oleh

Cerita untuk Kakak Ames (13)

-Puisi-265 views

Sejak kemarin aku berbahagia. Selain soal berturut-turut Presiden Jokowi memakai baju adat dari Nusa Tenggara Timur (NTT), pada perayaan Kemerdekaan Republik Indonesia ke-75, Opa mendapat penghargaan dari Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya. Papa Taga mewakili keluarga memenuhi undangan Bu Risma.

Yang kedua, rumah tempat Soekarno dilahirkan diserahkan oleh ahli waris kepada Pemkot Surabaya, dan selanjutnya akan dijadikan museum.

Akhirnya rumah bersejarah itu menjadi milik publik.

Bertahun lamanya Orde Baru bilang Soekarno dilahirkan di Blitar. Opa turut membongkar sejarah itu. Opa didukung teman-temannya membuktikan bahwa rumah di Gang Pandean IV No. 40, Peneleh, Kecamatan Genteng, Surabaya itu adalah rumah tempat Proklamator dilahirkan. Surabaya, bukan Blitar.

Dari tangan Opa, sejarah diluruskan. Beberapa kali aku berkesempatan membantu Opa dalam proses pencarian itu. Juga termasuk meyakinkan Bambang DH, Walikota saat itu. Proses meyakinkan yang tak mudah.

Selanjutnya, proses pemberian nama jalan. Awalnya Bambang DH berpikir Opa mengusulkan jalan Soekarno-Hatta. Tidak! Opa usulkan nama Jalan Ir. Soekarno atau Bung Karno, tanpa nama Bung Hatta. Surabaya adalah kota kelahiran Bung Karno, sudah sepantasnya ia mendapat namanya sendiri sebagai penanda di Kota Pahlawan ini.

Setiap kali aku melintasi Jalan Ir. Seokarno yang panjang di timur Surabaya, aku selalu mengingat hari-hari melelahkan melawan hegemoni Orde Baru itu. Kelak, jenasah Opa Oma melintasi jalan tersebut menuju tempat peristirahatan mereka yang terakhir.

Menurutku Opa Oma adalah orang sukses. Kesuksesan adalah jika kita bermanfaat bagi banyak orang, itulah nilai yang hendak ditanamkan oleh Opa Oma. Jangan pakai ukuran sukses individual, tapi ukurannya selalu sosial. Suksesmu kelak adalah ketika hidupmu menjadi berarti bagi banyak orang.

Jika sukses adalah jabatan, maka Bung Karno yang meninggal dalam sakit, tak berdaya dalam rumah tahanan Rejim Orde Baru adalah orang yang gagal. Jika sukses adalah harta, maka Gandhi, Che Guevara, bahkan Yesus adalah orang-orang gagal.

Sesekali tidak! Mereka adalah orang-orang besar, diakui dunia, meski ketika meninggal mereka tak punya harta. Gandhi hanya meninggalkan sandal, sendok kayu, dan Bible.

Aku pernah menulis untukmu bahwa kesejahteraan itu bukan bersifat individual, tapi sosial. Aku merasa sejahtera jika orang di sekelilingku bisa mengakses pendidikan dan kesehatan dengan mudah dan murah, aku sejahtera jika tetangga kanan kiriku punya kebutuhan pokok setiap bulan dengan mudah dan murah. Masih ingat ini?

Karena itulah dalam beberapa kali kesempatan aku mendorong Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTT untuk mencetak ulang karya-karya Opa, atas biaya negara, buku-buku itu dapat disebarkan (dan diajarkan) di sekolah dan perpustakaan secara gratis. Opa pasti senang melihatnya, karena itu jauh lebih bermanfaat daripada sekadar menjadikan nama Opa sebagai nama gedung atau nama jalan.

Membuat penanda-pengingat untuk Opa hanya akan menimbulkan kebahagiaan keluarga. Lalu apa? Adakah manfaat besar bagi orang di Timor sana? Bagiku tidak, atau mungkin secuil saja. Berbeda jika pekerjaan Opa dituntaskan, disebarluaskan, menjadi pengetahuan bersama, bagaimana sejak awal kemerdekaan seluruh suku bangsa terlibat, dan bagaimana besarnya peran orang NTT kala itu Nak.

Pelajaran di sekolahmu mungkin tak bisa menyebutkan siapakah pahlawan nasional dari NTT. Namun, jika membaca pekerjaan-pekerjaan yang Opa lakukan sepanjang hidupnya, kamu akan tahu, bahwa ada banyak nama, dari ujung Sumatera hingga Papua, termasuk Timor, terlibat dalam banyak hal penting menuju kemerdekaan. Termasuk di dalamnya etnis-etnis yang sudah menghuni Nusantara ini ratusan tahun lamanya.

Begitulah sejarah diluruskan, dinyatakan demi kepentingan bersama. Belajar sejarah itu penting. Jangan sekali-kali melupakan sejarah, kata Bung Karno.

Peluk ciumku untuk adik-adikmu.

 

Moskow, 19 Agustus 2020
Oleh: Joaquim Lede Valentino Rohi

Komentar

Jangan Lewatkan