oleh

Cerita untuk Kakak Ames (11)

-Puisi-281 views

Bagaimana perayaan 17 Agustus-an di rumah selama pandemi? Kamu harus bisa menceritakannya, dengan bahasamu sendiri. Berlatihlah untuk menjadi mata dan telinga bagi adik-adikmu. Mungkin bagimu ini adalah hal yang sepele.

Sesungguhnya tidak. Nanti aku akan cerita bahwa kata adalah senjata. Sebagaimana dituliskan dalam kitab suci, bahwa pada mulanya adalah firman, adalah kata. Aku janji soal ini akan jadi diskusi kita selanjutnya. Sekarang kita bicara tentang perayaan dan kemerdekaan.

Di kampung kami dulu selalu ada banyak kegiatan, mulai dari kerja bakti, lomba-lomba dan hadiah, juga tumpengan dengan melibatkan semua warga. Itulah kegembiraan kami saat memperingati kemerdekaan. Namun, saat itu kampung masih punya banyak tanah lapang, jalan masih terasa lebar.

Opa punya cara untuk menambah kegembiraan anak-anak di Kampung Malang, Surabaya. Suatu kali, Opa memotret aktivitas 17 Agustus-an, lalu memuatnya di koran, kalau tidak salah, Suara Indonesia. Opa pulang membawa koran tersebut, menggunting foto dan keterangan foto, lalu menempelkannya di depan rumah. Semua orang, tua muda, berkerumun melihat diri mereka ‘masuk koran.’

Semua orang senang. Siapa yang tidak senang melihat dirinya terpampang di media massa? Sesuatu yang jarang, bahkan langka pada saat itu. Kala itu, tak ada media sosial seperti sekarang, yang ada hanya televisi, radio, dan media cetak. Tak sembarang berita, tak sembarang foto bisa masuk media umum.

“Kegembiraan di Kampung Malang!” Jika aku tak salah ingat, begitu keterangan foto pada foto itu. Hal sederhana, namun berhasil buat ‘rakyat’ di Kampung Malang, Surabaya bergembira. Kamu tentunya juga bisa lakukan hal serupa; lakukan hal sederhana, yang kamu bisa, namun bermanfaat bagi semua. Itu sudah lebih dari cukup.

Untuk dapat menjadi pencerita yang baik seperti Opa, kamu juga butuh banyak mendengar, mengamati, dan membaca. Kamu bisa juga seperti Opa, berlatihlah mulai dari sekarang.

Masih ingatkah kamu ketika aku bilang bahwa negara mengontrol ketat arus informasi, baik di media dan bacaan umum? Nah, begitu pula sejarah. Oleh Orde Baru semua sejarah dibengkokkan. Tidak bisakah, sejarah berjalan apa adanya, tanpa diganggu oleh setiap orang yang berkuasa? Aku berharap bisa, tapi sejarah memang dituliskan oleh mereka yang berkuasa.

Misalnya apa?

Di sekolah, tak pernah ada penjelasan konret mengapa pada peristiwa perang besar di Surabaya, yang tertembak mati adalah Jenderal dari Inggris. Megapa pada peristiwa perobekan bendera Belanda di Hotel Yamato itu, justru pasukan elit Inggris yang mendarat di Surabaya? Bukankah kita berperang dengan Belanda, bukan dengan Inggris?

Apa yang terjadi di Eropa, yang berpengaruh pada peristiwa 10 November 1945 tak diceritakan di sekolah dulu. Aku kecewa. Sama seperti Perang Pasifik, tak begitu dijelaskan bagaimana itu mempengaruhi proses kemerdekaan kita. Nanti aku bercerita tentang ini buatmu.

Di sekolah, kamu diajarkan tentang peristiwa penculikan Rengasdengklok oleh para pemuda menjelang 17 Agustus 1945. Apakah peristiwa Rengasdengklok adalah sebuah drama penculikan kaum muda terhadap Soekarno-Hatta?

11-12 Agustus 45, mahasiswa mulai mendengar kabar kekalahan Jepang di radio militer Jepang. Tanggal 14, berita kekalahan Jepang tersiar luas. 15 Agustus 45, Chaerul Saleh, Wikana, DN Aidit, Djohan Nur, Subadio, Suroto Kunto, dsb. adakan pertemuan di Asrama Baperki (Badan Perwakilan Pelajar Indonesia) di Tjikini 71.

Hasilnya: 1. Kemerdekaan Indonesia harus dinyatakan melalui Proklamasi, oleh Bung Karno dan Bung Hatta atas nama Bangsa Indonesia. 2. Aidit mengusulkan agar Bung Karno ditetapkan sebagai Presiden pertama Republik Indonesia. 3. Mengutus Wikana, Aidit, Subadio, dan Suroto Kunto untuk menemui Bung Karno di kediamannya, Pegangsaan Timur 56 Tjikini.

Wikana bertindak sebagai juru bicara (jubir), mendesak Bung Karno agar menyatakan Proklamasi Kemerdekaan pada tanggal 16 Agustus 45. Menanggapi permintaan tersebut, Bung Karno katakan bahwa dirinya tidak bisa ambil keputusan sendiri. Ia meminta diberi kesempatan untuk merundingkan hal itu dengan pemimpin lainnya, termasuk Bung Hatta.

Utusan pemuda mempersilahkan. Hasil perundingan tokoh (golongan tua) itu mengecewakan. Golongan tua menolak keinginan para pemuda. Bung Hatta, yang mewakili tokoh itu, mengaku tidak bisa melangkahi Jepang.

16 Agustus 45, pukul 04.00 WIB, sekelompok pemuda membawa Bung Karno dan Bung Hatta ke Rengasdengklok. Ketika itu, Bung Karno masih tertidur di rumahnya. Ia dibangunkan oleh Chaerul Saleh, “Keadaan sudah memuncak. Keamanan Jakarta tak bisa ditanggung oleh pemuda.”

Hari itu, tak ada penculikan terhadap Soekarno-Hatta! Mata mereka tak ditutup, mereka tak berada di bawah todongan senjata. Pun ketika tiba, duo proklamator justru disambut pekik ” “Hidup Bung Karno!”oleh para pemuda.

Bahkan rumah milik Djiaw Kie Siong, seorang Tionghoa, itu menjadi saksi sejarah, sebab teks proklamasi ditulis di sana. Jadi, jika ada kawanmu atau gurumu yang rasis terhadap etnis Tionghoa, kamu bisa bicarakan hal ini juga.

Menurut versi Rejim Orde Baru, peristiwa itu adalah penculikan, buntut perdebatan antara golongan tua vs golongan muda. Golongan tua menunggu hadiah kemerdekaan dari Jepang. Sementara golongan muda inginkan proklamasi segera dilakukan sebagai upaya sendiri, bukan hadiah.

Golongan tua menginginkan Proklamasi Kemerdekaan tetap melalui PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia), demi menghindari pertumpahan darah. Sementara golongan muda menghendaki jalur aksi revolusi, yakni proklamasi kemerdekaan di tengah-tengah massa rakyat.

Golongan muda itu di antaranya adalah Sukarni, Wikana, Chaerul Saleh, DN Aidit, Sidik Kertapati, Darwis, Suroto Kunto, AM Hanafie, Djohar Nur, Subadio, dsb.

Sidik Kertapati, dalam Seputar Proklamasi 17 Agustus 1945 sebut itu sebagai “pengamanan tokoh nasional” agar terhindar dari Jepang. Versi Sidik Kertapati ini mirip dengan penjelasan DN Aidit dan Jusuf Kunto, anggota PETA yang terlibat peristiwa itu.

17 Agustus 45, teks proklamasi diketik oleh Sayuti Melik dengan mesin ketik pinjaman dari Kantor Kepala Perwakilan Angkatan Laut Jerman, Mayor (Laut) Dr. Herman Kandeler.

Besok aku akan cerita kembali tentang peristiwa menjelang Pemilu 1997 Orde Baru, yang membuatku sekali lagi dikejar tentara. Untuk sekarang aku kutipkan pernyataan Bung Besar, Sang Proklamator kita, Soekarno, 17 Agustus 1946, “Asal jiwa kita tetap jiwa merdeka, maka Republik tidak akan tenggelam, tapi akan tetap kekal dan abadi.”

Kata merdeka berasal dari Sansekerta “mahardika” yang artinya kaya raya, kuat, pintar, luhur, bijaksana. Sudahkah bangsa kita kaya raya, kuat, pintar, luhur, dan bijaksana? Simpan jawaban untuk dirimu sendiri, sekarang bergembiralah bersama kawan dan adik-adikmu.

Dirgahayu Republik Indonesia tercinta ke-75.

Peluk cium untuk adik-adikmu.

 

Moskow, 17 Agustus 2020
Oleh: Joaquim Lede Valentino Rohi

Komentar

Jangan Lewatkan