oleh

Jika Ansel adalah Kita, Berapa Harga Nyawa Manusia?

-Puisi-977 views

(Tulisan Ini Mengenang 100 Hari Alm. ANSELMUS WORA)

Kita semua punya keprihatinan yang amat mendalam tentang harga nyawa manusia. Sepertinya pembunuhan menjadi pilihan yang terhormat untuk sebuah tujuan tertentu yang tak dapat diselami, selagi polisi negara belum mampu mengungkap kebenaran menurut hukum.

Pernyataan ini terbuka untuk dinilai oleh kita, karena mengandung dramatisasi atau dibesar-besarkan. Saya mesti bilang, nyawa tidak dapat dibesar-besarkan, nyawa juga tidak boleh dikecil-kecilkan, apalagi dihentikan, serta di tarik ulur proses nya bahkan di lemparkan tanggung jawabnya.

Nyawa manusia juga bukan perkara jumlah. Bukan perkara numerik atau angka, baik dalam nilai nominal, nilai absolut, maupun frekuensi dan agregat. Nyawa perkara mendasar, yaitu hak untuk hidup seorang anak manusia, terlebih manusia yang tidak bersalah hanya untuk tujuan membungkam.

Saya menggarisbawahi kata ‘seorang’, bukan ‘dua orang’, atau ‘banyak orang’. Buang jauh-jauh pernyataan ‘baru satu yang mati’ atau ‘cuma satu yang mati.’ enak kalimat nya, sakit yang merasakan.

Dalam perspektif ini kematian seorang Anselmus Wora, seorang ASN di Dinas Perhubungan Kab. Ende yang menghembus napas terakhir dan meregang nyawanya dengan bekas luka menganga di kepala (itu bukti fisik atau visual yang terlihat) karena di ajak berkali kali oleh dua orang rekannya, untuk memperbaiki mobil DAK.

Bahwa kini bukan lagi Ansel Wora adalah pegawai kecil yang berprofesi sebagai seorang sopir, bukan juga karena pejabat, bukan juga politisi.

Ini persoalan anak manusia untuk menghargai dan melindungi nyawa manusia.

Orang lebih dulu menjadi manusia, baru kemudian menjadi politikus, baru menjadi pejabat atau memiliki segudang kekayaan atau kekuasaan. Sehingga dari padanya orang menjadi mengalahkan cintanya kepada sesama manusia.

Sebagai perbandingan, di mana-mana bertumbuh rasa sayang kepada binatang. Penyayang binatang menjadi orang-orang yang bermakna karena menyayangi makhluk hidup ciptaan-Nya.

Anjing misalkan, dalam keadaban menyayangi anjing itu, memaki dengan kata-kata ‘anjing kau’ bukan saja kasar, tetapi salah alamat karena anjing dapat dipercaya dan setia kepada tuannya. Para penyayang anjing, yang tiap pagi mengajak anjingnya joging, protes keras dengan penggunaan kata ‘anjing’ sebagai ekspresi makian.

Kembali ke topik apakah setelah kematian Anselmus Wora yang sudah berjalan lambat dan sudah memasuki usia 100 hari, sehingga pikiran kebencian itu dengan tindakan yang tidak berperikemanusiaan, kini dapat diganti dengan sosok manusia bungkam, bebas berkeliaran dan melakukan klarifikasi ala cuci tangan Pilatus?
Kita berharap jangan sampai ini terjadi lagi pada orang orang yang tidak berdaya seperti Anselmus Wora ini dengan skenario yang sama.

Bahwa ini adalah kisah kita karena Ansel adalah kita, keluarga kita, manusia juga seperti kita, karena tragedi terbesar dalam hidup ini ialah bila yang hidup memelihara kematian di dalam hati dan pikirannya serta kelakuannya. Mereka bahagia memperlakukan nyawa manusia tidak ada harganya.

Oleh : Ignas M, Warga Masyarakat tinggal di Ende

Komentar