oleh

Cerita untuk Kakak Ames (3)

-Puisi-300 views

Turun dari bis, sekelompok pemuda ormas menanti kami, dengan yel-yel dan makian mereka pada kami. Ada pemuda ormas yang memukul kepalaku. Aku hendak membalas, polisi mencegahku. Kemudian, datang lagi pemuda yang lain dari ormas tersebut, mendekati dan meludahi wajahku. Kali ini aku diam, hanya mempercepat langkahku.

Entah di lantai berapa aku ditempatkan, yang aku ingat bahwa pemandangan di luar jendela adalah gedung Artha Graha, samping Polda Metro Jaya. Masing-masing dari kami ditempatkan di ruangan terpisah.

Di hadapanku ada tiga orang polisi. Tepat didepanku, penanya yang mengetikkan pembicaraan kami adalah Pak Imam, polisi asal Gresik, tinggi besar, sedikit gemuk. Mungkin dulunya ia berperawakan gempal.

Dia membujukku, meyakinkanku bahwa semua akan baik-baik saja. Dia berusaha memenuhi kebutuhanku; makanan, minuman, rokok, dan obat flu. Aku agak flu saat itu. Aku pesan mie ayam, jeruk hangat, lalu teh hangat, kemudian kopi. Apapun yang kuminta, ia sediakan, asal aku kooperatif katanya.

Oh ya, aku minta padanya rokok Marlboro putih, padahal saat itu aku tidak merokok. Aku gugup tentu saja. Itu interogasi pertamaku. 18 jam nonstop. Sendirian.

Semua berjalan mulus. 80% adalah kebohongan yang kuceritakan. Aku kira sudah selesai. Ternyata, masuk tiga orang baru, menggantikan Pak Imam dan dua koleganya. Dengan hasil Berita Acara Pemeriksaan (BAP) yang diketik Pak Imam, group baru mulai bertanya jauh lebih dalam, lebih detil. Aku kelabakan. Banyak perubahan di sana-sini.

Aku makin gugup. Beberapa kali dalam hitungan jam itu, aku minta ijin ke kamar kecil. Entah berapa kali, pastinya sering sekali.

Selesai group kedua, datang lagi group ketiga. Kali ini mereka semua adalah interogator pemarah. Aku dilempar asbak alumunium. Ujung pistol ditempelkan di kepalaku dengan kasar, dengan nada tinggi mereka memaki, memainkan psikologi, termasuk mengancam mengadu dengan keterangan teman-temanku lainnya.

Aku lelah, panik, dan capek. Jantung berdebar mengalahkan flu dan rasa kantuk yang datang bertubi-tubi. Hasilnya, dari 80% kebohongan, hanya mampu tersisa 20% kebohongan. Aku masih bisa menutupi apa yang bisa aku tutupi. Aku malu, gagal. Aku tak sekuat itu ternyata. Tapi aku belajar banyak dari proses itu.

Group ketiga selesai, mereka tak kembali lagi. Group Pak Imam kembali menguasai ruangan, menawariku makan dan minum, juga rokok dan kopi. Aku mengiyakan. Itu malam yang panjang. Selesai dengan obrolan ringan, datang lagi seseorang dari group kedua yang menginterogasiku. Ia menyatakan semua sudah selesai untukku, aku akan segera dibebaskan. Ia menawariku tiket untuk pulang ke Surabaya, aku menolaknya.

Saat beberapa kami dibebaskan dari Polda Metro Jaya, beberapa kawan masih harus menjalani. Aku putuskan ke Surabaya, dengan berpuasa 24 jam lamanya, sebagai dukungan pribadiku buat kawan-kawanku yang masih di dalam sana. Aku berdoa semua baik-baik saja.

Dulu, ketika SMA, ada masa ketika aku rutin berdoa dan berpuasa 24 jam lamanya, setiap hari Sabtu-Minggu. Aku beraktivitas seperti biasa, tanpa mengeluh, tanpa harus bilang kalau aku sedang berpuasa. Di gereja kami diajar, “Jika kamu berpuasa, basuhlah mukamu, minyakilah rambutmu..” Itu kutipan dari Injil, yang kurang lebih artinya, kamu harus tetap tegar, segar seperti biasa.

Sampai Surabaya, aku melewatkan Malam Keakraban (MK) Program Studi Ilmu Politik, semacam malam perploncoan buat mahasiswa baru. Teman-teman dan para senior memahami alasanku, mereka tetap menerimaku dengan baik, dengan sangat baik.

Aku juga melewatkan Aksi Buruh Sritex Solo yang konon masyur itu. Aksi besar dengan raungan sirene seolah sedang pecah Perang Dunia III. Entahlah, aku iri karena tidak bisa ikut mendukung perjuangan para buruh itu. Namun, di tahun-tahun berikutnya aku melibatkan diri secara aktif dalam perjuangan buruh dan petani.

Itu awal keterlibatanku dengan kawan-kawan Timor-Timur, negeri kecil yang diduduki oleh Indonesia, hidup dengan penuh kekerasan militer dari hari ke hari.

Besok aku lanjutkan cerita lagi, tentang hari-hari menjelang kejatuhan diktator berdarah dingin: Soeharto.

Sampaikan salamku untuk adik-adikmu.

 

Moskow, 3 Agustus 2020
Oleh: Joaquim Lede Valentino Rohi

Komentar

Jangan Lewatkan