oleh

Mimpi Semalamku

-Puisi-478 views

Oleh : Katharina Woli Namang

Mimpiku semalam membuatku ingin berlama-lama dalam bunga tidurku. Mimpi dimana aku bertemu seorang wanita cantik yang sedang menolong seekor burung nuri yang terluka di bagian sayap, dekat selokan taman kota Swaolsa Titen Lewoleba. Wanita cantik itu berkalung emas dengan mainan kunci yang terbuat dari berlian, yang menambah pesona pada wanita cantik itu. Aku mendekati wanita cantik itu untuk berkenalan. Ketika aku hendak menyapa dia, tiba-tiba, plaak. Aku terbangun dari tidurku. Ah, sial. Aku ditampar Kakakku karena kesiangan. Jengkel bercampur malu, aku bangkit dari tempat tidurku.

Selesai mandi pagi, aku menuju beranda rumah dengan segelas kopi panas di tangan kanan dan sebatang rokok yang kuselipkan di antara jari telunjuk dan jari tengah tangan kiriku. Saat aku sedang menikmati suasana santai, kenyamanan aku dapati ketika angin pagi yang berhembus pelan, seakan menyapa tubuhku yang kesejukan. Karena kesejukan, aku pun menyeduh kopi hangatku. Seduhan pertamaku menghantar aku kembali teringat pada sosok wanita cantik dalam mimpiku semalam. Aku segera menghabiskan kopiku itu dalam sekali minum, dan langsung berlari ke dalam rumah mengambil kunci motorku. Dengan ngebut, aku arahkan motor tua kesayanganku menuju ke tempat yang ada dalam mimpiku itu. Berharap mungkin-mungkin aku bisa bertemu wanita caantik itu di sana. Dalam waktu kurang lebih lima belas menit, aku sampai di taman kota tepatnya di dekat selokan dimana wanita cantik itu menolong burung nuri. Ah, sial. Aku tidak melihat sosok wanita cantik itu. Aku kecewa. Dengan kesal aku arahkan motor untuk kembali dan mencari kesenangan yang mungkin dapat membuatku lupa dengan wanita itu.

Dalam perjalananku kembali, aku masih saja melamun mengingat wanita cantik tadi. Aku tidak mengerti dengan perasaanku ini. Tuhan, jika wanita yang tidak pernah kukenal ini adalah jodohku yang Kau tunjukkan, aku mohon, pertemukan aku segera dengannya di dunia nyata. Aku ingin sekali bertemu dengannya. Dalam lamunan aku tiba-tiba saja kesal dengan kakakku, karena membangunkanku dari mimpi indahku. “Uh, seandainya kakak tidak membangunkanku, pasti aku dapat lebih lama bersama wanita itu walaupun hanya di dalam mimpi. Malam ini aku akan tidur lebih awal”. Aku berharap, malam ini aku bisa bermimpi bertemu wanita berkalung emas dengan mainan kunci berlian itu. Kami akan sama-sama merawat burung nuri yang terluka itu. Aku tidak akan bangun untuk kedua kalinya dari mimpi, walaupun disiram dengan air selokan sekalipun.

Tidak jauh dari Taman Kota, tiba-tiba aku dikejutkan oleh pertengkaran dua orang di tepi jalan. Keduanya saling beradu mulut mempertahankan siapa yang benar dan siapa yang salah sehingga terjadi kecelakaan itu. Pria itu sepertinya sangat marah, karena tabrakan antara keduanya menyebabkan lampu motornya pecah. Dengan segera aku menepikan motor tuaku dan berlari menghampiri kedua pengendara motor yang bertabrakan itu. Aku sedikit dibuat jengkel, sebab pria separuh baya itu langsung membentakku. “Kau jangan ikut campur (sambil mengacungkan jari telunjuk tepat di mataku)”. Aku menyikapi amarahnya dengan tetap tenang. Aku melihat seorangnya lagi tampak cantik dengan pakaian yang sexy yang sobek pada bagian pinggang. Aku hampiri orang itu dan menyapa dengan lembut. “Nona. Bagaimana keadaannya?”. Orang itu hanya diam sambil membuka helm dan masker yang menutupi sebagian wajahnya. Aku terkejut bukan kepalang. “Aku baik-baik saja”, jawabnya. Aku seperti bermimpi. Aku tidak menyangka bahwa kejadian ini terjadi. Ternyata orang yang dari tadi dimarahi oleh pria tadi adalah seorang banci. Seorang banci yang telah membuatku berlari dengan semangat empat lima membelanya. Sial, dengan lembut aku menyapanya dengan sebutan nona kerena kupikir dia seorang wanita, ternyata seorang banci. “Syukurlah” balasku. Aku melangkah dengan cepat meningggalkannya. Segera kuarahkan motor ku menuju rumahku.

Dalam perjalanan kembali aku tertawa kecil karena mengingat sapaan lembutku pada seorang banci.Dalam hidupku baru kali ini sapaan yang begitu lembut keluar dari mulutku, namun sialnya sapaanku salah sasaran. Namun dalam tawaku masih saja aku kembali teringat pada wanita dalam mimpiku. Bukannya bertemu wanita itu, malah bertemu seorang banci.
Sesampainya di rumah, langsung kuparkir motorku dan masuk ke dalam rumahku. Segerah kurebut remot tv dari tangan kakaku. Kuotak-atik remot mencari siaran, berharap ada acara yang baik buat ditonton. Namun mungkin karena kekesalan akibat kesialan yang terus kualami, aku tinggalkan kakaku dan pergi ke kamar. Kurebahkan tubuhku ke kasur lembut kesayanganku. Masih saja terbayang mimpiku, kutarik napas mengingat sosok wanita dalam mimpiku. Aku pun tertidur. kira-kira jam lima aku terbangun dari tidurku. Segera kuraih handuk yang tergantung di balik pintu dan beranjak menuju kamar mandi. Setelah selesai mandi, kuambil hanpond dengan niat browsing, kubuka facebook untuk mencurahkan semua resahku lewat status facebook. Mungkin dengan berbagi resahku di dunia maya, aku akan dapat terbebas dari semua gunda, pikirku.

Senja mulai menyapa, resah menjadi tema.
Ada rasa dimana rindu ketika senja
Bayang ragamu terpampang indah pada dataran awan jingga
Semua berubah ketika sunset terambang di mulut jagat raya
Seakan ditelan ufuk bersama jiwa yang resah
Kau datang dalam tidak sadarnya raga
Kau pergi dengan sadarnya jiwa
Bayangmu seperi raga
Membalut erat daging tulang dan darah

Selesai menulis, kututup laptop dan mengambil kunci motor lalu pergi meninggalkan rumah. Semua resah yang kualami mulai buyar, karena keresahanku telah tertuang pada tulisanku di dunia maya. “Malam nanti akan kubuka kembali tulisanku. Mungkin salah seorang anak dari W.S Rendra telah mengomentari tulisanku. Hahaha”, celetukku. Wanita dalam mimpi itu secara tidak sengaja telah membuka gapura sastra untukku. Suatu saat nanti, akan tiba saatnya aku disejajarkan dengan penyair Si Binatang Jalang dan Si Burung Merak. Aku akan dijuluki sang penyair yang terlahir oleh keresahan.

Komentar