oleh

Gejolak Jiwa

-Puisi-752 views

Tuhan berkarya di hati menyuarakan kebenaran mengungkapkan apa yang tersembunyi. “Baik dan jahat semua diperlihatkan.” Di hati tempat tinggal Tuhan dan Tuhan hanya ada di hati. “Suara hati suara Tuhan”, suara bisikan hanya dalam ketenangan yang mampu mendengar bisikan Tuhan. “Rasa syukur tak terhingga kepuasan tak terduga, mendengar bisikan Tuhan”.

Hanya dasar cinta Tuhan tinggal di hati. “Dasar kebencian, Tuhan akan pergi tinggalkan hati untuk selamanya. Jiwa hidup tak pernah diam, semua karena cinta. Cinta jembatan penghubung cinta Tuhan cinta hidup, cinta adalah jalan Tuhan yang mempertemukan cinta. Cinta hadir dalam diam, cinta lahir dari kebencian. Diam melihat benci mencari adakah yang tersembunyi semua ini. Cinta jembatan penghubung antara sang pencipta antara manusia dan manusia, sebagai bukti cinta. Bahasa cinta sama, arti berbeda, “semua karena benci dan rindu itulah cinta ada. Pilihan cinta, pilihan kita. “Pilihan cinta pasti ada yang tertinggal, antara cinta Tuhan dan cinta manusia”.

Bahasa cinta sama, cinta manusia dan cinta Tuhan. Proses perjalanan cinta Tuhan dan cinta manusia beda. “Cinta Tuhan yang kita cari, cinta manusia ada yang sudah ada dipersiapkan untuk manusia”. Bahasa cinta sama tapi beda dalam rangkaian kata. Bahasa cinta manusia penuh kelembutan Bahasa cinta Tuhan keras dan kejam tiada maaf bagi siapa pun. Manusia adalah manusia hidup karena Tuhan. “Ikutilah perintah Tuhan, dengarkan bisikan hati nurani agar hidup bersama Tuhan untuk selamanya”.

Cinta manusia penuh kelembutan jalan berlumut dan jurang terjal yang dilewati membuat manusia jatuh dan terjatuh. Manusia rela berkorban demi cinta. ”Korban cinta, hati luka tersayat cantiknya wajah dan jalan berlumut pasti licin yang dilewati”. Demi cinta rela tinggalkan Tuhan untuk selamanya, itulah cinta mati manusia yang terlahir dari pikiran. “Cinta manusia cinta mati, cinta Tuhan cinta hidup”. Bahasa cinta Tuhan keras dan kejam yang menusuk jantungmenggores rasa, “hanya rasa yang merasakan rasa yang rasa”.

Cinta bangsa cinta tanah air, cinta tempat lahir dan cinta Tuhan yang kita lihat.“ agar hidup kita diberkati dan direstui”. Sebagai bangsa yang besar mari kita kembali ke jalan yang benar. “diatas rel Pancasila kita berjalan”. Di luar rel Pancasila adalah jalan berlumut dan terjal yang mengancam hidup kita. Rel Pancasila adalah jalan Tuhan untuk berjalan sampai ke batas, berlayar sampai kepulau. Berikan cinta pada Bangsa dan Negara rasa damai akan kau miliki berikan senyum pada saudaramu agar kau miliki rasa cinta. Semua yang ada dan hidup tidak jauh dari kehidupan kita, “tidak ada gunanya kita cari di luar diri kita.”

Dasar kejujuran kita hidup, dasar kejujuran kita bahagia dasar kejujuran kita memiliki rasa puas dan damai. “Semua adalah gambaran program kehidupan, bukan program hidup. Program hidup adalah kepuasan, pikiran manusia yang menguasai hidup manusia. Kepintaran manusia mampu menguasai tubuh dan roh yang hidup. Teknologi sebagai jembatan emas, memudahkan manusia untuk hidup bermalas-malasan. Jauh jadi dekat, dekat jadi jauh. “ Tidak perlu capek-capek hidup untuk makan, bukan makan untuk hidup.” Manusia malas menjauhkan diri dari kehidupan dan meninggalkan rasa puas dan damai. “Yang dicari adalah kepuasan dan kepuasan agar bisa berkuasa untuk bertindak.”

Tuhan mengingat kita karena begitu besar kasihnya, sampai lahirnya HAM. Karena kepintaran manusia HAM pun terabaikan. HAM disalah artikan, HAM disalah gunakan, HAM berpihak pada kejahatan dan menyelamatkan kejahatan membuat semuanya rusak. HAM lahir karena situasi yang terjadi di bawah kolong langit. Hal yang terjadi, tanyakan pada penegak hukum dan HAM yang tahu jawaban. “Dan tugas penegak hukum dan HAM untuk menjawab.”

Manusia hidup diproses untuk menjalani tugas pelayanan. Tugas pelayanan ada 3 tingkatan pelayanan dan cara kerja. Pelayanan orang pintar, orang bodoh dan orang bijak. Orang pintar cara kerja untuk melayani ”makan dulu baru kerja”, orang bodoh kerja dulu baru makan dan orang bijak kerja ikut perintah Tuhan berpuasa dan seluruh harta miliknya dijual, semua demi cinta. Untuk apa bahasa cinta di tulis jika tidak bermanfaat bagi manusia.

Inilah doa untuk bangsa Indonesia tercinta dan inilah tugas pelayanan, ”tugas pelayanan paling berat adalah orang susah melayani orang susah.” Pelayanan adalah program Tuhan dan berurusan dengan Tuhan adalah hati. ”Bukan hati-hati”, hati-hati atau hati mendua adalah urusan dengan setan. Rasa takut yang menyelimuti hidup dan hidup tidak mengenal cinta, hidup hanya untuk diri sendiri, diri kita. “Di luar diri kita, di luar hidup kita adalah musuh kita, bahkan musuh besar kita.”

Yang berurusan dengan Tuhan adalah hati.” Hati yang memiliki kejujuran, rasa cinta dan rasa syukur yang penuh dari hati semua hati. “Hati yang tidak dipengaruhi pikiran.” Hati dan pikiran punya pandangan berbeda. Jarak pandangnya melebihi jarak langit dan bumi. “Berpikir jauh tapi pandangan tumpul, karena pikiran tak punya mata.” Mata hati mampu melihat dari awal dunia di jadikan. “Manusia punya mata hati yang sama.” Dari manusia pertama sampai Nabi Musa, Nabi Nuh, Nabi Penyelamat dunia, dan Nabi palsu yang menghancurkan dunia.

Tugas para nabi untuk mengatur manusia menjalani proses hidup. Proses hidup lewat perjalanan panjang penuh tantagan, haus lapar pun harus bertahan, “demi mencapai tempat tujuan.” Nabi nabi pun berbeda dan menjalani tugas berbeda. Nabi pilihan, Nabi utusan dan Nabi palsuan yang ada dan hidup dari waktu kewaktu, “dari perjanjian lama, baru dan perjanjian tidak tau karna tidak tau.” Nabi pilihan yang lahir dari kandungan manusia untuk menjalani tugas amanat. Nabi utusan bukan lahir dari kandungan manusia tapi diutus dan hidup ditengah tengah manusia untuk melayani kebutuhan hidup manusia. Nabi palsu yang lahir dari kandungan manusia dari dasar keinginan manusia untuk menguasai dunia. Ia ingin menguasai dunia tidak semua manusia. Hanya manusia yang sia sia yang mengutamakan melayani keinginan.

Manusia mengumpulkan kekayaan untuk menguasai dunia dan uang menjadi rajanya, ”raja bukan lagi manusia.” Uang banyak dari hasil kejahatan hanya untuk melayani keinginan, uang banyak untuk beli pulau, beli Negara bahkan beli dunia. Ingat Indonesia Negara hukum, hukum untuk memanusiakan manusia dan manusia yang sia sia untuk tidak membuat dirinya sial.

Di depan pengadilan membutuhkan kejujuran agar ada pengampunan dan hidup akan kembali memiliki rasa puas dan damai. Rasa puas dan damai kita miliki, jika kita mengenal diri kita, mencintai tanah tumpah darah yang menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari hidup kita. “Menjadikan kita hidup, kita satu dan utuh yang diberikan Tuhan.” Tidak ada gunanya kita cari di luar sana yang menjadi milik yang lain. “Milik yang kita tidak kenal,” carilah yang kita kenal, kita butuh untuk melayani kebutuhan hidup kita. Inilah benih cinta Tuhan, yang ditaburkan untuk manusia, tinggal hati manusia siap menerima. Hati yang memiliki iman di dada, bukan iman di pikiran. Iman di dada adalah cinta kasih, yang melahirkan ”rasa puas dan damai.” Damai mampu merangkul perbedaan menjadi satu. Iman di pikiran adalah cinta diri melahirkan “pertengkaran”, pertengkaran mempersoalkan benar salah. “Benar salah bukan lagi urusan Tuhan.”

 

PYL

Komentar