oleh

Cerita untuk Kakak Ames (5)

-Puisi-245 views

Aktivitas di Sumass membuatku punya rutinitas baru; saban Jumat ke Jogja, Minggu pulang Surabaya. Hanya sekali ke Semarang dan Solo. Dari kampus aku menuju Stasiun Gubeng, membeli tiket berbentuk potongan kertas tebal sebesar kartu domino, dengan harga 3.300 Rupiah sekali jalan.

Keterlibatan pertama di Sumass adalah mengikuti rapat di Semarang, di sekretariat SMID, Jalan Tegalsari. Aku diperintahkan oleh Windiarto, aktivis Muhammadiyah itu kini menjadi Wasekjen Partai Amanat Nasional (PAN). Untuk pertama kalinya aku pergi ke Semarang.

Aku menggunakan bis dari Terminal Osowilangun, yang jauh di pinggiran Surabaya. Saat itu terjadi banjir besar di banyak titik antara Surabaya – Semarang. Akibatnya bis yang kutumpangi masuk terminal Terboyo Semarang menjelang dini hari.

Dengan menggunakan telpon koin, aku menelpon sekretariat. Mugiyanto (IKOHI, kini di Istana Presiden) bilang aku harus cari kendaraan menuju Pasar Peterongan, namun tak ada satu kendaraan pun hingga subuh nanti kata orang-orang.

Dulu masih ada telpon umum koin pecahan Rp. 50 dan 100, karena itu kami biasa punya koin banyak, ibarat kuota pada teknologi smart phone sekarang. Aku bilang Mugi bahwa aku akan bertahan di terminal hingga subuh nanti.

Di bangku terminal aku melanjutkan membaca Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer (PAT). Meski Opa punya tetralogi di rumah, namun aku baru membacanya ketika aktif di SMID – PRD. Sungguh terlambat memang.

Beberapa orang di terminal itu memperhatikanku, bagi mereka aku adalah pemandangan asing; pemuda tanggung kelas menengah, duduk sendiri di dini hari yang dingin di Terminal Terboyo. Aku tidak tahu apa yang mereka pikirkan. Aku tidak takut dirampok, karena aku tak punya apapun yang berharga, yang aku takutkan justru novel Bumi Manusia itu.

Mengapa?

Masih ingat saat aku bilang bahwa ketika Soeharto berkuasa media dikontrol ketat oleh negara? Termasuk buku bacaan. Sekadar membaca novel karya PAT sudah bisa membawamu ke penjara, karena buku itu terlarang. Terlarang untuk dibaca, bahkan sekadar untuk dimiliki atau dibawa.

Karena itu, hargai kebebasan informasi yang kamu punya kini. Kebebasan untuk membaca, menerima informasi itu dibayar dengan harga yang tidak murah, ada banyak darah dan air mata tertumpah di sana. Seperti biasa, aku akan ‘tag’ orang-orang terkait dengan cerita-cerita ini, termasuk kali ini adalah Om Tri Agus yang biasa dipanggil TASS. Aktivis yang dipenjara Rejim Orde Baru karena kasus seperti ini.

Waktu berjalan sangat lambat di terminal itu. Aku menikmati Bumi Manusia, tapi juga waspada segala kemungkinan. Ada banyak kejahatan saat Soeharto berkuasa. Negara bisa merampas tanah, rumah, sawah, juga bisa merampas nyawa seseorang dengan begitu saja. Akibatnya, banyak orang tiba-tiba kehilangan segala yang ia punya. Opa juga mengalaminya ketika media tempat Opa bekerja dibreidel oleh negara.

Banyak orang jatuh miskin atas nama pembangunan, tepatnya atas nama perampasan lahan oleh negara. Akibatnya jelas, ketika orang jatuh miskin, mereka sangat mungkin kemudian bertahan hidup dengan jalan kekerasan di jalanan. Kamu boleh jengkel dengan kelakuan mereka, tapi ingat bahwa selalu ada kemungkinan mereka adalah korban dari apa yang disebut sebagai kemiskinan struktural. Kemiskinan yang dilakukan oleh negara atas nama pembangunan.

Pembangunan? Atau sekadar bertemunya kepentingan bisnis antara elit politik dan pengusaha besar? Arief Budiman menjelaskan hal ini dengan mudah dan gamblang. Kata Fidel Castro, kejahatan terbesar yang dilakukan oleh negara adalah menciptakan kemiskinan dan kesenjangan.

Fajar menjelang, aku segera berangkat, Mugi menjemputku di titik yang ia sampaikan. Di sekretariat ada Eko Bebek – Solo, Santi Gondrong – Semarang, juga Megi (Margiyono, kini Komisaris Telkom). Saat itu Megi sedang menuntaskan Arus Balik yang juga karya Pramoedya.

Di Semarang aku bertemu dengan Hari – STN (Serikat Tani Nasional). Wajah cerianya membuatku tak sanggup menolak ajakannya untuk ikut ke Jogja, lalu ke Solo pada malam harinya. Untuk ukuran aktivis miskin, dalam 2 (dua) hari bisa bergerak ke 4 (empat) kota adalah kemewahan tersendiri. Tapi itu sekaligus bukti bahwa sebelum teknologi informasi berkembang sedemikian rupa, kita menghabiskan banyak waktu, dana, dan tenaga untuk dapat terhubung satu dengan lainnya.

Di Solo, aku menunggu bis menuju Surabaya bersama beberapa orang penumpang. Hari pergi. Tak lama, berjalan seorang pemuda, mungkin usianya 30an, bertelanjang dada dengan muka dan dada penuh darah, bibirnya pecah. Sepertinya ia habis berkelahi.

Dengan sempoyongan ia lewat depan kami. Beberapa orang ketakutan, namun pemuda itu tak melakukan apa-apa. Ia hanya berjalan melewati kami dengan perlahan, sambil menatap mata setiap dari kami. Di satu sisi aku jengkel dengan orang seperti itu, di sisi lain, bisa jadi mereka korban kebijakan negara.

Karena itu, aku tidak ingin kamu berkata, “Untung aku tidak miskin seperti mereka. Terima kasih Tuhan.” Aku ingin kamu punya kesadaran sosial, bukan kesadaran individual. Aku ingin kamu punya solidaritas sosial yang membuat kamu bertanya, “Mengapa masih ada orang miskin di negeri kaya raya ini?”

Kelak kamu bisa kembangkan definisimu sendiri tentang kesejahteraan. Bagiku, sejahtera bukanlah ukuran individual, tapi sosial. Bahwa sejahtera adalah situasi ketika tak ada orang yang kesulitan mengakses pendidikan dan kesehatan, dan memiliki kebutuhan dasar mereka untuk hidup, terutama terkait dengan kemampuan mengakses sembilan bahan pokok (sembako).

“Aku sejahtera ketika melihat tetangga kanan kiriku bisa berobat dan bersekolah dengan mudah dan murah, serta memiliki bahan pangan yang cukup hingga sebulan ke depan.”

Sekian dulu kali ini. Besok baru aku lanjutkan cerita lagi.

Peluk cium untuk adik-adikmu.

 

Moskow, 7 Agustus 2020
Oleh: Joaquim Lede Valentino Rohi

Komentar

Jangan Lewatkan