oleh

Cerita untuk Kakak Ames (2)

-Puisi-307 views

Opa adalah orang yang sangat paham tentang Timor Timur. Ia sendiri adalah putra Tanah Timor yang berbicara dengan banyak orang mengenai Timor Timur, ia banyak membaca peristiwa dan dokumen tentangnya, terlebih lagi, Opa adalah wartawan pertama yang turun ke sana, pada saat Indonesia masuk ke wilayah kecil itu dengan kekuatan militer yang besar.

Ia menyaksikan sendiri bagaimana kekerasan demi kekerasan terjadi di sana. Hati kecilnya bergetar marah melihat pendekatan militeristik diterapkan oleh negaranya kepada orang-orang Timor di bagian Timur. Opa menuliskan banyak tentang hal ini, namun Rejim Soeharto memberlakukan kontrol ketat.

Tak boleh ada wartawan masuk ke sana. Semua tulisan mengenainya harus melalui meja para birokrat dan tentara. Sebagian fakta menjadi berita samar-samar, sebagian lagi bertahan menjadi cerpen dan novel.

Opa bercerita banyak tentang Timor kepada kami. Tentang Timor Barat, juga Timor Timur.

Jadi sekarang kamu tahu bagaimana bundamu bisa sampai terlibat aktif dalam pemantauan jajak pendapat di Timor-Timur. Dari cerita. Cerita dari Opa. Dan, dari pengalaman-pengalamanku.

1995 adalah pertama kalinya aku terlibat dalam kampanye tentang Timor Timur. Dari Surabaya aku berangkat ke Malang. Dengan beberapa kawan, kami berangkat naik kereta senja menuju Jakarta, tapi kami diperintahkan untuk turun di Cirebon, memisahkan diri dari kelompok yang lebih besar. Agar tak mencolok. Mata militer ada di mana-mana, itu ciri kehidupan di bawah Orde Baru.

Dari Cirebon kami naik bis menuju Terminal Kampung Rambutan Jakarta. Aku dan rombonganku akan dijemput di sana. Oleh siapa? Aku tidak tahu. Aku tidak kenal dia. Dialah yang akan mengenaliku. Sejak dari Surabaya, aku diperintahkan untuk membawa Majalah Tempo dan Koran Kedaulatan Rakyat. Media ini harus terlihat, sampai ada orang yang mendekat.

Seorang pemuda kurus berkacamata mendekatiku, dia bertanya, “Punya rokok Bang? Saya punya korek, tapi ngga ada rokoknya.” Rokok dan korek. Itu memang sandinya. Kusodorkan rokok A-Mild padanya. Ia menerima, membakarnya, kemudian menyerahkan kotak korek itu kepadaku. Lalu ia pergi.

Di dalam kotak korek api itu terselip kertas kecil, perintah untuk menggunakan kendaraan apa, menuju ke mana. Kami pun pergi sesuai perintah di dalam kotak korek itu.

Setiba di tujuan, ada penjemput yang lain, ia adalah JEK (Jakobus Eko Kurniawan), panggilannya Iwan Pilat. Kami diantarnya menuju suatu gedung, untuk berisitirahat, sebelum semua rombongan tiba dan briefing dilakukan.

Menjelang petang, aku bertemu kembali dengan pemuda kurus berkacamata itu, ia memperkenalkan diri sebagai Ndaru (Ken Budha Kusumandaru). Sekarang ia menjadi penulis novel. Terakhir aku dan Mama Vira main ke rumahnya di Depok pertengahan 2017 lalu. Ia punya banyak kucing di rumahnya.

Briefing malam itu tak terlalu detil menurutku. Kami hanya diminta untuk segera istrahat, persiapkan segala sesuatunya-jangan ada yang ketinggalan, sebelum subuh, kami harus bergerak. Itu saja.

7 Desember 1995. Hari masih gelap ketika beberapa Metro Mini yang menjemput kami tiba. Kami meluncur ke Kedutaan Besar (Kedubes) Rusia, sebagian rombongan menuju Kedutaan Besar Perancis dan Belanda.

Ketika mendekati Kedubes Rusia, Ndaru melihat mobil patrol polisi di depan, ia sontak perintahkan sopir Metro Mini untuk berputar sekali lagi. Sopir menggerutu. Mereka berdua sempat berargumen.

Untuk kedua kalinya kami tiba depan pagar Kedubes Rusia, kami sigap meloncat turun dari Metro Mini, langsung melompat pagar Kedutaan, beberapa harus saling bantu. Target kami masuk di dalam pagar sebelum penjaga sadar.

Ada dua pagar. Pagar tinggi di bagian terluar, dan pagar pendek yang dialiri listrik di bagian dalam, tak jauh dari pagar luar, sebelum kolam yang memanjang ke arah pintu masuk gedung utama.

Matahari masih merah ketika kami semua berhasil masuk Kedutaan. Peristiwa ini kelak dikenal sebagai Aksi Lompat Pagar, yang membuat Soeharto marah besar.

Dubes Rusia ditemani seorang pengawal berbadan tinggi besar menemui kami, bertanya siapa kami, apa tujuan kami, mengapa ada di situ saat itu. Lalu ia masuk. Tak lama, ia keluar lagi, masih ditemani pengawal yang tadi. Kali ini pengawal membawa dua galon air mineral; satu di tangan, satu di pundaknya. Sementara Pak Dubes ditemani seorang bocah perempuan yang menggunakan sepeda roda tiganya.

Pak Dubes Rusia, menawari kami untuk makan di KFC. Kami menolak untuk keluar! Pak Dubes bilang, kantor mereka mau pindah ke Kuningan, kami diajaknya untuk melihat calon Kedutaan Besar Rusia itu. Kami tegas menolak. Kami bertahan! Dua hari lamanya kami bertahan di sana.

Banyak polisi berjaga di luar pagar. Banyak demonstran datang menghujat kami, selama dua hari itu. Dua hari yang penuh negosiasi, dua hari yang bergantung penuh dapat makanan dari pihak kedutaan. Dua hari itu aku makin akrab dengan Amaro Soares. 2010, aku ajak Amaro menginap di rumah Pangalengan.

Aku juga makin akrab dengan Ndaru. Ternyata kami punya lagu favorit yang sama; Blood Money-nya Bon Jovi. Lagu tentang persahabatan dan pengkhianatan karena uang.

Menjelang Maghrib bis polisi menjemput kami di depan pagar kedutaan. Bis yang janjinya membawa kami ke terminal itu ternyata berbelok, masuk ke halaman Polda Metro Jaya, Jakarta. Sejumlah polisi sudah siap menyambut kami dengan barisannya, tak memungkinkan kami untuk lari.

Turun dari bis, sekelompok pemuda ormas menanti kami, dengan yel-yel dan makian mereka pada kami. Ada pemuda ormas yang memukul kepalaku. Aku hendak membalas, polisi mencegahku. Kemudian, datang lagi pemuda yang lain dari ormas tersebut, mendekati dan meludahi wajahku. Kali ini aku diam, hanya mempercepat langkahku.

Sampaikan salamku untuk adik-adikmu.
Besok aku cerita bagaimana proses interogasiku. Interogasi pertamaku, 18 jam nonstop.

 

Moskow, 2 Agustus 2020

Oleh: Joaquim Lede Valentino Rohi

Komentar

Jangan Lewatkan