oleh

Banjir; Dulu dan Sekarang

-Puisi-266 views

Selain bersejarah, Papa merasa kehidupan kampung itu cocok baginya. Banyak orang menyapa, ajak bicara, atau sekadar meminta izin untuk memetik Buah Mengkudu yang tumbuh di halaman rumah. Apalagi kampung kami tak jauh dari perusahaan roti favorit; Citarasa. Tiap kali Papa pergi meninggalkan Surabaya, Mama membekali Papa dengan Roti Tawar Citarasa.

Mama juga menikmati hidup di kampung. Banyak tetangga, artinya banyak yang menolong. Di kampung kami, saling membantu adalah hal biasa. Ada yang bisa dititipi belanjaan, ada yang sigap antarkan kita jika kita sakit atau cidera olahraga. Pertolongan bisa datang dari siapa saja, kapan saja.

Kampung kami dari dulu kerap kebanjiran jika puncak musim penghujan datang. Anak-anak bersenang-senang, bermain dengan banjir itu. Kampung Malang berubah bak kolam renang raksasa yang menyenangkan. Kenapa menyenangkan?

Sebab banjir hanya ada di jalan, meski terkadang masuk ke rumah. Saat itu, rumah lebih tinggi dari jalan, dan hampir semua rumah punya halaman, bangunan berjarak dari jalan. Wilayah serapan air lebih banyak dari sekarang. Kami punya banyak lapangan, tanaman dan pepohonan.

Sejak akhir 90-an, kampung-kampung sebelah meninggikan jalan kampung mereka. Dampaknya, kampung yang meninggikan jalannya, tak kebanjiran, namun kampung di sekitarnya makin mudah banjir. Akhirnya, tiap kampung berlomba untuk meninggikan jalan kampung mereka.

Entah sudah berapa kali dan berapa tinggi jalan kampung ditinggikan. Jalanan kampung tak mudah kebanjiran memang, sebab air dari jalan masuk ke rumah-rumah yang tiap tahun makin rendah, lebih rendah dari jalanan.

Bagi Papa, solusi banjir tak bisa hanya dengan meninggikan jalan agar selokan lebih dalam. Jauh lebih dari itu, bagaimana agar tiap rumah menanam pohon, menjadikan secuil areanya punya lahan resapan, yang diikuti dengan disiplin tak membuang sampah di jalan dan selokan.

Papa pernah bilang, “Kalau banjir kan orang diam di dalam rumah, bukan berlama-lama di jalan. Jadi sudah seharusnya rumah aman dari banjir. Bukan jalannya yang dibikin tidak banjir, tapi rumah-rumah pada kebanjiran. Lihat, banyak dokumen dan buku-buku Papa rusak.”

Dulu di Kampung kami dan sekitarnya, tiap Minggu pagi ada kerja bakti massal di semua RT dan RW. Setiap rumah digilir, siapa yang sumbang tenaga, siapa yang menyediakan konsumsinya. Ada beberapa rumah yang dibebaskan dari dua kewajiban ini. Mereka biasanya keluarga lansia miskin. Namun itu dulu, ketika jiwa gotong royong perkampungan di Surabaya masih sangat kuat.

Dengan ditinggikannya jalan, absennya kerja bakti massal, hilangnya area resapan, keluarga miskin makin menderita. Di kampung kami, banyak tetangga yang secara finansial tak mampu renovasi, tinggikan rumahnya. Yang selamat, hanya mereka yang punya uang.

“Kenapa sekarang sudah tidak ada kerja bakti lagi?” sesal Mama suatu ketika, setelah banjir reda. Banjir, kini sama sekali tak menyenangkan.

 

Moskow, 6 Juli 2020
26 hari setelah kematian Peter Apollonius Rohi

Oleh: Joaquim Lede Valentino Rohi

Komentar

Jangan Lewatkan