oleh

Cerita untuk Kakak Ames (7)

-Puisi-245 views

Kamu pastinya sudah meilhat postinganku tentang salah satu hutan kota di selatan kota Moskow; Rest Zone Park, kira-kira begitu namanya dalam bahasa Inggris.

Aku berharap kamu juga bisa belajar dari situ, tentang bagiamana memfasilitasi kehidupan manusia modern tanpa harus mengorbankan alam.

Meski berstatus Ibukota dengan jumlah pendudut nyaris dua kali Jakarta, Moskow merawat kotanya dengan cukup baik. Bangunan modern berdiri tanpa harus merobohkan bangunan bersejarah. Orang bisa berwisata ke banyak tempat di sini.

Belajar dari berkali-kali pengalaman perang, Moskow membangun stasiun bawah tanahnya cukup dalam, karena jika terjadi sesuatu ia bisa berfungsi sebagai tempat evakuasi, sekaligus museum. Museum? Ya Kak.

Di kota ini ada 260 museum dan tempat pameran, 182 teater, 3 sirkus, 1 kebun binatang, 2 taman botanik, 64 tugu-taman, dan 116 taman.

Salah satu taman yang kamu lihat adalah Rest Zone Park dengan hutan dan danaunya itu. Letaknya persis di sebelah Blok kami. Tempat kami jalan-jalan tiap pagi.

Moskow memang butuh banyak lahan resapan, supaya tidak mudah terjadi banjir, sekaligus jadi tempat penampungan air. Di sini ada lebih dari 140 sungai-рек dan anak sungai-ручёв, 4 danau-озера dan lebih dari 400 kolam-прудов (danau buatan-kecil).

Pemerintah menyebut peruntukan taman, kolam, dan sebagainya itu sebagai tempat rekreasi dan olahraga. Aku menyebutnya sebagai pembangunan kota ramah lingkungan berkelanjutan.

Menurutmu kota-kota di Indonesia dibangun dengan prinsip apa?

Aku berharap kota-kota di Indonesia punya banyak tempat penampungan air, supaya tak ada lagi desa dan kota yang krisis air, baik untuk minum dan untuk kepentingan irigasi.

Supaya air bisa langsung diminum dari kran di dapur setiap rumah kita di sana, baik di rumah Bunda, juga di rumah Surabaya.

Itu jadi mimpi Opa selama ini. Opa melihat langsung banyak krisis air bersih, lalu jadi sedih.

Baiklah, kulanjutkan sekarang dengan kejadian-kejadian di awal 1996. Aksi Lompat Pagar (Kedutaan) itu terjadi pada 7 Desember 1995, saat aku masih duduk di semester I, Ilmu Politik, Fisip Universitas AIrlangga Surabaya, dan semester III, Ilmu Jurnalistik Stikosa AWS.

Saat itu banyak di antara kami (dan kakak kelas) yang kuliah rangkap di tempat lain.

Apakah itu kebiasaan mahasiswa jurusan Ilmu Politik di bawah Orde Baru? Entahlah.

Di usiaku yang masih sangat muda, aku sudah siap ketika interogator mengancamku dengan pasal karet subversif. Aku siap masuk penjara berapapun lamanya.

Kediktatoran Orde Baru harus dihentikan, bahkan jika itu harus mengorbankan masa remajaku, mengorbankan studiku. Opa Oma pasti sedih, tapi aku yakin mereka mengerti.

Yang tak dapat dimengerti adalah mengapa ‘pasal karet’ peninggalan kolonial digunakan oleh pemerintah Indonesia terhadap warga negaranya sendiri, kepada saudara-saudara setanah airnya sendiri, tapi itulah fakta Orde Baru.

Peristiwa paling kelam di tahun 1996 adalah ketika Kerusuhan 27 Juli pecah. Salah satu puncak perlawanan rakyat terhadap pemerintahan berdarah dingin.

Untuk membantumu memahami situasinya, aku jelaskan sedikit. Di era Orde Baru, hanya ada 2 (dua) partai politik dan 1 (satu) golongan yang menjadi peserta pemilu.

Partai Persatuan Pembangunan (PPP) yang merupakan wadah kaum Islam dan Partai Demokrasi Indonesia saluran aspirasi kaum Nasionalis.

Di jaman itu, konotasi partai politik sangatlah negatif. Yang positif adalah Golongan Karya (Golkar) sebagai wadah tempat orang yang bekerja demi pembangunan tanpa berpikir banyak tentang politik yang kotor, najis, penuh huru hara.

Begitulah Orde Baru membangun citra perpolitikan nasional.

Akibatnya, Golkar selalu memenangkan pemilu. Pemilu curang, tidak transparan, begitu gugat banyak orang.

Semua pegawai negeri adalah Golkar, gaji mereka dipotong untuk kepentingan golongan tersebut. Dus, semua penasihat partai politik adalah Kepala Daerah yang adalah Pembina Golkar.

Kepala Daerah yang menjadi Pembina Golkar tersebut biasanya adalah tentara. Tentara yang menjadi Kepala Daerah ditunjuk langsung oleh Soeharto, atau setidaknya lewat restu Soeharto.

Aneh ya? Aku akan membantumu menyusun pertanyaan-pertanyaan ini, kamu bisa menambahinya sendiri nanti.

Bagaimana mungkin pembina peserta pemilu lain menjadi pembina dua partai politik pesaingnya?

Bagaimana bisa sebuah golongan yang bukan partai politik bisa ikut pemilu? Golongan apa saja yang boleh ikut pemilu?

Di mana-mana parlemen diisi oleh orang yang dipilih melalui mekanisme pemilu, kecuali saat Orde Baru.

Bagaimana mungkin legislatif kita diisi oleh orang yang ditunjuk bukan dipilih? Absurd? Ya, inilah era kegelapan Indonesia pasca merdeka 1945.

Nah, jadi partai politik dikonotasikan negatif dan karenanya dikontrol ketat oleh negara.

Sampai kemudian suatu saat, anak kandung dari Presiden Soekarno, yakni Megawati Soekarnoputri terpilih dalam Kongres PDI sebagai Ketua Umum. Soeharto panik!

Megawati kemudian muncul sebagai figur penting dalam perlawanan terhadap Rejim Soeharto.

Lewat tangan militer, Rejim Orba berusaha menggulingkan Megawati dengan merekayasa kongres tandingan di Medan yang memunculkan Soerjadi sebagai Ketua Umumnya.

Menyatakan bahwa kepemimpinan Megawati tidak sah.

Dengan dalih itulah, kubu Soerjadi, boneka rejim itu, hendak mengambil alih Kantor Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PDI di Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat. Apa yang terjadi? Sebuah kerusuhan meledak luas.

Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) menyatakan 5 orang meninggal, 149 orang luka-luka, 136 orang ditahan.

Menurut Komnas HAM, penyerbuan oleh militer yang menyamar sebagai orang PDI kubu Soerjadi. Jahat ya?

Komnas HAM dalam laporannya mencatat bahwa pada 24 Juli 1996, Kasdam Jaya, Brigjen Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) memimpin sebuah rapat di Kodam Jaya. Di rapat itu, ia memutuskan penyerbuan untuk mengambil alih Kantor DPP PDI.

SBY menggerakkan Brigade Infanteri 1 Jaya Sakti. Temuan Komnas HAM ini ada juga dalam paparan Polri di depan Komisi I dan II DPR RI, 26 Juni 2000.

Lalu, kenapa aku diburu? Kenapa PRD yang dituduh sebagai dalang kerusuhan itu?

Tahan nafasmu sebentar, aku akan segera kembali.

Peluk cium untuk adik-adikmu.

 

Moskow, 12 Agustus 2020
Oleh: Joaquim Lede Valentino Rohi

Komentar

Jangan Lewatkan