oleh

Cerita untuk Kakak Ames (15)

-Puisi-275 views

Tahun Baru Islam merayakan Hijrah, “Rasulullah survived”. Tahun Baru di Eropa pada 1 Maret terkait erat dengan datangnya Musim Semi; “survived the winter”. Nanti, kita akan tiba pada kesimpulan bahwa semua Tahun Baru berkaitan dengan survival.

Kalendar dinding dan kalendar meja di rumah memainkan peran penting dalam sejarah peradaban manusia. Ia bukan sekadar pajangan belaka.

Pertama-tama aku mengutip Goethe, “Orang yang tak mengambil pelajaran dari masa 3000 tahun, ia hidup tanpa memanfaatkan akalnya.” Sangatlah penting bagi kita untuk belajar dari masa lalu, agar mampu melompat ke masa depan, bukan malah jatuh ke jurang kesalahan masa lalu.

Baiklah, aku akan memulai dengan pertanyaan ini. Sehabis ujian, pengumuman kelulusan sekolah, memenangi lomba atau kejuaraan, rasanya pantas untuk dirayakan bukan? Ada kelegaan dan kegembiraan di sana.

Namun, perayaan ulang tahun tentu jauh lebih luar biasa daripada sekadar Liverpool menjadi juara Liga Inggris atau Timnas Indonesia menyabet Piala Asia.

Peristiwa lolos dari kesulitan dan ujian dalam bentuk apapun, seringkali diakhiri dengan perayaan. Jaman dulu bentuknya berupa tarian, puisi, lagu dan seni tradisional lainnya.

Seni, terutama dalam wujud tarian, kebanyakan terkait dengan pasca panen dan setelah perang; merayakan hidup. Seni dan segala variasinya adalah pelengkap dari sebuah perayaan akan keberlangsungan hidup, survival.

Sekarang kita akan membahas perayaan survival ini dari sisi sejarah, sekali lagi, agar tak menjadi ahistoris. Mari memulainya dengan pertanyaan; Sama seperti ulang tahun, kenapa kita merayakan tahun baru? Dan, kenapa pula ada yang menentangnya?

Kita kembali lagi pada pernyataanku di atas. Tahun Baru Islam merayakan Hijrah, “Rasulullah survived”. Tahun Baru di Eropa jatuh pada 1 Maret terkait dengan datangnya Musim Semi, mereka “survived the winter”.

Tahun Baru 1 Januari, pertama kali dilakukan di Roma pada 153 SM, untuk merayakan hari sidang pertama parlemen baru. Perayaan tahun baru sesuai hari sidang pertama parlemen seolah menyatakan, ”we survived the Republic.” Sebelum jadi kekaisaran, Romawi adalah republik yang memiliki parlemen.

Akibatnya, selama lebih dari 150 tahun, Roma punya dua tahun baru. Legal formal pemerintahan pada 1 Januari, dan tradisional; rakyat merayakannya pada tanggal 1 Maret.

Setelah itu, Julius Caesar menetapkan bahwa hanya ada satu tahun baru, yaitu 1 Januari, berdasarkan hitungan ahli bintang Mesir, Sosigenes. Pertimbangan Caesar, 1 Januari adalah hari dengan siang terpendek di Roma.

Namun, setelah para Kaisar Romawi menganut agama Kristen, tanggal tahun baru diubah lagi karena para pendeta Kristen tidak suka dengan kalender yang merupakan peninggalan kaum Pagan. Maka, pada tahun 567 M, Konsili Tours resmi menghapus 1 Januari sebagai tahun baru. Akibatnya, yang disebut dengan Tahun Baru menjadi tak tentu, ada yang merayakannya pada 25 Desember, 1 Maret, 25 Maret, dsb.

Gereja melarang perayaan tahun baru! Tak hanya Pendeta Kristen, Ulama Islam pun turut melarang perayaan tahun baru pada 1 Januari. Mengapa? Karena para pemimpin agama kala itu tak menyukai konsepsi perayaan survival di bumi yang sifatnya mendunia; worldly survival.

Pemuka agama kala itu mengajarkan bahwa hidup-mati dan keberhasilan manusia hanyalah karena Tuhan, bukan atas kemampuan manusia mengetahui dan mengatasi hambatan-hambatan hidup di dunia melalui pengetahuan dan kerjasama.

Ketika Gregorius XIII menjadi Paus, ia kembali pada Kalender Julian, yang dibuat pada masa Julius Caesar, karena Kalender Julian dianggap paling akurat dalam meramal musim. Dalam peradaban pertanian, peramalan terhadap musim sangat menentukan survival.

Tanpa perhitungan tepat kapan menanam, panen bisa gagal, sehingga kekurangan pangan mudah terjadi.

Sejak itu, Paus Gregorius mengembalikan 1 Januari sebagai tahun baru, boleh dirayakan.

Kalender Julian menawarkan peramalan musim yang paling akurat dalam hal survival, meski kemudian Paus Gregorius memperbaiki akurasi dan membungkusnya dengan teks keagamaan agar mudah diterima luas oleh gereja, termasuk kalangan Protestan.

Namun, Kalender Gregorian (penyempurnaan dari Kalender Julian) yang diterima luas di kalangan Katolik pada 1582, ditolak oleh kalangan Protestan. Inggris dan koloninya, termasuk Amerika Serikat, tetap merayakan tahun baru pada 1 Maret hingga tahun 1752. Bahkan mereka yang merayakan tahun baru pada 1 Januari bisa dihukum mati.

Butuh dua abad lamanya, sebelum Inggris memutuskan untuk ikut menerapkan kalender “Katolik” tersebut. Sebagai peradaban pertanian dan maritim, Kalender Gregorian yang akurat meramal musim sangatlah penting bagi Inggris.

Sampai di sini kamu mengerti, atau butuh untuk mencernanya lebih dulu? Baiklah, kita tuntaskan pembahasan kalendar ini besok, mungkin akan tuntas dalam dua atau tiga surat lagi. Sekarang kita lanjutkan tentang pelarianku untuk kali kedua.

Rakyat marah pada Golkar, pada kecurangan Pemilu yang hasilnya mudah ditebak, pada aparat yang selalu berpihak pada Golkar. Kemarahan itu juga puncak kemarahan atas kemiskinan, atas penindasan bertahun-tahun lamanya.

Rakyat makin berani menentang dominasi Golkar yang selalu diistimewakan, pun rakyat makin berani menantang aparat di lapangan. Selain pecah bentrokan di mana-mana, rakyat mengorganisir Lembaga Independen Pemantau Pemilu.

Soeharto makin marah. Banyak orang dikejar, aktivis diburu, termasuk aku. Sekali lagi PRD jadi kambing hitam. Sekadar kambing hitam, namun sesungguhnya pukulan rejim ditujukan kepada semua aktivis pro-demokrasi. Pola kembali berulang.

Kamu masih ingat kan, ketika aku memintamu untuk mengingat pola ini, karena selalu ada kemungkinan kamu bertemu lagi dengan cara-cara yang sama.

Pelarian yang kali ini lebih terorganisir. Aku lupa siapa saja yang bersamaku, yang jelas ada Dandik Katjasungkana dan Puspita Ratna yang kelak jadi istrinya, serta David Kris. Aku tidak akan bercerita detail, demi melindungi sejumlah nama.

Pertama, kami semua dibawa ke rumah M. Setelah itu kami dipindah ke rumah Y. Dari sana aku berdua saja dengan David Kris petang hari diantar menuju travel yang membawa kami ke Jogja. Lokasi travel ini persis di pojokan depan Polsek Tegalsari.

Kami was-was ketika menunggu travel yang tidak segera berangkat. Kami tentu saja takut untuk dikenali Polisi. Mau lari dari polisi tapi justru berangkat dari depan kantor polisi. Saat itu, polisi lalu lalang di depan kami. Lega rasanya ketika driver memutuskan kami berangkat malam itu ke Jogja. Kami sembunyi di rumah saudara David Kris di sana.

Oh ya, M adalah teman sekelas Mama Vira di sekolah. Dunia sempit ternyata. Dia salah satu malaikat penyelamatku saat itu, semoga kamu bisa berkenalan dengannya nanti.

Di Jogja kami bersembunyi untuk entah berapa lama. Kami hanya memantau keadaan lewat semua media yang ada. Itu saja yang kami perlu lakukan, selain berdoa agar selamat dari ganasnya perburuan Rejim Soeharto.

Untuk mengisi aktivitas sehari-hari, aku bermusik bersama David Kris. Di sanalah aku membuat reff sebagai ide awal sebuah lagu untuk kawan-kawan yang hilang, sesuai judulnya kemudian; “Yang Hilang”. Nuansa pentatonik Jawa terasa di situ. Mungkin karena aku dan David membuatnya dalam suasana pedesaan Jogjakarta. Kamu sudah pernah mendengar lagu Lontar Band itu?

Peluk ciumku untuk adik-adikmu.

 

Moskow, 21 Agustus 2020
Oleh: Joaquim Lede Valentino Rohi

Komentar

Jangan Lewatkan