oleh

Infeksi Paru

-Puisi-285 views

Foto-foto bayi saya berlatar perkebunan teh. Mama adalah pemetik dauh teh. Entah berapa lama kami habiskan waktu di dinginnya Gunung Malabar, Bandung Selatan. Dari suasana dingin, kami turun ke panasnya Surabaya.

Di Surabaya, saya kecil suka tiduran di lantai, tidak berbaju. Kebiasan yang berjalan cukup lama. Hingga suatu hari saya batuk dan tak kunjung sembuh. Setelah sekian banyak dokter dan rumah sakit, saya dirujuk ke RSAL Surabaya. Hasilnya; paru-paru sebelah kiri saya tidak tumbuh. Mama bilang,”paru-parumu mengecil sebelah.”

Sejak itu saya harus dirawat intensif oleh dr Aribowo, internist RSAL yang kebetulan buka praktik pribadi di Jalan Mawar Surabaya. Dekat rumah.

Dua tahun penuh saya harus minum obat dengan 36 pantangan. Ada beberapa yang saya hafal, selebihnya Mama yang menghafalnya. Yang saya ingat: tidak boleh ada binatang berbulu di rumah; tidak boleh gunakan kasur berbahan kapuk; tidak boleh ada debu; tidak boleh makan minum panas dan dingin; dan tidak boleh kelelahan. Mama menjaga saya dengan ketat. Namun itu sering gagal.

Sebagai kanak-kanak, tentu saja saya suka bermain, berlari-larian, dan suka dengan semua kegiatan yang melelahkan. Ke sekolah, Mama melapor ke guru olahraga supaya saya dibebaskan dari pelajaran olahraga. Namun saya suka dengan aktivitas fisik.

Sebagai kanak-kanak kami suka berbagi makanan dan minuman, khususnya minuman dingin yang menyegarkan di tengah udara panas Surabaya. Berbagi minuman di kalangan anak-anak adalah hal biasa.

Masa-masa itu sungguh berat buat saya sebagai kanak-kanak. Dengan segala pembatasan, dengan segala kewajibannya.

Pasti berat juga bagi Papa yang harus menjamin punya uang lebih untuk membayar segala pengobatan. Saya tidak boleh putus minum obat seharipun. Tidak boleh telat kontrol.

Pasti berat juga buat Mama yang harus memberi perhatian lebih buat saya, terutama menjaga agar saya tidak melanggar satupun pantangan yang diberikan dokter.

Jika obat hampir habis, uang belum ada, Mama harus bisa mengusahakannya. Semua pelanggaran itu akibatnya agak fatal buat saya. Tiap kali saya batuk, saya megeluarkan darah dari mulut dan hidung, dalam jumlah agak banyak kata Mama.

*
Suatu sore, Papa yang baru pulang mendapati saya memegang dada kiri, merintih. Papa yang mudah panik itu bertanya, saya tidak menjawab, sampai kemudian Mama menghampiri. Barulah saya bilang dipukul Sugeng.

Dengan geram Papa mendatangi rumah Sugeng, menyeret ayahnya keluar, mencengkeram lehernya, menyandarkannya ke tembok, tangan kanan Papa menuding tepat ke mukanya. Papa yang dikenal kalem, penyabar dan penyayang anak-anak, sore itu berubah wajah. Semua gara-gara saya. Semua demi saya.

Bertahun-tahun kemudian saya dinyatakan sembuh, setelah, entah berapa banyak biaya, berapa besar kekhawatiran dan perjuangan mereka agar saya punya paru-paru normal.

29 hari lalu, Papa meninggal karena infeksi paru. Kali ini, saya tidak bisa mengusahakan apapun, sebagaimana Papa berjuang untuk saya dulu.

 

Moskow, 9 Juli 2020
29 hari setelah kematian Peter Apollonius Rohi

Oleh: Joaquim Lede Valentino Rohi

Komentar

Jangan Lewatkan