oleh

Cerita untuk Kakak Ames (9)

-Puisi-259 views

Kampus, Fisip Unair, Jumat, 26 Juli 1996, selesai ujian aku bergegas menuju Stasiun Gubeng, dengan kereta senja menuju Jakarta. Depan LP Cipinang, kereta nyaris berhenti sama sekali, cukup lama. Hari itu, Sabtu, 27 Juli. Begitu tiba di Stasiun Jatinegara, aku langsung ke Jalan F Gang Z, Tebet, Sekretariat Partai Rakyat Demokratik (PRD).

Hanya ada Anom mencuci pakaian di sana. Semua orang turun ke lapangan. Lapangan yang dimaksud Anom adalah Megaria, Diponegoro, Cikini, Salemba, dan sekitarnya. Jakarta membara hari itu, sejak pagi katanya.

Tak lama, datang beberapa kawan membawa perintah untuk evakuasi. Beberapa dokumen menjadi tanggung jawabku. Tujuanku saat itu adalah kost Christine, sepupuku di Bogor. Aku diperintahkan mampir Lenteng Agung untuk mengambil beberapa dokumen lagi.

Setiba di Bogor, aku menumpang mandi di kost itu. Sudah lebih dari 24 jam aku tidak mandi. Selepas mandi, aku menuju Kampus IISIP, Lenteng Agung. Di sana aku berkumpul dengan Budiman Sudjatmiko, Petrus Haryanto, dkk. Syarwan Hamid dan Feisal Tanjung bilang, PRD adalah dalang kerusuhan, mereka keluarkan perintah penangkapan dan tembak di tempat.

Rapat memutuskan untuk bergerak terpisah, terkoordinasi dalam group kecil. Usai rapat, semua orang membagi diri, aku dengan grup kecil bertahan di tempat itu, kost Dedy Bear.

Aku diterima baik juga oleh tetangga Dedy, tiga perempuan yang bekerja di acara televisi Komeng di SCTV; Sony, Widhi, dan Rinca, serta anak Pak RT di sana. Bertahun kemudian, setelah Soeharto jatuh, Sony sempat berkabar kepadaku, mereka bertiga baru lakukan perjalan ke Gunung Bromo. Sementara anak Pak RT yang aku lupa namanya, pernah menginap di rumah ketika jalani test di Surabaya.

Setelah beberapa hari tanpa kabar dari Ken Budha Kusumandaru, di berbagai media muncul berita penangkapan teman-temanku itu. Kami panik dan bingung apa yang harus dilakukan. Kami yang bertahan di kost Dedy bersepakat untuk memisahkan diri.

Aku ke rumah Om Christian Silalahi di Cawang. Om Christ berayah seorang Batak dengan ibu orang Timor, saudara Papa. Dari sana aku berusaha mengontak Surabaya, setelah sekian hari tanpa berkabar. Beberapa hari di sana, akhirnya Kak Pino bilang akan menjemputku malam nanti. Siangnya, aku sempatkan pamitan ke rumah mantan di Jalan Siaga II, Pejaten, Pasar Minggu.

Aku diungsikan ke Kota Tigaraksa, Tangerang. Sesampainya di rumah, Kak Pino menunjukkan langit-langit rumah yang bisa kupakai bersembunyi, jika sewaktu-waktu tentara datang ke rumah itu. Kabar penangkapan semakin kencang. Semakin banyak kawan tertangkap.

Setelah sekian lama bersama Kak Pino, kuputuskan untuk kembali berpindah. Diantar Kak Ceci ke Terminal Bis keesokan harinya. Aku hendak menuju Bandung. Sialnya, di terminal itu, aku bertemu Haris, intel Polwiltabes Surabaya yang selalu mengikuti kegiatan PRD Surabaya. Aku tercekat, panik. Aku hanya minta Kak Ceci untuk pergi secepatnya meninggalkanku.

Haris mendekatiku, bertanya pelan, “Mau ke mana Mas?”

“Mulih Suroboyo Mas, sik yo,” jawabku sambil menjauh dari dia.

Aku menuju bis terdepan menuju Bandung. Untuk membuktikan apakah aku diikuti atau tidak, aku memutuskan turun ketika terjadi kemacetan parah di Puncak. Aku turun dari pintu depan, ada beberapa orang berambut cepak turun dari pintu belakang. Aku berjalan sangat cepat menuju bis terdepan, terjauh yang bisa kujangkau. Akhirnya aku naik bis yang jaraknya beberapa ratus meter dari bis yang kutumpangi tadi.

Hatiku belum tenang, meski bis sudah bisa berjalan pelan. Sampai di Bandung, aku masih merasa diikuti, aku jalan tak tentu arah, hanya berpindah dari bis ke bis. Tujuannya cuma untuk menghilangkan jejak. Di satu terminal, aku berganti baju, aku buang topi dan flannel yang kukenakan. Setelah merasa aman, aku menuju Dayeuh Kolot. Aku melihat ada satu mobil jeep militer yang terus mengikuti di belakang angkot yang kutumpangi.

Sampai Dayeuh Kolot, aku turun, masuk ke sebuah toko di tengah pasar. Ternyata benar, jeep itu juga berhenti, turun dari sana beberapa orang menggunakan HT (handy talky). Aku menyelinap keluar, melompat masuk ke angkot yang sepi, aku pecahkan lampu angkot itu, menodongkan pisau ke sopir (pisau lipat kecil dengan gagang salib dengan tubuh Kristus) aku perintahkan jalan saat itu juga.

Aku melihat para orang ber-HT itu nampak seperti sedang mencari-cari. Setelah agak jauh, aku meminta maaf ke supirnya. Aku janji ganti lampu dalam yang kupecahkan tadi. Rupanya dia memahami. Aku turun di tengah jalan, memutuskan untuk berganti kendaraan, begitu seterusnya hingga tiba di tujuan.

Sampai tujuan. Aku dipeluk cium oleh Opa Mes, kakak kandung Opa, ayah dari Bi Moria. Dalam dingin tempat itu, aku merasakan kehangatan yang luar biasa. Meski, aku tetap tidak bisa tidur dengan normal.

Sejak di Cawang, musuh utamaku adalah tidur. Di tengah tidur, aku hampir pasti terbangun dengan baju basah oleh keringat, aku bermimpi digerebek-ditangkap tentara, atau aku bermimpi terlibat dalam kekerasan fisik melawan tentara bersama banyak orang lainnya.

Awal Oktober 1996, dari Surabaya Opa datang menjemputku di Bandung. Berdua kami naik kereta ke Surabaya.

Surabaya, 10 Oktober pagi, setelah memastikan aman, kami berdua menuju rumah dengan cepat, berusaha tanpa ketahuan siapapun. Oma menangis, mendekapku sangat erat. Opa juga baru menumpahkan air matanya di sana. 10 Oktober adalah hari ulang tahunku, Opa bilang, Oma ingin aku pulang hari itu.

Oma yang sedih mengungkapkan kemarahannya kepada Feisal Tanjung dan Syarwan Hamid. Opa bilang dokumen-dokumenku aman, dalam bungkus plastik di bawah tanah. Sejak ditetapkan sebagai buronan negara, tiap hari tentara datang ke rumah. Sebagian duduk persis di depan rumah, sebagian lagi di rumah Pak RT.

Siangnya, aku jatuh tertidur, kali ini pulas. Tiba-tiba Oma membangunkanku, ”ada tentara!”

Aku lari dengan celana pendek-kaus singlet yang kugunakan ketika tidur, tak lupa menyambar tas. Opa dan orang kampung lainnya sudah berjaga di depan. Sejak hari itu, aku berpindah-pindah lagi.

Aku lanjutkan besok ya.

Peluk cium untuk adik-adikmu.

PS: Aku sudah pernah menuliskan ini, tapi bukan untukmu. Jadi biarlah aku menulisnya sekali lagi, kali ini khusus untukmu. Dan itu foto Presiden Jokowi menggunakan baju adat Sabu, kamu masih ingat bahwa Ames adalah nama Sabu pemberian Opa?

 

Moskow, 14 Agustus 2020
Oleh: Joaquim Lede Valentino Rohi

Komentar

Jangan Lewatkan