oleh

Ketika Cinta Berkata Lain Sahabat

-Puisi-221 views

Oleh : Yeremias Bardi

Cinta adalah salah satu hal yang paling misterius di dunia ini. Tidak bisa ditebak kapan datangnya dan kepada siapa ia datang menghampiri. Cinta bisa saja datang di antara dua orang yang tidak mengenal satu sama lain. Tapi cinta juga bisa mampir di hati dua sahabat yang sudah mengarungi pahit manisnya hidup bersama. Sulit menolak ketika cinta datang menyeruak.

Bahkan jika ia datang di tengah hubungan persahabatan. Kata orang, “Nikmati saja datangnya cinta”. Tapi apa jadinya jika kita jatuh cinta pada sahabat. Menerima sahabat karib menjadi bagian dari hubungan yang berkaitan dengan cinta, seperti momok yang menjauhkan diri dari sesuatu yang namanya bahagia. Aku membayangkan dimasa depan, (tidak jauh, mungkin sebulan atau dua bulan nanti) aku akan menjadi orang lain di matamu. Bukan karena perubahan sikapku yang aku sengaja lakukan. Tetapi sikapku yang terubah dengan berjalannya waktu. Aku tidak bisa bercerita kepadamu tentang dia yang aku cintai, tentang bagaimana selama ini setiap malam aku selalu memimpikan dia, baik sebelum tidur, ataupun selama tidur.

Bahkan setelah bangun tidur, memimpikannya itu sesuatu yang selalu aku lakukan. Lalu kemudian seperti kebiasaan selama ini, jika siang aku bertemu kamu, atau malam bertemu kamu, aku akan sangat bahagia menceritakan cerita-cerita dimimpiku itu. Aku sudah terbiasa berinteraksi, bercanda, menaruh perhatian dengan banyak orang. Dan juga begitu denganmu. Denganmu, aku tidak pernah merasa canggung ataupun bingung. Aku bisa menjadi diriku sendiri dan bisa membatasi diri. pada awalnya semua berjalan begitu saja, hanya tingkah kekonyolan yang sering kita lakukan, tak ada perasaan. Waktu sangat baik kepadaku, ia benar-benar memperkenalkan hingga aku tau siapakah dirimu. Sampai akhirnya, bila waktu tak ada aku malah merindu. ya, aku merindukanmu. Terlihat indah memang, persahabatan yang terjalin begitu dekatnya sampai semua terlihat nyata, dan mulai bergelora. waktu mungkin sudah mulai cemburu, ia menggangguku dengan perasaan yang aku tak tau. semakin hari waktu juga menggodaku, ada sesuatu yang membelenggu. mengapa terjadi? apakah sebenarnya yang aku tak tau? waktu, kamu mulai tidak menyenangkan ya? kamu mulai memberitahu dan aku mulai mengerti, aku mulai sadari bahwa aku harus menghindari. pada akhirnya, aku merasakan kenyamanan yang beralas kekeliruan.

Waktu, mengapa kau membuatku ingin memarahimu? aku benar-benar tidak bisa menginjakkan persahabatan ini seperti sebelumnya, aku mulai berkaca-kaca kala ia bercerita. aku mulai takut untuk melihatnya bahkan aku mulai gelisah bila ia tak ada berita.Lalu bagaimana aku bercerita jika aku tahu kamu mencintaiku? Apakah kau pikir aku setega itu untuk melukai sahabat yang paling dekat dengaku? Ironisnya, aku akan menyakiti orang mencintaiku. Dan jika kemudian aku pendam, kau tentu akan tau siapa yang sakit dengan keadaan itu? Aku. Iya, aku. Aku akan semakin tersiksa karena cintaku yang tak pernah sampai ke hatinya. Kini tidak bisa pula ku sampaikan keluar dari hatiku. Hanya terpendam di antara cabang paru-paru dan tenggorokan dimana letak pita suara berada. Kau tahu, setiap kalimat-kalimat yang sudah kusiapkan untuk menceritakan buncahan bahagia, atau dalamnya rintihan derita didalam hatiku.

Tempatku melepasnya hanya di telingamu. Dengan atau tidak sadarmu, aku bahagia melepaskan beban dihatiku kepadamu. Jika kaupikir dengan mencoba untuk bersamamu akan membuatku jatuh cinta kepadamu. Aku ingin katakan kepadamu, berapa lama kita bersama? Apakah sekian tahun ini masih kurang cukup untuk memastikan, apakah aku bisa mencintaimu atau tidak? Bagiku sudah terlalu cukup menyimpulkan. Aku tidak bisa mencintaimu. Tapi aku juga tidak ingin kehilanganmu sebagai sahabat. Aku benar benar telah menjadikanmu sebagai sahabat yang aku tidak ingin terpisah darimu. Sahabat yang benar-benar bisa saling mengerti, tanpa saling memiliki. Aku selalu merasa kau mengerti aku, sampai kau katakan kau mencintaiku. Ingin kusampaikan kepada hatimu yang paling dalam. Sebenarnya aku disana bukan karena kamu mencintaiku.

Kamu hanya sudah terlalu terbiasa denganku, sehingga seolah kamu tidak bisa kehilangan aku. Seolah kamu benar-benar mecintaiku. Tidak, aku yakin tidak. Kamu terlalu bergantung kepadaku selama ini, sehingga kamu merasa kamu mencintaku. Kau ingin menawariku masa percobaan untuk saling bersama, saling memahami, dan mungkin akan membuat kita saling jatuh cinta. Bagaimana jika kamu kutawari sebuah jalan lain. Mari kita masing-masing saling memisahkan diri. Bukan menjauh, tetapi saling membuka persahabatan bersama orang lain. Saling menambah kesibukan, saling menambah pertemanan. Kau akan sadari, aku bukan apa-apa di hatimu, kecuali sahabat yang benar benar saling mengerti.

Kita, bisa saling bersama tanpa saling memiliki, apalagi saling mencintai. Kita hanya perlu tahu, seberapa dalam hati kita saling menyimpan masing-masing. Dan kau tau pasti, di hatiku, ada dia. Jauh didalamnya ada dia. Kau sudah tau sejak lama. Dan jika, kemudian kau tetap memaksakan bahwa kau mencintaiku, aku tak sanggup untuk mengatakan hal hal klise. Aku tidak bisa menjawab dengan perkataan sok bijak, bahwa cinta tidak harus saling memiliki. Karena kau sangat tahu, bahwa aku yang selalu berteriak-teriak di depanmu, bahwa CINTA HARUS MEMILIKI. Aku juga tidak pernah bisa mengamini, kalimat yang selalu membisikkan, “lebih baik dicintai daripada mencintai”. Aku tak mau berbisik kepadamu dengan perasaan yang seolah tegar tetapi rapuh. Tidak ada yang lebih baik antara mencintai atau dicintai. YANG TERBAIK IALAH SALING MENCINTAI. Mengatakan mencintaiku, akan menjadi jurang yang memisahkan kita. Dan jembatannya hanyalah sapa yang semakin hari, semakin getir. Dan jika perasaanmu menjadi dinding, semakin hari semakin tebal dan tinggi, maka satu satunya lubang yang menymbungkan mata kita, hanya tetes-tetes air mata ketika mengingat masa lalu. Aku tidak ingin itu.

Aku tidak ingin apapun memisahkan persahabatan kita. Aku tidak ingin. Dan jika kau tau cara terbaik untuk membuat cintamu tersampaikan, maka buatlah aku jatuh cinta kepadamu tanpa pernah mengatakan kepadaku. Karena sebagai seorang sahabat, aku akan selalu berdoa, agar orang yang kau cintai itu, mencintaimu pula.

Komentar