oleh

Cerita untuk Kakak Ames (6)

-Puisi-158 views

Boleh dibilang aku membiayai separuh dari total biaya kuliahku. Untuk keperluan buku-buku, aku mendapatkan banyak pinjaman, termasuk dari para dosenku. Aku akrab dengan mereka. Bahkan Pak Aribowo (Pembantu Dekan III Fisip, Komisioner KPU Jawa Timur, Dekan FIB) setiap minggu memberiku 2 (dua) tiket nonton di Bioskop Mitra. Mungkin karena beliau pengurus Dewan Kesenian Surabaya (DKS).

Untuk ongkos sehari-hari aku berjualan media alternatif seperti Media Kerja Budaya (MKB), Suara Independen (SI), dan berjualan buku. Setelah membaca habis, aku menjualnya tanpa harga. Biasanya orang membeli dengan harga lebih dari yang aku harapkan.

Untuk membiayai aktivitas perlawanan, aku berjualan Suara Massa (Sumass) dan ikut mengamen di Darmahusada atau lesehan sekitar DPRD Kota Surabaya.

Soal mengamen ini, pernah sekali aku mengamen depan Mama Vira yang sedang duduk lesehan minum kopi bersama teman-temannya. Dia menyodorkan uang, aku menolaknya. Kini ia jadi istriku. Adegan yang sungguh bikin aku kikuk. Aku memang sudah menaksirnya sejak pertama kali berkenalan sebelum peristiwa di lesehan depan DPRD II tersebut.

Saat itu aku butuh uang untuk mengorganisir petani di Tuban dan Bojonegoro. Aku butuh uang untuk pergi ke lokasi dan makan minum selama di sana. Pulang ke Surabaya, aku biasanya ikut truk pengangkut batu atau truk apa saja yang menuju Surabaya. Aku turun di Terminal Bungurasih, berlanjut dengan bis Damri menuju tengah kota.

Saat Orde Baru berkuasa, media alternatif memang sangat populer, di luar bacaan resmi ilmiah seperti Jurnal Prisma. Aku sendiri rutin membaca Media Kerja Budaya (MKB), Suara Independen (SI), dan media terbitan Pers Mahasiswa, seperti Bulaksumur, Retorika, dan Suara Airlangga.

Mengapa butuh media alternatif?

Sebab media dikontrol negara dengan semena-mena, termasuk tindakan pembredelan. Tempo, Detik, dan Editor adalah contoh bredel media oleh negara. Dalam situasi seperti itu, media yang masih eksis tentu saja mengalami represi dengan kontrol ketat negara terhadap konten mereka.

Seno Gumira bercerita bagaimana Djakarta-Djakarta harus berulang kali merevisi judul dan isi berita mengenai tragedi pembantaian berdarah di Santa Cruz, Dili.

Goenawan Mohamad bercerita bagaimana keluarga Cendana siap hidupkan kembali dengan membeli Majalah Tempo dan menguasai manajemen mereka. Tawaran itu disampaikan oleh Hashim Djojohadikusumo di Hotel Hilton Jakarta, 5 (lima) hari setelah Tempo dibredel.

Itulah situasinya

Jika dulu negara suka menutupi fakta dan memproduksi kebohongan, kini kalian hidup dengan sumber informasi yang berlimpah, bahkan banyak orang seolah bebas menyebarkan hoax. Alur informasi harus dibenahi, jangan sampai sekacau ini. Bebas tapi harus penuh tanggung jawab. Kebebasan informasi ini direbut dengan nyawa, jangan biarkan pengorbanan itu sia-sia.

Opa pernah bilang, “Hutan sudah berkorban banyak untuk kita. Untuk kertas koran, berapa hektar hutan yang dikorbankan? Jadi, jangan pernah sia-siakan pengorbanan itu dengan memunculkan berita sampah di surat kabar.”

Kehidupan kampus sungguh menarik, menjadi sentra pengetahuan sekaligus pusat perlawanan. Selain melawan lewat Pers Kampus, ada juga yang melawan lewat lagu, lewat teater kampus, dan yang sedang kami gemari saat itu adalah monolog Mas Butet Kartaredjasa.

Semua yang terlibat perlawanan nyata inilah yang disebut sebagai aktivis.

Sekarang kamu tahu mengapa pers menakutkan bagi penguasa, sehingga dibredel, aktivis pers bawah tanah diburu dan ditangkapi. Kamu juga bisa tahu sekarang mengapa pekerja seni seperti Widji Thukul dan Mas Brewok begitu menakutkan penguasa lewat puisi dan lakon teater yang mereka suguhkan, bagaimana takutnya penguasa pada pemusik yang liriknya menggaungkan kritik.

Negara menculik, juga membunuh mereka. Beberapa di antaranya masih hidup hingga kini. Penguasa diktator militer takut dengan bait-bait dalam puisi dan lirik lagu. Itu Orde Baru.

Aku bersyukur bahwa Universitas Airlangga (Unair) tempatku menimba ilmu menjadi salah satu kampus sentra perlawanan saat itu. Memilih kampus dengan tepat, bergabung dengan organisasi dan komunitas yang tepat itu penting. Setidaknya, penting buatku untuk menajamkan apa yang Opa pernah ajarkan.

Dan aku bersyukur bahwa Opa Oma mengijinkanku untuk terlibat aktif dalam banyak kegiatan, pergi pagi pulang terkadang dini hari. Toh aktivitas ini di kemudian hari menjadi latihan penting bagiku selama pelarian dan perburuan.

Besok aku akan bercerita seputar 27 Juli, jika mungkin, kusambungkan dengan aksi mogok makan di Unair dan membesarnya aksi perlawanan di depan gerbang kampus ya. Ini terjadi di dua tahun yang berbeda. Sekarang, aku harus istirahat dulu.

Peluk cium untuk adik-adikmu.

 

Moskow, 8 Agustus 2020
Oleh: Joaquim Valentino Rohi

Komentar

Jangan Lewatkan