oleh

Bungsu

-Puisi-385 views

Mungkin ini yang disebut dengan ‘Jalannya Tuhan’, bukan suatu kebetulan.

Saat itu di kampung kami ada beberapa bayi baru lahir. Setiap kali ada bayi baru lahir, tetangga ramai mengunjungi, turut berbahagia, itulah kehidupan perkampungan Surabaya dulu. Tiap saya ikut mengunjungi rumah yang punya bayi baru lahir, saya selalu ditanya, “Kamu tidak ingin punya adik?”

Selama 9 tahun lamanya saya adalah anak bungsu di keluarga. Sebagai anak bungsu yang punya sakit paru-paru serius, dan patah tangan dua kali, saya dimanja, meski tak semua keinginan saya dituruti. Suatu saat saya bilang, “Nanti ulang tahun tidak usah beli buku. Kadonya adik aja.”

Beberapa kali Mama Papa diam-diam meninggalkan kami di rumah. Entah ke mana. Karena penasaran, saya yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) menguntit mereka suatu malam. Saya berusaha tidak terlihat, dari rumah sampai Bioskop Ria. Berjalan kira-kira 2 KM jauhnya.

Begitu mereka masuk bioskop saya berlari memeluk Mama. Mereka berdua kaget. Jadilah saya ikut nonton Blue Thunder, film tentang helikopter itu, dengan bercelana pendek dan sandal jepit saja. Pulang dari sana, kakak-kakak panik, mereka bingung saya menghilang dari rumah begitu lama.

Beberapa bulan (mungkin juga setahun) berikutnya, Mama hamil lagi. Kami semua gembira. Namun, di tengah jalan, Mama selalu kesakitan. Saya selalu menemani Mama kontrol ke dokter. Dokter suka melingkari perut Mama dengan bolpoin (atau spidol?) hitam.

Sempat saya mendengar Papa Mama ingin ‘menyerah’. Di kemudian hari Papa Mama juga menceritakan hal ini kepada saya. Mereka tidak jadi ‘menyerah’ tiap kali melihat betapa antusiasnya saya menunggu kedatangan adik. Dengan segala rasa sakit dan resikonya, Mama terus berjuang.

Hari yang dinanti tiba.

Surabaya masih gelap ketika Papa membawa saya ke RS William Booth, menunggu hingga beberapa jam berikutnya. Papa sudah menyiapkan dua nama; nama laki-laki dan nama perempuan.

Willmar diambil dari nama saudara dan kerabat Papa (Wilhelmus) dan nama Rumah Sakit William Booth. Donataga jika lelaki, Anataga jika perempuan. Dona terinspirasi Diego Armando Maradona, pemain favorit Papa saat itu. Kant dari Immanuel Kant.

Matahari Desember bersinar terang ketika adik saya lahir. Hari itu, saya sungguh sangat berbahagia, dapat kado istimewa dari orang tua.

Sebuah keputusan yang tepat, perjuangan yang tidak sia-sia, ketika Mama dan Papa tak jadi ‘menyerah’ atas rasa sakit yang dialami Mama. Sebab kemudian hari, adik bungsu saya inilah anak satu-satunya yang berada di samping Mama ketika Mama tiada. Dia juga satu-satunya yang merawat Papa, hingga nafas Papa yang terakhir.

 

Moskow, 11 Juli 2020
31 hari setelah kematian Peter Apollonius Rohi

Oleh: Joaquim Lede Valentino Rohi

Komentar

Jangan Lewatkan