oleh

Cerita untuk Kakak Ames (18)

-Puisi-238 views

Mengapa aku menuliskan soal perayaan hidup – survival ini untukmu?

Pertama, di Indonesia, di tempatmu tumbuh dan berkembang muncul ajaran yang melarang perayaan ulang tahun dan perayaan-perayaan lainnya yang dibungkus interpretasi keagamaan. Untuk menjelaskan ini, aku akan bercerita juga perjalananku ke Kota Istra minggu lalu, kusertakan pula sejumlah foto untuk memudahkanmu mengerti.

Kedua, sebelum masuk ke peristiwa politik 1998 dan 1999, aku harap kamu mulai memahami bagaimana aku lolos dari satu kejadian ke kejadian, bertahan hidup.

Oma Opa yang merelakan aku menempuh jalan itu, merayakan survivalku, terutama pada persitiwa bumi hangus Dili, Timor-Timur 1999. Aku juga berpikir, saat itulah akhir hidupku. Ternyata tidak. Aku masih ada hingga hari ini untuk menceritakannya padamu.

“Orang yang tak mengerti arti kehilangan, tak akan merasakan bahagianya mendapatkan.” Tulisku suatu hari kepada Oma, 27 Februari 2015. Aku mencoba menghibur Oma di hari ulang tahunnya.

Mungkin hadiah ulang tahun terburuk bagi Oma adalah kematian seorang sahabat; Oma Hartati. Sahabat terdekatnya itu meninggal di hari bahagia, hari ulang tahunnya. Oma melupakan hari penting bagi dirinya, tenggelam dalam kesibukan mengurus jenasah sang sahabat.

Kehidupan memang menyenangkan, apalagi bagi seorang kanak-kanak. Namun, memilih untuk hidup, berarti juga memilih untuk menghadapi kematian. Banyak orang yang tak siap dengan situasi ini, baik yang di ambang kematian maupun yang ditinggalkan.

Jostein Gaarder menuliskan, bahwa memberi kehidupan pada seorang anak kecil bukan sekadar memberinya anugerah dunia yang besar. Itu juga berarti mengambil kembali anugerah yang sama. Ia hendak menegaskan bahwa kita, manusia dewasa, memberi anak-anak itu cinta dan kebahagiaan dengan segala perjumpaan, sekaligus memberi mereka sedih dan tangis melalui perpisahan kelak.

Perpisahan ditangisi, sebaliknya kehidupan dirayakan, sebab hidup begitu berharga. Setiap orang yang lolos dari masa sulit dan kematian, disambut dan dirayakan. Ini juga yang melandasi perayaan ulang tahun (individual) dan tahun baru (kolektif).

Ulang tahun sama halnya dengan tahun baru, adalah merayakan survival, merayakan hidup.

Ulang tahun memang pantas dirayakan, ini adalah gairah alami manusia sejak masa purba, sejak sebelum semua kepentingan politik dan agama merasuk dan melarangnya secara membabi buta dengan alasan ahistoris.

Kaum Yahudi bilang bahwa perayaan ulang tahun adalah kebiasaan kafir (budaya Mesir, bukan Yahudi). Di Yunani kuno lain lagi, orang percaya bahwa lilin ulang tahun punya kekuatan gaib untuk mengabulkan permohonan. Tanggal ulang tahun juga kerap digunakan oleh para peramal untuk meramal seseorang, baik melalui ilmu perbintangan atau lainnya. Agama tentu saja menentang praktek ramal meramal ini.

Sebuah sekte yang mengaku Kristen percaya bahwa roh-roh jahat dan pengaruh jahat mengancam dan siap menyerang orang yang sedang berulang tahun. Mereka juga mencatat dua peristiwa buruk tentang peristiwa ulang tahun dalam Kejadian 40:20-22 dan Markus 6:21-29.

Namun, mereka lupa bahwa di luar perayaan ulang tahun, Firaun dan Herodes kerap melakukan hal-hal jahat, tak hanya di hari ulang tahun mereka.

Sekte ini juga lupa bahwa ketika Yesus lahir, bintang bersinar terang, malaikat menyambut girang, orang majus pun datang. Bahkan usia Adam, Nuh dan nabi-nabi lain pun dicatat dalam Alkitab. Yesus masuk kota Yerusalem ketika ia berusia 12 tahun bukan? Apa arti pencatatan usia kala itu, sekadar mengingat?

Ada juga pihak yang melarang mengatakan, ulang tahun adalah berkurangnya usia, karena itu, tidak pada tempatnya ia dirayakan.

Mari menggunakan logika matematika sederhana.

Bukankah sesuatu berkurang didasari karena kita tahu kondisi atau jumlah pasti yang akan berkurang atau dikurangi? Bagaimana kita bisa melakukan pengurangan, jika kita tak pernah tahu jumlah yang hendak dikuranginya?!

X – Y = N.

X adalah usia totalku, Y adalah usia sekarang 43, dan N adalah sisa usiaku. Berapakah X, berapa pula N? Siapa yang bisa menjawab pertanyaan ini?

Jika X = 44, maka usiaku tinggal setahun lagi (N = 1), wajar jika kita bermuram durja. Jika kita tahu akhir usia kita, kita dapat mahfum jika perayaan ulang tahun dilarang. Namun, siapa yang tahu kapan kehidupan seseorang berakhir?

Justru karena hidup adalah teka-teki yang kita tak akan pernah tahu ujungnya, maka setiap keberlangsungan hidup adalah lumrah untuk dirayakan!

Karena itu, di hari ulang tahunku 1996, atas permintaan Oma, Opa membawaku pulang dari perburuan pertama. Meski hanya beberapa jam saja, sebelum tentara semakin dekat dengan pintu rumah, aku harus pergi lagi, dan lagi.

Kota Istra, berjarak tempuh 2 jam perjalanan dari Kota Moskow. Ia berada di Provinsi Moskow (Moscow Oblast). Perjalanan menuju kota itu melewati rumah-rumah asli Russia, rumah kayu dengan cerobong asap, sesuatu yang sangat jarang ada di Kota Moskow yang penuh hunian model Blok. Masih banyak hutan di kanan kirinya.

Aku dan Mama Vira menghabiskan waktu berjam-jam di Monastery di atas bukit yang disebut sebagai Yerusalem Baru (Novoiyerusalimksiy Monastyr). Bentuk atap Monastery itu berbentuk kubah, seperti Masjid di Indonesia.

Kubah tentu saja bukan dominasi bentuk Masjid, tapi juga gereja. Di Istra, para perempuannya berkerudung, tapi sekali lagi, mereka adalah orang Kristen, bukan Muslim. Dan pendetanya berbaju gamis hitam dengan janggut panjang.

Bagi mereka itulah ciri Kristen yang mereka pahami.

Jadi jika kamu berbaju gamis di Istra, kamu akan disangka sebagai orang Kristen. Baju gamis dan kerudung bukan berarti simbol kesucian, bukan pula milik satu golongan. Cara berpakaian mencirikan kebudayaan – kebiasaan. Baju apapun itu tidak penting. Yang penting adalah laku kita sebagai manusia, sebagai mahluk sosial.

Ada orang yang menunjukkan dirinya ber-Tuhan dengan cara menakutkan. Ber-Tuhan atau tidak, tak serta merta menjadikan kita bermoral dan menyenangkan bagi sesama. Beragama itu untuk mengobarkan cinta kasih pada sesama, bukan mengobarkan kebencian dan permusuhan.

Jangan jadi serupa dengan mereka yang menipu atas nama agama, mengaburkan sejarah atas nama Tuhan, merasa paling benar lalu menjadi semena-mena. Melarang ini dan itu, sekehendak hatinya.

Mereka menjual isu agama dan membodohi umat demi harta dan kekayaan. Tentang Palestina misalnya.

Di Palestina, tak ada penindasan atas nama agama. Sebab penindasan tak mengenal agama. Mereka suka mengumpulkan dana untuk Palestina sambil berteriak, “Ganyang kafir!” (Melabeli orang dengan kafir adalah salah satu kebiasaan orang Yahudi yang dibenci Yesus).

Di Palestina, ada walikota perempuan, pemipin daerahnya bisa beragama apa saja. Salah satu partai yang besar di sana adalah Partai Komunis Palestina.

Belajar tentang Palestina, kamu akan berkenalan dengan pemimpin gerakan yang paling ditakuti oleh Israel; George Habash, seorang Kristen radikal. Yang metode perlawanannya diduplikasi banyak pihak.

Aku bisa memberimu banyak sekali contoh, tapi aku takkan menjejalimu tentang itu semua. Kamu harus bisa belajar secara mandiri.

Jauhkan dirimu dan adik-adikmu dari ajaran kekerasan, kebencian, dan permusuhan. Lewat surat kali ini aku ingin kamu bisa bercerita kepada adikmu kelak bahwa hidup patut dirayakan, hidup dalam kebersamaan layak diperjuangkan.

Peluk ciumku untuk adik-adikmu.

 

Moskow, 25 Agustus 2020
Oleh: Joaquim Lede Valentino Rohi

Komentar

Jangan Lewatkan