oleh

Hati Emas Si Penjual Sayur

-Puisi-485 views

Terik matahari pagi menyelinap di sela atap rumah yang terbuat dari genteng yang telah usang. Rumah bertembokkan anyaman bambu itu terlihat berdiri kokoh walau banyak bagian yang sudah berlubang.

Disanalah tempat Pak Budi beserta istri dan kedua anaknya menyambung hidup selama ini.

“Bu, Bapak berangkat ke pasar dulu ya”, pamit Pak Budi.

“Tunggu Pak, sarapan dulu nantikan sampai siang di pasarnya”, ucap Bu Lastri berlari tergopoh menghampiri Pak Budi.

“Oh! sudah matang Bu? Mana anak-anak kok tidak ikut sarapan?” tanya Pak Budi.
“Mereka masih mandi, Bapak sarapan saja dulu keburu siang” jawab Bu Lastri.

Menu sayur asam dengan tempe goreng dan sambal terasi pun sudah habis dilahap oleh Pak Budi. Pak Budi selalu menghabiskan apapun yang di masak oleh sang istri, karena baginya itu merupakan salah satu bentuk penghargaan bagi Bu Lastri yang senantiasa mendampinginya selama ini.

“Bu, sepatu Tari sudah bolong, malu mau ke sekolah” rengek Tari anak Pak Budi yang sudah kelas 3 SMP.

“Iya Bu, Anton juga malu ditagih terus uang SPP sama Ibu guru” ucap Anton anak Pak Budi yang sudah kelas 2 SMA.

“Sabar Tari, nanti kalau sudah ada uang Ibu pasti beliin sepatu. Anton, nanti Ibu akan ke sekolah untuk meminta keringanan ya” jawab Bu Lastri dengan lembut kepada kedua anaknya.

Pak Budi hanya mampu terdiam mendengar keluhan kedua anaknya. Sungguh Ia merasa tidak berguna, selama ini Ia belum mampu membahagiakan istri dan kedua anaknya.

Hidup sederhana bahkan cenderung pas-pasan dengan penghasilannya yang hanya sebagai tukang sayur.

“Bu, Bapak berangkat dulu ya. Assalamualaikum” pamit Pak Budi.
“Waalaikummussalam. Hati-hati di jalan” jawab Bu Lastri sembari mencium tangan Pak Budi.

Pak Budi pun berangkat berjualan menuju pasar tradisional di dekat rumahnya. Kedua tangan Pak Budi membawa tas besar yang berisikan sayuran segar yang akan dijajakannya di pasar.

Sesampainya di pasar Pak Budi segera membuka lapaknya. Lapak sederhana dengan meja dan karung sebagai alas. Mulai dari sawi, buncis, kangkung, terong, labu dan sayuran lainnya, ia tata dengan rapi di atas meja.

Pak Budi pun mulai berteriak menjajakan daganganya. Para pelanggan setia Pak Budi pun berkumpul mengerubungi dagangan Pak Budi.

“Ini sawinya berapa pak seikat?” Tanya ibu-ibu gemuk berbaju merah.

“Sawi seikat Rp 2000 saja Bu” jawab Pak Budi.

“Kok mahal Pak, biasanya Cuma Rp 1000 kok” tawar ibu itu.

“Itukan harga kemarin Bu, sekarang memang naik harganya dari pengepul saja sudah Rp 1000” jawab Pak Budi.

“Ya jangan Rp 2000 lah Pak” tawar si Ibu lagi.

“Yasudah Rp 1500 ya Bu, kasih lah saya laba sedikit” balas Pak Budi.
“Oke Pak, saya beli 5 ikat” ucap si ibu.

Pelanggan pun datang silih bergantian, ada yang beli tetapi banyak pula yang hanya sekedar menawar. Semakin siang pasar pun semakin riuh oleh teriakan para penjual dan pembeli yang berusaha menawar harga.

Mulai dari sesama penjual sayur, buah, daging, sampai penjual es cendol dawet pun tak mau kalah.

“Banyak Bud dagangan yang laku?” tanya Pak Asep penjual buah didekat Pak Budi.
“Ya lumayanlah Sep, tapi ya gitu ibu-ibu nawarnya suka bikin sakit hati” jawab Pak Budi.

“Ya, yang sabar aja Bud. Ini buahku malah cuma dipencetin aja” gerutu Pak Asep.
“Kebiasaan itu Sep, ibu-ibu memang begitu” jawab Pak Budi sembari tergelak.

Matahari pun kian condong ke barat, menjadi pengingat bagi Pak Budi untuk segera kembali ke rumah. Pak Budi mulai mengemas sisa sayur yang tidak terjual.

Pak Budi pun berjalan pulang dengan membawa satu tas berisi sisa sayurnya. Keringat menetes di dahinya, ia pun memutuskan untuk duduk sejenak.

Di seberang jalan Pak Budi melihat seorang kakek renta yang berusaha menyebrang jalan. Pak Budi pun berlari menghampiri si kakek dan membantunya menyebrang jalan.

“Kakek mau kemana? Kok sendirian saja?” tanya Pak Budi dengan lembut.

“Saya mau pulang nak, tapi saya tidak punya uang. Saya juga lupa dimana rumah anak saya” ucap si kakek dengan raut wajah yang sedih.

“Kakek benar-benar tidak ingat? Mungkin daerah mana gitu kek, biar saya bisa antar” tanya Pak Budi memastikan.

Pak Budi berusaha mencari petunjuk dengan menanyakan detail sekitar rumah anak si kakek. Dari situ Pak Budi mengetahui bahwa rumah anak si kakek berada di Perumahan Aventador yang mana terdapat banyak pohon palem disana.

Pak Budi memutuskan untuk mengantar kakek pulang kerumahnya. Berangkatlah Pak Budi dan kakek menuju perumahan Aventador menggunakan taksi. Di dalam taksi Pak Budi terus-menerus berpikir mengenai uang sekolah anaknya.

Uang yang seharusnya digunakan untuk membayar SPP dan membeli sepatu anaknya harus digunakan untuk mengantar pulang si kakek.

Namun Pak Budi terus meyakinkan hatinya bahwa menolong kakek saat ini lebih penting, uang SPP dan sepatu anaknya bisa ia usahakan dengan jualannya esok hari.

Sesampainya di Perumahan Aventador, Pak Budi dan kakek langsung menuju pos satpam. Pak Satpam nampak terkejut melihat kehadiran si kakek yang ternyata adalah Kakek Noor.

Kakek Noor menghilang sejak tadi pagi, keluarga dan seluruh satpam komplek pun telah mencarinya di seluruh penjuru komplek. Namun kini si kakek justru berdiri didepannya bersama seorang pria.

Pak Satpam segera mengantarkan kakek dan Pak Budi menuju rumah Bu Diah, anak dari Kakek Noor. Sampailah mereka di rumah besar berpagar hitam dengan pohon palem yang berjejer di halaman.

“Assalamualaikum, Bu Diah Kakek Noor sudah ketemu” ucap Pak Satpam.

“Ya ampun ayah, ayah darimana saja?” ucap Bu Diah khawatir.

“Kakek, diantar sama Bapak ini Bu” ucap Pak Satpam sambil melihat Pak Budi.

Bu Diah memandang Pak Budi dengan cermat. Kemudian beliau mengucapkan terima kasih kepada Pak Budi dengan sepenuh hati karena telah berkenan untuk mengantarkan Kakek Noor kembali ke rumah.

Ketika Pak Budi berpamitan untuk pulang, Bu Diah melihat tas penuh berisi sayur ditangan pak Budi.

“Bapak jualan sayur?” tanya Bu Diah.
“Iya Bu, saya jualan sayur di pasar. Ini sisa jualan tadi” jawab Pak Budi sembari tersenyum.

“Pak, saya mau beli itu sayurnya. Berapa ya?” tanya Bu Diah.

“Ibu mau sayur yang mana?” tanya Pak Budi.
“Semuanya pak, kebetulan besok mau ada acara keluarga” ucap Bu Diah.

Pak Budi pun terkejut. Ia segera menghitung harga dari keseluruhan sayurannya. Harga sayur keseluruhan adalah Rp 400.000 namun Bu Diah memberikan uang sebesar Rp 1.000.000 kepada Pak Budi.

Pak Budi pun berusaha menolak uang itu. Akan tetapi Bu Diah berhasil meyakinkan Pak Budi untuk menerima uang itu.

Selain itu Bu Diah juga meminta Pak Budi untuk menyuplai stok sayur mingguan rumahnya. Sungguh kemurahan hati Pak Budi telah membawa keberuntungan untuk dirinya. (HAIRUL IMAM)

Komentar