oleh

Cerita untuk Kakak Ames (4)

-Puisi-318 views

Maafkan aku yang beberapa hari ini sibuk, tak sempat menulis buatmu. Aku sedang sibuk untuk memperbarui asuransi kesehatan dan menuntaskan test medis. Punya asuransi kesehatan adalah syarat untuk bisa menempati kwartira atau hunian. Rusia sangat ketat dalam hal kesehatan.

Oleh karena itu, kami merasa lebih aman untuk tinggal di Rusia selama pandemi ini. Meskipun Rusia adalah negara di Eropa dengan angka terinfeksi yang sangat tinggi, namun perlahan tapi pasti, semua tertangani.

Angka terinfeksi harian tertinggi sempat mencapai 11.000an/hari, dengan angka tes harian mencapai 250.000an/hari. Saat aku menuliskan ini angka terinfeksi harian di angka 5.000an/hari, dengan angka tes harian stabil di angka 250.000an/hari.

12 Mei 2020, pertama kali terjadi penurunan angka terinfeksi harian menjadi 10.899 kasus. Dua hari kemudian (14.05.20) untuk pertama kalinya turun ke empat digit, di angka 9.974. Pada 20 Mei, turun lagi ke 8.764. Angka 8.000an ini bertahan cukup lama, baru turun pada 17 Juni 2020, 7.843, dan 26 Juni di angka 6.800.

Aku terus berdoa agar angka di Indonesia cukup terang benderang dengan tes harian yang tinggi, dan pandemi segera tertangani. Dalam doaku aku juga berharap agar pemerintah Indonesia segera sadar bahwa ke depan –dan itu dimulai dari sekarang- kebutuhan mendesak kita adalah hal ihwal kesehatan.

Bahwa sekolah kesehatan harus murah, harus disubsidi pemerintah. Lulusan dokter harus menjadi pengabdi masyarakat. Entah bagaimana sistemnya, mungkin Kuba punya sistem pendidikan dan kesehatan yang bisa diaplikasikan di Indonesia. Bahwa menjadi tenaga pendidik dan petugas kesehatan harus menjadi pekerjaan yang lebih prestisius daripada selebritas.

Bagiku, kota-kota di Indonesia harus lebih banyak membangun Institusi Kesehatan dan Lembaga Pendidikan, lebih banyak daripada Trade Center. Coba hitung di Ibukota berapa jumlah pusat perbelanjaan, sekolah dan rumah sakit?

Di sini kami tidak khawatir soal kuota, sebab Pemerintah Kota (Pemkot) menyediakan jaringan internet gratis milik Pemkot. Di halaman depan jaringan internet itu, ada banyak link berita dan tweet Pak Walikota. Fungsi kehumasan dan sosialisasi Pemkot berjalan. Orang tak khawatir dengan distance learning dan work from home.

Bicara soal gratisan, di tiap kwartira disediakan dokter dan psikolog secara gratis, termasuk ambulans gratis jika kita sakit atau diduga terpapar virus corona. Di kwartira kami disediakan takjil, sementara di kwartira yang dikarantina, makanan disediakan negara. Begitulah keadaan kami di sini selama pandemi.

Tahun 2020 ini memang tahun berat. Banyak orang baik berpulang, termasuk Opa dan Oma, musisi Glenn Fredly dan Didi Kempot, hingga ilmuwan seperti Naek L. Tobing, Arief Budiman, dan Prof Cornelis Lay yang meninggal pada 5 Agustus 2020.

Prof Cornelis Lay, sosok ilmuwan NTT dari Pulau Sabu yang sangat dikagumi oleh Opa. Opa sering menyebut namanya, selain Nico L. Kana. Beliau meninggal bertepatan dengan ledakan besar di Beirut, Lebanon yang menimbulkan banyak sekali korban. Belum jelas apakah itu sebuah serangan atau murni kecelakaan. Mari berdoa agar tak ada lagi korban berjatuhan.

Baiklah, sampai di mana kita?

Oh ya, pulang ke Surabaya, aku tak berani bercerita Opa Oma bahwa aku baru saja mengalami interogasi pertamaku di Polda Metro Jaya. Bahwa aku adalah bagian dari para pelompat pagar yang membuat Soeharto marah besar. Bahwa aku baru duduk di Semester I ketika Polisi mengancamku dengan pasal karet subsversif; merongrong kewibawaan negara.

Aku kembali ke Surabaya, kembali ke rumah, ke kampus, seolah semua biasa saja. Padahal secara mental aku masih jatuh. Aku masih ingat bagaimana terhinanya ketika seseorang meludahi wajahku, ketika aku dipukul tanpa bisa melawan, ketika asbak rokok alumunium dilemparkan ke arahku, ketika kepalaku di bawah todongan senjata.

Aku mencoba untuk bangkit lagi, perlahan tapi pasti. Jika suatu hari nanti kamu jatuh, bangkitlah, meski sakit dan tertatih-tatih, jangan menyerah. Kalau aku bisa, kamu juga bisa, karena kita mewarisi nilai-nilai yang sama. Dan jika suatu saat nanti ketika kamu punya kekuasaan, jangan berbuat semena-mena, jangan merendahkan martabat orang yang lemah, sebagaimana para aparat itu memperlakukanku dulu.

Oleh kawan-kawan pergerakan aku dipercaya untuk terlibat dalam penerbitan media perlawanan: Suara Massa (Sumass). Media milik Persatuan Rakyat Demokratik (PRD) ini awalnya terbit mengambil format tabloid, lalu karena keterbatasan dana, formatnya berubah menjadi newsletter.

Opa sangat bangga karena keterlibatanku di sini. Lucunya, ketika Opa mengenalkanku pada koleganya bahwa aku adalah pegiat pers bawah tanah, orang hanya gelengkan kepala, tanda bahwa mereka tak kenal dengan Sumass.

Aktivitas di Sumass membuatku punya rutinitas baru; saban Jumat ke Jogja, Minggu pulang Surabaya. Hanya sekali ke Semarang dan Solo. Dari kampus aku menuju Stasiun Gubeng, membeli tiket berbentuk potongan kertas tebal sebesar kartu domino, dengan harga 3.300 Rupiah sekali jalan.

Aku biasanya membawa uang Rp 10.000 tiap ke Jogja. Sekali makan di sana menghabiskan 600 Rupiah. Turun di Stasiun Tugu, aku berjalan kaki menuju Sendowo. Jauh? Lumayan sih, tapi aku harus berhemat, agar dana perlawanan tetap ada.

Sekian dulu kali ini. Besok baru aku lanjutkan cerita lagi, tentang hari-hari seputar peristiwa 27 Juli.

Sampaikan salamku untuk adik-adikmu.

 

Moskow, 6 Agustus 2020
Oleh: Joaquim Lede Valentino Rohi

Komentar

Jangan Lewatkan