oleh

Cerita untuk Kakak Ames (10)

-Puisi-128 views

10 Oktober 1996, di hari ulang tahunku, Opa memenuhi janji kepada Oma untuk membawaku pulang. Tiba kembali di rumah, sejak Juli bersembunyi, semua rindu dan kemarahan tertumpah jadi satu. Marah pada negara, rindu pada keluarga. Namun, semua itu hanya berlangsung dalam hitungan jam saja, ketika warga Kampung Malang mengabarkan kedatangan tentara.

Secepat kilat aku bangun, menyambar tas, lalu pergi lagi, hanya dengan sandal, kaos singlet, dan celana pendek. Aku lari dari rumah satu kawan ke kawan lainnya. Aku beruntung, tak ada yang menolak kehadiranku. Dalam pengalaman kawan-kawan, ada cerita tentang penolakan, tentang pengkhianatan, juga tentang ikatan yang semakin kuat satu dengan lainnya.

Pertama lari dari rumah, aku ke kontrakan orang-orang Timor di Wonorejo. Tidak jauh dari rumah, dan mudah dalam koordinasi dengan Opa Oma. Toh aku tak bisa pergi jauh dengan hanya kaos singlet, celana pendek dan sandal jepit itu. Mirip gembel.

Aku butuh baju tentu saja, serta sejumlah uang, buku bacaan dan alat tulis. Saat di Wonorejo, aku melihat drama televisi yang menyudutkan para aktivis demokrasi ditayangkan berulang. Situasi gawat. Aku melihat mereka mulai cemas.

Lalu aku berkemas, pamit, pergi lagi ke rumah kawan lainnya, begitu seterusnya, hingga akhirnya Mama menemaniku menyingkir jauh ke tanah Timor, kampung orang tua, kampung halaman Opa Oma. Semua saudara mendukung, hilang rasa takutku.

Di Timor aku mulai memanjangkan rambut.

Sampai keadaan mulai reda, kami kembali ke Surabaya. Tiba di Surabaya, Mama pulang ke rumah, aku tidak. Saya menumpang di kost kakak sepupu, Daniel Rohi, yang adalah Ketua Cabang Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia di Surabaya. Setelah beberapa hari di sana, kami menuju ke Tegalsari, sekretariat GMKI Surabaya.

Itu awal aku bergabung dengan GMKI. Aku tinggal di sana, bahkan ketika kehidupan mulai berjalan normal. Aku kadang tidur di meja rapat, kadang di aula, atau di mana saja di sekretariat tersebut. Aku juga memasang tangga untuk lari ke perkampungan belakang sekretariat jika sesuatu yang buruk terjadi.

Sony Saragih, banyak sekali mambantuku. Mulai dari menguruskan cuti kuliah, hingga menjadi kurir pesan antara aku dan teman-teman yang bergerak di bawah tanah.

Dari tangan Sony, aku menerima surat dari Raharja Jati Waluyo, juga di tangannya aku menitipkan kembali pesan buat Jati dkk. Aku diminta Jati untuk terlibat aktif dalam aktivitas propaganda dan mendistribusikannya. Kawan-kawan tetap dalam posisi memobilisasi massa, menjaga semangat perlawanan terhadap Soeharto.

Aku mulai menulis, mengumpulkan tulisan, memperbanyak, dan mendistribusikan tulisan-tulisan itu. Ada yang bentuknya newsletter, ada yang selebaran biasa, ditempelkan di kampus, dibagikan di perkampungan buruh, dan dibicarakan di kalangan kaum miskin perkotaan. Nama samaran yang kugunakan saat itu Iin. Berharap aparat terkecoh, berpikir penulisnya adalah perempuan. Berharap aparat melupakanku.

Ketika represivitas Orde Baru melonggar, kami makin mudah berkoordinasi, makin gencar lakukan perlawanan kembali. Namun, aku belum berani kembali ke kampus, hingga pada suatu malam; English Night, acara musik tahunan yang diselenggarakan oleh Universitas Airlangga.

Dengan rambut panjang, penampilan baru, aku malam itu ke kampus. Mulai mencari teman-teman lama, namun tetap dalam kewaspadaan tinggi. Ketika melihat kumpulan kawan-kawan, aku mendekat, duduk berlama-lama tanpa menyapa. Aku duduk dekat David Kris. Ia tak mengenaliku, yang sedari tadi menguping pembicaraan mereka.

Sepertinya aman!

Menjelang bubaran, aku menyapa mereka yang pangling dengan penampilanku. Pertemuan yang kaku, juga mengharu biru. Tak lama kemudian kami mulai sering bertemu. Kami bertemu di kampus saat malam hari, terkadang alkohol menemani pembicaraan kami.

Setelah itu, aku kembali ke kehidupan kampus. Semua dosen dan teman menerima dengan kangen, tanpa takut, tanpa stigma yang disematkan kepadaku, juga kepada teman-teman yang baru keluar dari persembunyian dan penahanan.

Kehidupan perkuliahan dan perlawan kembali ke titik sebelumnya. Dari kampus FISIP Universitas Airlangga ini, perlawanan dan segala perdebatan metode gerakan yang turut menjatuhkan Rejim Soeharto berawal.

Saat aku belum bisa kembali ke rumah, masih tinggal di Tegalsari, Oma sering datang berkunjung, membawa masakan dalam jumlah besar. Oma masak buat semua orang, tentu saja para mahasiswa di sana senang. Oma juga membawakan untukku buku-buku, termasuk Selamat Pagi Surabaya, buku kumpulan tulisan Opa di Harian Memorandum.

Oma mengabarkan bahwa tentara sudah mulai jarang ke rumah. Bahwa dokumen-dokumenku masih dikubur di tanah, terbungkus plastik. Oma juga cerita, bahwa beberapa kali Opa Oma iseng mengelabui tentara.

Pernah suatu kali mereka berdua sengaja keluar, berjalan kaki menuju Pasar Kembang, di ujung Wonorejo III. Tentara mengikuti mereka. Oma masuk wartel, tanpa menelpon siapa-siapa. Kemudian keluar dari sana, berjalan pulang. Mereka sepertinya senang mengajak jalan-jalan tentara-tentara itu. “Seperti jalan-jalan tapi punya pengawal.”

Betapa beruntung aku punya mereka. Heroik!

Oma Opa cukup berani mengambil resiko. Selain menyediakan rumah Surabaya digunakan sebagai tempat berkumpulnya aktivis, setidaknya Oma mengijinkan dua buronan negara untuk bersembunyi di kamar atas rumah Surabaya; Heru Krisdiyanto dan Dwi S. Budiono.

Heru, aku lupa, apakah karena dia dituduh sebagai dalang pembakaran Kantor Golkar Jatim, atau kasus lainnya. Yang kuingat dari Korlap Aksi spesialis bentrok ini, dia menjahit kawat nyamuk kamar atas yang sobek agak panjang, mencegah nyamuk masuk. Dia juga ingat, bahwa malam pertama di kamar itu hujan turun deras sekali, lalu kami mulai menguras air keluar dari kamar yang bocor di mana-mana.

Heru yang kembali, keluar dari persembunyian, tak punya tempat tinggal. Jadilah untuk sementara ia tinggal bersama Opa Oma di rumah. Kini ia berkarir sebagai jurnalis, tahun lalu ia jadi caleg Partai Amanat Nasional (PAN).

Dwi S. Budiono, menghindari panggilan paksa aparat. Dia lolos ketika suatu subuh beberapa tentara mendobrak masuk pintu depan rumahnya. Aku juga lupa apa tepatnya tuduhan yang dijatuhkan oleh negara. Maklum, negara bisa menuduh apa saja, kepada siapa saja. Itulah kehidupan di bawah Soeharto. Jangan terulang. Jangan lagi. Nunca Mas!

Aku lanjutkan besok ya. Peluk cium untuk adik-adikmu.

PS: Aku penah menuliskan ini untuk memenuhi janji kepada seseorang. Kuubah sedikit, dan kukirim untukmu kini.

 

Moskow, 15 Agustus 2020
Oleh : Joaquim Lede Valentino Rohi

Komentar

Jangan Lewatkan