oleh

Cerita untuk Kakak Ames (12)

-Puisi-182 views

Bagaimana peringatan kemerdekaan di tempatmu? Orang menghayati dengan sungguh atau masih ada perdebatan tentang larangan hormat menghadap bendera? Bagaimana dengan perlombaan? Pasti seru dan menyenangkan bukan?

Semoga kalian masih punya tanah lapang. Semoga kalian punya masa kecil yang menyenangkan bersama teman-teman tanpa berpikir perbedaan agama, perbedaan suku dan lainnya.

Kita lanjutkan ya!

Setelah situasi represif mereda pasca perburuan 27 Juli 1996 itu, aku mulai kuliah lagi, sambil tetap menjaga kewaspadaan. Informasi beredar bahwa para dosen diminta untuk melaporkan kegiatan kami, bahwa tentara mengawasi kampus kami, bahwa intel masuk menyamar sebagai mahasiswa.

Kami tidak tahu bagaimana yang sebenarnya. Hidup dalam gelap memang tidak mengenakkan. Semua buram, semua tidak transparan, tapi itulah keseharian kami dulu.

Salah satu teman sekelasku yang banyak diperbincangkan sebagai intel adalah Basuki. Ia masuk di kelas kami pada pertengahan semester, tidak datang saat ujian, ke kampus untuk datang lalu menghilang. Ia pernah bilang, bahwa ia juga berkuliah di fakultas kedokteran (FK) Universitas Wijaya Kusuma (UWK) Surabaya. Aku tidak mengecek apakah di UWK ada FK atau tidak.

Aku pernah diajak Opa ke Pulau Rote, pulau asal Oma. Bersama rombongan Bupati Paul Lawa Rihi, kami bermobil, naik Ferri. Tiba di Ba’a siang hari, nelayan menjajakan lobster murah sekali. Harga di Jawa tentunya berkali lipat ganda.

Saat makan siang, seorang wartawan bertanya kepada nelayan yang baru dilepas pihak Australia karena mencari ikan di sekitar Ashmore Reef. Pulau pasir demikian orang Rote menyebutnya. Jauh sebelum ada perjanjian internasional ZEE 1997, pulau itu milik orang Rote, di sana orang kampung Oma bertempat tinggal, beraktivitas, mati dan dikuburkan. Jarak Rote – Pulau Pasir hanya sepertiga jarak Pulau Pasir – Australia.

Nelayan tradisional yang tak paham tentang perjanjian internasional itupun tertunduk, ketika wartawan menyudutkannya karena telah menimbulkan masalah hukum. Saat itu Opa membela nelayan tersebut. Bagi Opa, yang salah adalah negara yang tak mampu melindungi segenap tumpah darahnya. Takluk pada kepentingan asing, demi memperoleh dukungan terhadap permasalahan Timor Timur.

Australia memang peduli pada kasus-kasus HAM di Indonesia, namun ia juga punya sisi biasnya. Mereka mendukung Timor Timur, tapi siap berdamai dengan Indonesia jika diberi porsi besar Celah Timor (Timor Gap) yang kaya minyak, termasuk Pulau Pasir itu. Kamu bisa cari tahu bagaimana hasilnya kemudian.

Australia mudah menampung pelarian dari Papua, Maluku, juga Timor, tapi menolak manusia perahu dari Timur Tengah. Para pencari suaka dari Irak, Iran, dan Afghanistan seringkali dihalau kembali masuk ke perairan Indonesia. Mereka memang pemilih.

Australia membuka studi tentang teror dan kekerasan pasca Bom Bali, termasuk memberi banyak beasiswa kepada mahasiswa Indonesia. Mama Vira menyelesaikan magisternya di sana; Curtin University, Perth.

Setelah itu, perjanjian antar pemerintah (G to G) menyatakan dari skema beasiswa Ausaid itu, 80%nya adalah untuk Aparatur Sipil Negara (ASN) Indonesia. Mungkin karena ASN kita banyak yang intoleran, karena itu perlu diajak jalan-jalan, biar lebih terbuka pikiran. Mungkin. Aku tak tahu mengapa ASN mendapat porsi beasiswa dari pemerintah Australia begitu besarnya.

Kembali ke Pulau Rote

Keesokan harinya, Mbak Tutut Seoharto tiba dengan helikopter di Pulau itu. Aku tak tertarik dengan kunjungan tersebut tentu saja. Aku tertarik dengan pengawalan yang luar biasa itu, entah berapa biayanya. Biaya mengawal anak seorang Presiden kala itu pasti luar biasa, meskipun aku hanya menduga, tak punya data.

Seorang pemuda seusiaku mendekati mengajakku bicara, berusaha menggali banyak tentang aku, tampang orang kota berambut gondrong ini. Ketika aku paham ke mana arahnya, aku coba membalikkan arah pembicaraan.

Berhasil!

Ia yang kemudian banyak bercerita tentang penugasannya sebagai intel polisi, termasuk menjadi pedagang telur, dan mahasiswa di sebuah universitas di Surabaya. Aku mengingat lagi wajah Basuki. Dalam hati, aku berkata, jangan-jangan benar gossip tentang dia selama ini.

Sore harinya, aku cerita ke Opa tentang intel polisi tersebut, Opa tertawa. Kami menyusuri Pantai Nemberala yang sungguh indah itu, berdua. Sebelum kembali ke Kupang, Opa ajak untuk mencari keluarga Oma. Di sana, di pulau ujung Nusantara itu, kami bertemu dengan saudara-saudara Oma. Mereka kenal dengan Oma dan saudara-saudara kandung Oma.

Itu pertama dan terakhir, aku ke sana. Kamu harus bisa berkunjung ke sana kelak.

Besok aku cerita tentang awal 1997 dan Aliansi Mega Bintang awal pada Mei tahun itu. Untuk kedua kalinya aku jadi buronan negara. Besok ya.

Jangan lupa untuk terus belajar Bahasa Inggris, itu penting sekali.

Peluk cium untuk adik-adikmu.

 

Moskow, 18 Agustus 2020
Oleh: Joaquim Lede Valentino Rohi

Komentar

Jangan Lewatkan