinggalnya Tuhan”.

Iman di dada yang menyelamatkan, “iman adalah keaslian diri manusia yang tidak bisa ditambal sulam”, pikiran menguasai hidup yang menghancurkan tubuh. Hati tempatnya Tuhan digeser dan digusur. Hati dan semua hati tempat yang baik dan benar yang menyimpan rahasia hidup milik Tuhan, yang Tuhan sembunyikan. ”Yang semua cari untuk mendapatkan” ingat kuasa Tuhan dan kuasa manusia berbeda, beda hati nurani dan pikiran, beda menyangkut kebenaran dan pembenaran, adalah jalan berbeda.

Kita hidup untuk membuka diri bukan untuk menutup diri, kita hidup saling membutuhkan dan saling terbuka. buka diri, buka hati, buka tangan dan tangan terbuka akan tergambar pada wajah melahirkan senyum. “Senyum adalah gambaran rasa bahagianya hati manusia”, senyum adalah ungkapan rasa dari lubuk hati yang paling dalam, hati tersenyum memiliki rasa puas dan damai.

Indonesia negara merdeka yang tidak dimiliki bangsa lain di dunia, merdeka untuk menghapus penjajahan di dunia. Ideologi bangsa pun jelas suara rakyat, suara Tuhan, suara hati semua hati yang manusia miliki. ”Suara hati adalah suara bisikan Tuhan karena Tuhan ada di hati”. Suara bisikan bukan suara basah basih, suara teguran keras penuh makna. “jangan”. Jangan untuk mengingatkan kita membedakan yang baik dan tidak baik. Yang tidak baik jangan paksa dilakukan, karena kejahatan kita adalah awal kehancuran hidup kita.”Tiada pengampunan jika Tuhan tinggalkan hati kita dan hati nurani tidak difungsikan lagi”.

Pikiran menguasai hidup akan berakhir dengan penyesalan, manusia temukan jalan buntu hilang harapan hidup. Manusia sulit mememukan rasa puas dan damai yang Tuhan sembunyikan. Rasa puas dan damai yang kita miliki mampu menghancurkan hati sekeras batu, hati menjadi lembut, selembut kapas secair salju. Hati yang lemah lembut mampu mendengar bisikan nurani. ”Bisikan dalam rangkaian kata bagaikan tetesan embun yang mengalir dari air hidup, yang mengalir sulit dibendung”. Air hidup bukan dari mata air mata atau air mata. Hal yang menyakitkan kita adalah kesalahan kita, kita menanam duri dalam daging. “Sakit terasa setiap saat membuat hati menangis batin menjerit”. Penyesalan tiada berguna, pengampunan menjadi sia-sia, jika kita tidak memiliki kejujuran.”Hukum dunia dan hukum Tuhan membutuhkan kejujuran, agar ada pengampunan”.

Manusia hidup di bawah kolong langit menjalani proses hidup, menjadi pilihan hidup. Pilihan hidup dengan dasar hidup, tanah tumpah darah yang menjadikan manusia hidup. “Hidup adalah kemenangan”, kita hidup di bawah kolong langit berlandaskan ketuhanan yang mahas esa. ”Esa, satu dasar hidup dan satu kekuatan hidup”, satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan dari ideologi bangsa, ideologi Pancasila. Pancasila ideologi hidup yang mengikat hidup manusia menjadi satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Ingat hidup sesungguhnya bukan rahasia, “yang rahasia hanya menutupi kesalahan dan ingin menyelamatkan kejahatan”. Manusia menjadi diam dan bisu, kedipan mata memberi isyarat. ”Tempat lahirnya sakit dan penyakit”, sakit dan penyakit yang sulit disembuhkan, jika manusia menutup diri dan tidak mau berkata jujur.

Hidup butuh pengakuan dan dasar pengakuan kita membuka diri untuk berkata jujur, kita hidup dengan sesama yang hidup, kita diikat dengan sepasang tali hidup. “Tali kejujuran dan tali rasa syukur, tali milik kita yang Tuhan berikan”. Tali kejujuran dan tali rasa syukur adalah jembatan emas, jembatan penghubung dalam dan luar. “Manusia dan dirinya, manusia dan sang pencipta, manusia dan sesama manusia menjadi satu ikatan yang tidak bisa dipisahkan”, satu kesatuan yang menyatu hidup dan kehidupan. “ Hidup untuk mengisi hidup”, mengisi hidup untuk memahami hidup dan mengenal diri sendiri, menjadi dasar cinta kasih Tuhan. Dasar cinta kasih Tuhan yang penuh rahasia, yang tersembunyi, terselubung dan terbungkus rapi yang kita manusia cari untuk mengisi hidup.

Semua hanya hati yang memahami hidup, hati yang mampu menyatuhkan perbedaan. Hati yang memahami ideologi hidup dan semua yang hidup di bawah kolong langit. “Ideologi bangsa pun jelas”, Indonesia dan Pancasila adalah ideologi hidup semua yang hidup yang menyatu dengan cinta Tuhan dan manusia, bertanah air satu, berbangsa satu, berbahasa satu “ Indonesia”.

 

Penulis: Pius Yohanis Lamba
Editor: Yoseph Letfa

Komentar