oleh

Cerita untuk Kakak Ames

-Puisi-245 views

Memenuhi amanat Oma, mulai hari ini, aku akan menulis surat-surat untukmu, meneruskan tugas Opa Oma untuk mengenalkan norma keluarga lewat cerita.

Karena kita dipisahkan jarak yang sangat jauh, maka kuputuskan untuk menuliskan lewat surat-surat ini.

Aku bukan pencerita yang baik, sebagaimana Opa. Cerita Opa mengalir, membuat kita hanyut dalam imajinasi; bagaimana bermanfaat bagi sesama dan alam semesta.

Cerita Opa menghanyutkan, membuat rasa ingin tahu terus mengalir.

Aku berharap kamu bisa menjadi pencerita yang baik bagi adik-adikmu kelak.

Meneruskan cerita-cerita yang kamu peroleh dari Opa Oma, juga dari surat-suratku ini.

Aku berharap kamu berani mengambil tanggung jawab untuk menjadi pembelajar dalam hidup, memetik saripati pentingnya hidup bersama, lalu meneruskannya nanti.

Bukan hal yang mudah memang, tapi cobalah untuk setia.

Sebab jika kamu bertekun, setia dengan hal-hal kecil, kamu juga akan bertekun menjalani, setia dalam perkara-perkara besar.

Mengapa kamu? Kelahiranmu diiringi peristiwa panjang dan berat bagi Opa Oma.

Bundamu, sebagai anak satu-satunya perempuan di keluarga, dua kali lolos dari maut.

Aku mulai dari peristiwa di Timor-Timur 1999. Saat itu bundamu aktif dalam pemantauan jajak pendapat; KIPPER.

Suatu malam, rumah yang bunda tempati diserang milisi pro integrasi. Bunda selamat, lari bersama temannya masuk ke dalam lahan jagung yang sedang tumbuh tinggi.

Rumah mereka dibakar milisi. Mereka terus berlari dalam gelap malam.

Jalan ke Dili banyak check point yang diinisiasi oleh para milisi. Bahkan mereka mengeluarkan surat jalan.

Kelak kamu akan mengerti bagaimana absurdnya ketika milisi bisa membuat surat jalan seperti itu. Jalan ke Dili, banyak pohon sengaja ditebang, di tengah jalan pohon-pohon itu melintang.

Opa protes keras ke Dino Patti Djalal. Lalu polisi ditugaskan untuk mencari dan menjemput. Bunda akhirnya tiba dengan selamat kemudian harinya di Dili.

Opa memeluknya sangat erat, sangat dalam. Saat itu di Timor Timur, nyawa mudah melayang, nyawa tak ada harganya.

Bunda adalah satu-satunya anak perempuan, yang sangat disayang oleh Opa. Beberapa hari kemudian, bundamu diterbangkan kembali ke Jakarta.

Setelah aku dan Opa berhasil keluar dari neraka kengerian bumi hangus Timor Timur, kami memutuskan untuk segera berkumpul di Jakarta. Gubernur Piet Tallo, teman sekolah Opa, yang mengurus kami.

Kami datang mepet sekali di bandara. Setelah duduk sekian lama, kuberanikan diri bertanya, mengapa pesawat tidak segera berangkat.

“Masih menunggu rombongan Pak Gubernur,” kata pramugari. Ternyata yang dimaksud rombongan Gubernur adalah kami, yang datang di penghujung waktu.

Sesampai di Jakarta, Oma memeluk, menangis sejadi-jadinya. Kami diberitakan hilang pertama kali oleh RCTI. Kamu bisa googling tentang berita kehilangan kami di lautan api Dili.

Bundamu selamat dari maut

Peristiwa kedua, ketika bunda menghilang dari kampus, dari kost-nya di Bandung. Tanpa kabar, tanpa jejak, lenyap.

Oma sedih, namun terlihat lebih tegar daripada Opa. Opa tidak bisa menyembunyikan kesedihan itu.

Waktu Opa habis ia digunakan untuk mencari bundamu, daripada tenggelam dalam pekerjaan. Berbulan-bulan lamanya. Opa jadi sering sakit-sakitan.

Suatu hari, bundamu mengabari lewat telepon. Minta maaf, mengabarkan kalau bundamu sudah menikah dengan teman kuliahnya dan sedang hamil besar.

Opa Oma tidak mempedulikan semua kabar itu, tak ada rasa marah atau kecewa. Bagi mereka, yang penting anak perempuan satu-satunya kembali.

Anak yang hilang itu segera pulang ke pelukan mereka. Tak lama kemudian, kamu lahir. Cucu ketiga. Cucu laki-laki pertama lahir.

Opa sibuk mencari padanan nama Sabu untukmu. Banggalah dengan nama Sabu-mu itu Nak.

Oma selalu menjemputmu di akhir pekan. Anyer dan Jakarta jadi perjalanan mingguan baginya. Sampai pada suatu siang di KM 74 tol menuju Merak, mobil Oma tabrakan dengan Bis Arimbi.

KIA Visto itu melayang ke seberang jalan, berguling hingga ke areal persawahan. Mobil berhenti dengan posisi roda di atas.

Oma dengan tidak mempedulikan rasa sakitnya, mendobrak kaca sampai pecah dan menyeret semua di mobil keluar, menjauh dari mobil.

Setelah itulah Oma ambruk. Tulangnya remuk. Patah di banyak bagian. Berbulan-bulan Oma dirawat, bertahun-tahun merasakan sakitnya. Semua demi melindungimu dalam kejadian itu.

Usiamu belum genap 3 bulan waktu itu. Oma yang duduk di belakang tanpa sabuk pengaman, memelukmu erat, mendekapmu kuat, dalam guncangan mobil yang berguling itu.

Akibatnya, kamu utuh, tak secuilpun terluka, sementara Oma menderita begitu parahnya. Semua demi kamu. Kejadianmu memang tidak biasa-biasa saja.

Mobil yang sebagian besar hancur ditawar dengan harga sangat murah. Sudah itu, kami juga kalah di pengadilan.

Keputusannya adalah kami diminta berdamai, tanpa tuntutan apapun, berlaku untuk kedua belah pihak.

Karena kejadianmu yang tak biasa itu, aku berharap kamu berani mengambil tanggung jawab untuk belajar lebih kuat, membaca lebih banyak. Kamu, bunda, dan Oma lolos dari maut yang sebenarnya sangat dekat.

Sampaikan salamku untuk adik-adikmu.
Besok aku cerita bagaimana bundamu terlibat aktif di jajak pendapat Timor Timur.

 

Moskow, 1 Agustus 2020

Oleh: Joaquim Lede Valentino Rohi

Komentar

Jangan Lewatkan