oleh

Cerita untuk Kakak Ames (16)

-Puisi-221 views

Atas suratku kemarin, David Kris memberi catatan panjang yang bisa kamu baca pada suratku ini. Aku berusaha mengutip utuh darinya, namun harus sedikit mengedit tulisan ala SMS yang ia tuliskan kemarin. Demikian kata David:

“Setelah kasus 27 Juli 1996. Para tahanan politik terkait kasus tersebut, salah satunya aku, yang sejak awal 1997 mulai bisa menghirup udara bebas, bisa ke kampus lagi (termasuk beruntung bisa mendengar pengakuan jujur ‘AD’ padaku dan meminta maaf karena dia terpaksa harus jadi informan militer). Aku mendapat kebebasan tersebut dijamin oleh kuasa hukum Mas Indro (LBH Surabaya), (alm) Pak Trimoelja dan (alm) Pak Adnan Buyung Nasution.

Menjelang Pemilu Mei 1997, ada kabar bahwa akan ada ‘Pembersihan Jilid II’ untuk mensukseskan pemilu, sehingga Soeharto bisa lancar terpilih kembali. Inilah yang membuat aku dihubungi kembali oleh kawan-kawan untuk ikut bersembunyi, supaya tidak ‘diambil’ lagi.

Nah di situlah perjalanan bersembunyiku bersama Inyo sampai ke Yogya. Waktu kami diisi dengan bermain musik, menyanyikan lagu Stinky, dll. Hingga aku dapat inspirasi menulis lagu dari syair reffrence yang dilagukan Inyo berulang-ulang, “…Yang hilang…Yang Hilang…”

Kira-kira 2 (dua) hari sebelum coblosan pemilu dimulai, aku terima telepon, aku disuruh pulang ke Surabaya, harus ikut pemilu. Saat pemilu, aku harus berada di rumah, keluar ke Tempat Pemungutan Suara (TPS), ikut mencoblos (terserah coblos apa saja, asal jangan golongan putih-golput).

Setelah itu, segera pulang ke rumah, jangan ke mana-mana setelah mencoblos. Begitu perintah para kuasa hukumku (diwakili Mas Indro). Dimaksudkan agar jika terjadi apa-apa denganku, maka ada saksi keluargaku, agar kuasa hukumku segera bisa tahu dan bertindak.

Hari itu juga aku pulang naik travel ke Surabaya. Berpisah dengan Inyo. Yang pasti, seingatku Inyo tidak ikut ke Surabaya. Cukup mencekam juga aku naik travel sendirian pulang ke Surabaya. Aku harus mencurigai setiap orang di dalam travel tersebut. Siapa tahu, seluruh penumpang travel ini para intelijen semua.. hehe… Puji Tuhan, aku sampai rumah dengan selamat.

Tibalah 29 Mei 1997 hari Coblosan, sepagi mungkin aku ke TPS. Mumpung masih sepi, supaya aku segera bisa mencoblos dan segera pulang, diam di rumah. Seharian di rumah saja menonton televisi sampai bosan. Maklum, saat itu belum ada FB, IG, WA, apalagi tiktok-an.

Keesokkan harinya, 30 Mei 1997, Pak RT mendatangi rumahku, menginformasikan bahwa semalam ia didatangi seorang tentara yang memastikan bahwa aku ikut mencoblos (Pemilu). Pak RT-pun mengiyakan. Ia menjelaskan pada tentara yang mengaku dari Komando Rayon Militer (Koramil) tersebut bahwa pemilu aman dan lancar, tidak ada yang perlu dikuatirkan.

Ternyata jitu juga para kuasa hukumku menyuruh aku pulang. Itulah secuil kisahku terkait masa Pemilu 1997.”

Nah, setelah David ke Surabaya, aku berpamitan pada tuan rumah keesokan harinya. Aku meneruskan persembunyian ke Bandung, persis seperti persembunyian pertama. Aku mampir Malioboro, membeli beberapa baju buat Bi Moria yang kala itu masih di Sekolah Dasar. Bahwa dalam masa ‘karantina mandiri’pun aku masih berpikir membawakan sesuatu untuk keluargaku.

Malioboro terletak persis di sebelah pintu masuk Stasiun Tugu, Jogjakarta. Entah tahun berapa, pintu Stasiun Tugu ditutup. Penumpang dialihkan ke Stasiun Lempuyangan.

Di Bandung aku terus menerima kabar dari Surabaya, perkembangan aksi pembersihan aktivis oleh rejim, sambil terus mencermati berita di televisi dan radio. Aku lupa nama radio yang setiap hari memutarkan Always With You Always With Me-nya Joe Satriani yang indah itu.

Aku memutuskan untuk kembali ke Surabaya. Pun, ketika tiba di Surabaya aku tidak bisa langsung ke rumah. Aku kembali ke GMKI yang tepat berada di depan Markas Kodim Tegalsari itu. Dini hari, aku menyelinap keluar, menuju rumah. Opa Oma sudah menunggu depan pintu. Aku datang, langsung melompat masuk. Kembali Oma menangis.

Aku juga menangis, hingga tak terasa aku tidur dalam dekapannya. Kehangatan seorang Ibu yang merelakan anaknya untuk melawan gerombolan raksasa bersenjata. Aku menghabiskan malam di rumah bersama orang tua. Betapa indahnya. Untuk pulang ke rumah sendiri, untuk bertemu orang tua sendiri, betapa mahal harga yang harus aku bayar.

Karena itu, berbahagialah kalian (kamu dan adik-adikmu) yang pernah tertidur karena pijatan lembut dan tutur cerita Opa yang membuat terlena. Berbahagialah kalian yang terlelap karena pelukan hangat Oma, yang membuat kalian merasa aman dalam nyaman senantiasa.

Aku lanjutkan lagi besok, termasuk untuk menyelesaikan cerita tentang perayaan hidup yang tertuang dalam kalendar itu.

Peluk ciumku untuk adik-adikmu.

 

Moskow, 22 Agustus 2020
Oleh: Joaquim Lede Valentino Rohi

Komentar

Jangan Lewatkan