oleh

Cerita untuk Kakak Ames (14)

-Puisi-247 views

Selamat Tahun Baru Hijriah 1442 di Indonesia. Di sini kami menggunakan kalender Julian, berbeda dengan di Indonesia yang menggunakan kalendar dasar Gregorian yang kamu kenal sebagai Masehi itu. Ada banyak kalendar digunakan di muka bumi. Sejarah kalendar itu sejarah panjang yang berdarah-darah.

Etiopa menggunakan kalendar yang sangat berbeda dari Julian, Gregorian, juga lunar kalendar. Kamu juga harus tahu tahun berapa sekarang di Korea Utara dan Jepang, karena mereka memakai penggunaan waktu yang berbeda.

Mengapa ada banyak kalendar, dan mengapa harus berdarah-darah? Aku menjawab secuil saja dulu ya. Mari kita mulai dengan pertanyaan tentang Masehi, apa artinya?

SM – Sebelum Masehi itu terjemahan dari bahasa Inggris BC – Before Christ (Sebelum Kristus). Namun, penggunaan istilah Sebelum Kristus pasti akan mengundang banyak pertentangan bukan? Banyak orang di Indonesia tidak akan terima. Karena itu dicari padanan yang paling jauh dari kata Kristus itu.

“Masehi/Ma•se•hi/ /maséhi/ n 1 Kristen; Nasrani; agama — , agama Kristen (Nasrani); orang — , pengikut Isa Almasih (Yesus Kristus); orang Kristen (Nasrani); 2 perhitungan waktu yang dimulai sejak lahirnya Yesus Kristus” aku kutip dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online. Setahuku di rumahmu ada KBBI ini, penting untuk sesering mungkin dibaca.

Aku sudah menyiapkan untukmu kisah mengenai kalendar dan sejarahnya, karena aku pernah menuliskannya untuk Michelle dan Rham, adikmu, tapi itu akan jadi bahasan kita kemudian hari. Aduh, banyak sekali yang kujanjikan padamu. Sabar ya.

Kita mulai dari urutan waktu lagi sekarang.

1997 pemilu Orde Baru akan digelar kembali. Seperti biasa, sebelum pemilu dimulai kami sudah tahu hasilnya bahwa Golkar akan menang telak, PPP di urutan kedua, dan PDI menjadi pelengkap penderita. Setelah itu DPR/MPR akan kembali memilih Soeharto sebagai Presiden. Selalu begitu. Tidak pernah berubah alurnya.

Setelah kerusuhan 27 Juli 1996 itu, kami semua memang tiarap, banyak yang ditangkap, disiksa, bahkan hilang. Dari yang hilang beberapa orang ditemukan jasadnya kemudian. Aku sendiri kehilangan Bimo Petrus dan Herman Hendrawan, kakak kelasku yang baik hati itu.

Herman sangat pandai dalam matematika dan bernyanyi, ia ikut paduan suara Unair. Bimo Petrus jago bermain gitar dan menyanyi. Keduanya punya kesamaan; tegas, tapi juga humoris. Ya, keduanya memang garang menentang penguasa dzalim, namun di balik itu mereka sosok yang humoris.

Kami tiarap tapi tidak berlama-lama, kami tidak boleh biarkan Rejim Soeharto terus melakukan penindasan dengan keji. Kami kembali merangkak ke permukaan untuk melawan. Kami bangkit dan melawan. Orde Baru tak boleh dibiarkan.

Perlawanan terjadi di mana-mana, yang paling besar di antaranya adalah bersatunya pendukung PPP dan PDI Pro-Mega; Aliansi Mega Bintang. Itu nama yang dibenci oleh Soeharto. Di beberapa tempat ada yang menambahkan kata Rakyat; Aliansi Mega Bintang Rakyat.

Merah Hijau menjadi simbol perlawanan di jalanan. Di beberapa tempat pecah bentrokan antara kubu Merah Hijau dan Kuning. Rakyat melemparkan kekesalan mereka terhadap Golkar sebagai pendukung utama Rejim Militer Orde Baru. Rakyat bahkan makin berani menentang aparat yang pilih kasih di lapangan saat musim kampanye.

Persatuan rakyat menimbulkan keberanian di antara mereka. Dan keberanian ini adalah ancaman serius bagi Soeharto. Maka menjelang pemilu, agar pemilu Orde Baru berjalan sesuai keinginan mereka, aparat menangkap banyak pimpinan lapangan Aliansi Mega Bintang ini. Namun, sekali lagi, PRD yang dituding sebagai dalangnya.

Aku lari sembunyi untuk kedua kalinya.

Bersambung besok. Aku harus ke Dimitrov pagi ini, balik ke Moskow baru malam nanti.

Peluk cium untuk adik-adikmu.

 

Moskow, 20 Agustus 2020
Oleh: Joaquim Lede Valentino Rohi

Komentar

Jangan Lewatkan