oleh

Aku pun Terbungkam

-Puisi-874 views

Sekian lama waktu yang aku ukur tak jua berumur. Sejenak pun waktu terguntur. Dan ketika hari aku pijakan pada sebuah harapan mimpi, waktu yang terus menjulur meninggalkan jejak ku. Aku terpaku dianatara riang dan aku terlen, betapa kegagalan demi kegagalan sesunguhnya telah bermain mencerai beraikan asa.

Bahwasanya tak ada hari, bulan, dan tahun yang terulang kembali, sebab waktu itulah yang melahirkan ruang, dan sebaliknya juga ruanglah yang meluruhkan waktu. Maka buatalah sebanyak mungkin waktu, dan luruhkan sebanyak mungkin ruang. Ruang yang tidak kita tempatkan sebenarnya adalah, waktu yangtelah terbuang sia-sia.

Semoga waktu yang sudah terlewatkan dan yang akan dijalani, akan dijadiakan ruang yang begitu luas dan tak terhingga. Sehingga aku pun bisa bernafas di sana dan melanjutkan perjalanan ku, mencari sebuah arti dari mimpi-mimpi ku. Dan inilah kisah sang musafir yang berkelana, mengembara untuk mencari sebuah arti kebahagiaan sejati, dalam lelahnya aku melangkah bahkan tapak kaki pun sudah bernanah dan berdarah.
….
Bintang-gemintang berkerlap-kerlip dan rembulan terlihat jelas sekali didekat jendela kamarku. Aku berbaring di atas permadani di kamarku . menatap indahanya rembulan dan bintang malam dari kamarku.

‘’Apakah besok rembulan masih bisah kutatap sambil berbaring di atas permadani di kamar ini?’’. Pikir ku dalam dalam hati, sembari membaringkan tubuhku di atas kasur kamarku, dan aku pun tertidur lelap.

Sementara aku terlelep dalam buaiyan tidur malam ini, dan malam sementara membenamkan terang. Dalam mimpiku, aku sementara duduk di atas sebuah bukit gersang berbatu, di atas sebuah batu besar aku duduk dengan tatapan yang kososng. Aku menatap mengarah kehamparan semesta, memandang cakrawala yang begitu luas.

‘’Aku sudah berkelena sejauh ini, mendatangi bebrbagai tempat, tapi masih saja belum kutemukan kebahagiaan yang sejati!’’.

Pikirku dalam hati sambil duduk merenung. Sementara aku sedang merenugkan sesuatu, tiba-tiba ada suara yang seduh memecahkan kekosonganku.

‘’Nak….., sedang apa engkau disisni?. Duduk sendiri…. Sesuatu apa yang sedang engkau pikirkan di sini Nak..?’’.

Tanya seorang kakek tua berambut putih dan berjangut panjang kepada ku.
Seakan penuh sesal dan kesal aku menjawab pertanyaannya.

‘’Aku lelah, aku sudah berkelana sejauh ini, naik gunung turung gunung, melewati lembah belukar, naik bukit berjalan di atas kerikil yang tajam, kakiku penuh dengan darah dan nanah, demi mencari suatu kebahagiaan sejati. Namun tak kujung aku dapati sesuatu yang aku cari itu’’.

Aku menjawabnya dengan nada tergesa-gesa, sambil menoleh ke arahnya’

‘’Apakah engkau ingin menyerah Nak..?. Sepintas tanya kakek tua itu kepada ku.

‘’ Yah.. mungkin itu kata yang tepat untuk saat ini kek!’’. Jawabku dengan nada yang sedikit melemah.

‘’Janganlah engkau menyerah nak… masih banyak waktu untuk mu’’.

Katanya lagi., seakan dia tak ingin akau menyerah begitu saja dengan kondisisku.

‘’Aku adalah orang yang paling tak beruntung dan malang di dunia ini kek!’’.
Sesalku dalam hati. Aku kembali murarn dan bersedih.

‘’Nak …, ketika kamu bersedih apakah kamu merasa bahwa engkau adalah seorang yang paling tak beruntung di dunia ini?‘’ Tanyanya kakek itu lagi kepadaku. Aku seakan diam dalam seribu bahasa.

‘’Nak sesedih apa pun dirirmu, dan semalang apa pun dirirmu, kamu pasti pernah berguna bagi sesuatu. Berjuanglah terus nak…, ibarat seperti Matahari, ia terus bercerah walaupun nantinya akan menjadi senja dan menghilang di telan malam, namun besok ia akan dating dan hadir lagi, dengan cahayanya yang tetap cerah.’’

Jelas kakek tua itu lagi kepada ku, seakan-akan Ia membangkitkan semangatku.

‘’Lalu….., Aku mesti bagaimana? dan kemana ku harus melangkahkan kakiku?’’.

Tanya ku kepada kakek itu. Sambil menarik nafas dalam-dalam dan merasakan kenyamanan udara yang berhembus ke tempat aku duduk.

Pertanyaanku yang aku lemparkan tadi seakan-akan membungkam segala situasi. Aku terlena dalam diam , begitupun juga kakek tua itu. Seketika itu juga aku mematung, bibirku terasa keluh. Aku tak tau apa yang harus aku katakan. Tiba-tiba beberapa bulir air mata ku menetes dan terjatuh ke hamparan semesta.

Kakek tua itu memandang ku, seakan-akan dia turut ikut dalam bersedihan ku.

‘’Nak.. apa yang engkau pikirkan?’’ Tanya kakek tua itu lagi kepada ku. Memecahkan usik tangisku. Manik mata ku pun kini terbuka lebar.

‘’Aku tak tau apa yang mesti harus aku perbuat lagi sekarang, setelah aku memutuskan untuk mengembara dan berkelana ke tanah-tanah yang begitu asing sekali bagi ku,demi mencari sesuatu yang belum pasti aku dapatkan.

Awalnya aku berpikir bahwa, aku akan mendapatkan suatu kebahagiaan yang sejati. Tapi semuanya berbanding terbalik dengan kenyataan yang aku rasakan, semuanya menambah keluhku. Kebahagiaan itu belum kudapatkan’’.

Jawabku kepadanya. Sembari aku membenam luka yang amat dalam.
Putus asa, mungkin hanya itulah kata-kata yang mewakili perasaan ku saat ini.

Haruskah aku mnenyalahkan diriku sendiri. Di saat aku melihat realita yang berbanding terbalik dengan apa yang aku impikan pada awal perjalanan ku ini. Dan saat pun ini sempat aku merasakan ketidakadilan mengenai jalan Tuhan yang diberikan kepada ku. Sesalaku dalam hati..

‘’Nak… Dengarlah aku. Engkau harus ingat bahwa sebenarnya, untuk mencapai semua mimpi-mimpi mu itu, tidak sedikit waktu dan tenaga yang engkau keluarkan. Tak jarang pula air mata akan mengirirngi langkah kaki mu, untuk mencapai semua keinginan mu itu. Tapi engkau harus yakin bahwa Tuhan pasti punya jalan lain untuk kehendak yang engkau jalani itu’’.

Dengan mata yang sayu, aku menatap kakek tua itu, sambil mendengarkannya berbicara.

‘’Akankah aku terus berjalan melanjutkan apa yang sudah aku mulai dari awal, ataukah akau harus kembali dan memulainya dari awal lagi?’’. Serontak tanyaku pada kakek tua itu.

‘’Semua keputusan ada pada dirimu nak, pertimbangkalah semuanya dengan baik!’’ Jelas kakek tua itu pada ku, seakan ia tak setuju dengan pertanyaan yang aku berikan tadi.
…….
Sementara langit masih gelap tak ada satupun cahaya yang ku lihat . kecuali cahaya bulan yang masih mernyinari sisi ruangan ku. Secara perlahan cahaya bulan itu meredup, ia beranjak ke tempat peraduanya, dan cahaya Matahari yang mulai menyinari dan mulai menyelinap masuk kesetiap sudut ruangan ku.

Mentari telah menyapa hari baru ku dengan cahayanya yang indah. Mimpi yang barusan mengindahkan tidurku, membuat aku bersemanagat utuk memulai hari baruku.

Langgit jingga yang muncul telah membawa sejuta harapan yang sedang ku impikan .

Beginilah kebiasaan ku , setiap kali hari baru menyapaku, bakal kusapa dengan ulasan senyum manis , sambil menatap langgit jingga yang muncul di ufuk timur. Inilah yang selalu menyadarkanku bahwa kemarin adalah mimpi, besok adalah khayalan, dan sekarang adalah kenyataan yang menuntut ku untuk selalu melewatinya dengan baik.

Aku menatap jam weker yang ada di sampingku. Jam sudah menunjukan pukul 6:30, aku harus mempersiapkan segala sesuatu utuk ke sekolah, aku beranjak dari tempat tidurku dan bergegas mempersiapkan diriku untuk beran gkat kesekolah.

‘’Aku harus tetap berjuang’’ mimpi yang tadi malam telah membuat semangatku bagkit.

Catatan dari penulis: (Manusia adalah pencari kebahagiaan, sedangkan pemilik kebahagiaan sejati adalah Tuhan, kebahagiaan yang dimiliki oleh manusia adalah kebahagiaan yang semu, dapat hilang karena satu masalah. Sedangkan kebahagiaan yang dimiliki oleh Tuhan adalah kebahagiaan yang kekal tak terhilangkan).

 

Oleh: Agustinus M. Samuel, tinggal di Ketang Manggarai, NTT

Komentar

Jangan Lewatkan