oleh

Kebaikan yang Membawa Berkah 

-Puisi-618 views

Sinar matahari pagi menyelinap langsung disela atap rumah, begitu lah suasana pagi yang selalu dirasakan oleh Pak Anton beserta keluarganya. Atap rumah yang hanya beralaskan genteng yang sudah tidak layak lagi digunakan tidak mampu menahan sinar matahari yang begitu panas.

Setiap hari Pak Anton berjualan sayur-sayuran di pasar untuk membiayai kebutuhan keluarganya. Dan hasil dari jualan itu pun tak seberapa, hanya mampu untuk menyambung hidup setiap harinya apalagi untuk memperbaiki atap rumah yang sudah rusak.

Hari ini dagangan Pak Anton tersisa setengah lebih, pasar begitu sepi. “Bu maaf uang belanja hari ini kurang banyak, dagangan bapak tidak habis” ucap Pak Anton dengan nada yang pelan pada istrinya. “Gak papa pak, semoga cukup untuk makan dan uang saku anak-anak” jawab istrinya dengan lembut dan menyodorkan teh hangat pada suaminya.

Keesokan harinya Pak Anton kembali ke pasar untuk berjualan. Di tengah jalan ia bertemu seorang kakek tua yang tampak sudah rapuh. Ia terlihat kebingungan, lalu dihampirilah oleh Pak Anton.

“Ada apa kek, ada yang bisa dibantu?” ujar Pak Anton dengan senyumnya yang khas.
“Kakek mau pulang, tapi tidak punya ongkos. Kakek tak tahu harus bagaimana karena bekerja pun sudah tidak mungkin”, ujar Kakek dengan raut wajah yang sedih.

Melihat kakek tua tersebut hati Pak Anton tak kuasa membiarkannya. Meski hanya memiliki uang pas-pasan, ia memberikannya untuk ongkos kakek pulang ke kampungnya.
Pak Anton pun mengantarkannya ke terminal untuk mencari bus yang sesuai dengan tujuan kakek.

“Terima kasih banyak nak, semoga rejekimu selalu lancar, kakek tak bisa membalas apa-apa selain doa”. ucapnya dengan sedikit memeluk Pak Anton.

“Amin makasih kek, semoga selamat sampai tujuan”. ujar Pak Anton dengan nada yang halus.

Seperginya kakek tersebut Pak Anton kembali ke pasar, ternyata sudah ada seorang pembeli yang menunggu untuk memborong habis dagangannya dengan harga yang cukup tinggi. Sungguh kemurahan hati Pak Anton telah membawa keberuntungan untuk dirinya. (HAIRUL IMAM)

 

(Penulis adalah Mahasiswa Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Muhammadiyah Malang)

Komentar