oleh

Cerita untuk Kakak Ames (17)

-Puisi-191 views

Dari surat yang aku kutip dari David Kris kemarin, kamu bisa tahu bahwa di saat sulit, ada teman seperjuangan yang kemudian beralih menjadi informan militer. Dalam surat terdahulu, aku juga telah bercerita padamu, bahwa dalam perburuan pertama pada peristiwa 27 Juli 1996, ada teman-teman yang mengalami penolakan.

Aku beruntung bahwa aku tak pernah alami penolakan, namun ada tuan rumah yang pada hari berikutnya mulai gelisah. Rasa takut, untuk telah menampungku, mulai nampak di matanya. Itu pertanda bahwa aku harus berpindah tempat lagi.

Sama seperti kisah Petrus di Bible yang berpikir dirinya akan seteguh batu karang, tapi justru dialah yang menyangkal Yesus sebanyak 3 (tiga) kali sebelum ayam berkokok. Ada kawan-kawanku yang terlihat begitu gigih melawan Kuasa Cendana, namun di saat sulit mereka ‘menyerah’, lalu menolak membantu kawan lainnya, bahkan menjadi kaki tangan rejim kemudian.

Mei 1997, Golkar menang Pemilu lagi, namun tepat satu tahun kemudian, Mei 1998, Jenderal Soeharto, diktator terkorup berdarah dingin itu tumbang. Ini sebuah cerita panjang, aku masih harus menyusunnya lagi di kepala.

Sebaiknya aku tuntaskan sejarah tentang kalendar dan survival; angka-bulan-tahun sebagai tanda perayaan hidup. Sampai di mana kita?

Oh ya, sampai pada kalender Gregorian yang diterima luas di kalangan Katolik pada 1582, ditolak oleh kalangan Protestan. Inggris dan koloninya, termasuk Amerika Serikat, tetap merayakan tahun baru pada 1 Maret hingga tahun 1752. Bahkan mereka yang merayakan tahun baru pada 1 Januari bisa dihukum mati.

Butuh dua abad lamanya, sebelum Inggris memutuskan untuk ikut menerapkan kalender “Katolik” tersebut. Di Prancis, Revolusi Borjuis membatalkan Kalender Gregorian ini hanya karena mencapnya sebagai Kalender Katolik. Pada tahun 1792, Prancis menetapkan tahun baru; 22 September.

Negara-negara Islam tak menerapkan Kalender Gregorian hingga awal abad ke-20, karena peradabannya bersandar pada perdagangan, bukan pertanian dan maritim. Sebagai perabadan perdagangan, keakuratan musim tak terlalu vital bagi mereka. Jika peradaban Kristen berkembang di pusat-pusat pertanian, peradaban Islam banyak berkembang di wilayah pelabuhan-perdagangan.

Peradaban Islam mengatasi ramalan musim dengan membuat banyak outpost, sekaligus mendirikan pusat-pusat dakwah di sepanjang jalur perdagangan.

Sebenarnya, kalender-kalender ini mulai kehilangan keakurasian ramalan karena perubahan iklim secara mendunia akibat pemanasan global.

Namun, upaya untuk melepaskan diri dari Kalender Gregorian yang bernuansa “Katolik” ini tak pernah berhenti. Upaya itu misalnya dengan usulan mengubah rujukan AD (Anno Domini) menjadi CE (Current Era). Rujukan Anno Domini (the Year of Our Lord) dan Before Christ (BC) memang sangat “Katolik” nuansanya. Before Current Era dan Current Era lebih netral.

Nah, kembali ke pokok soal, pada dasarnya perayaan akan survival, baik secara individual maupun kolektif ada jauh sebelum agama yang bercampur dengan politik melarangnya.

Perayaan akan survival adalah hal yang manusiawi, alamiah. Tidak ada kepentingan yang dibungkus di situ, tak ada yang salah atau menakutkan di sana. Yang harus diperhatikan hanyalah bagaimana cara kalian (kamu dan adik-adikmu) merayakannya kelak.

Mengapa aku menuliskan ini untukmu?

Di Indonesia, di tempatmu tumbuh dan berkembang muncul ajaran yang melarang perayaan ulang tahun dan perayaan-perayaan lainnya yang dibungkus interpretasi keagamaan. Aku menganggap argumen mereka ahistoris dan nirlogika. Mengapa?

Aku lanjutkan besok ya, aku butuh istirahat.

Peluk ciumku untuk adik-adikmu.

 

Moskow, 23 Agustus 2020
Oleh: Joaquim Lede Valentino Rohi

Komentar

Jangan Lewatkan