oleh

Jubah yang Kusut

-Puisi-382 views

Gak seperti biasa yang terjadi pada jubah polos dibalut kasula putih pada korpus-korpus muda itu. Kegilaan yang mulai nampak atas isi jubah yang mulai koyak oleh duri-duri dunia tampa ampun berseliweran di berbagai area.

Separuh demi separuh mulai luntur oleh hasrat memiliki yang tinggi. Tak terhitung  jumlahnya semua terpajang di dinding dengan desain-desain baru yang khas motif daerah. Berangkali diberi bentuk baru agar lekas menutup isi dalamnya yang sudah koyak  tercabik duri dan makanan ngengat. Mau mati rasanya melihat semuanya itu.

Tapi tak apa, semua masih dibungkus rapi oleh kain-kain tebal tak tembus dipandang mata. Begitulah jubah jaman sekarang yang dirawat dengan ketaatan penuh sesuai ucapan bibir di depan ruang pilihan. Namun, apakah itu membuat nyaman membalut diri dengan jubah yang tampak polos tapi isi dalamnya begitu khusut dan koyak termakan arus-arus jaman?

Sejenak lamunanku melonjak usai menatap jubah putih yang terpajang dengan megah dengan isi dalam yang sudah mulai koyak dan kusut. “Berangkali itu hanya imajinasiku saja yang membuat aku jadi malas melihat jubah yang dirias sedemikian rupa supaya menutup isi dalamnya yang sudah koyak,” pintaku dalam hati.

“Tapi entahlah, jangan membuatku tambah pusing. Lagi-lagi isi kepalaku sudah penuh dengan siaran-siaran rahasia yang menjadi makanan ringan setiap hari” pintaku pada diri sendiri.

Sambil beranjak menuju dapur dan meracik segelas kopi dengan paduan dua kali satu mulai kuteguk perlahan. Entah kenapa tak terpikir olehku ternyata ada orang yang dengan perhatian penuh  mengamati semua pergerakan-pergerakan yang saya lakukan. Seakan menginterogasi penjahat yang melakukan kejahatan sebagai sebuah kebenaran.

“Ada apa dengan kamu brother, kelihatannya kamu begitu gelisah tentang sesuatu yang selalu menemukan pertanyaan baru,” sahutnya dengan nada yang lembut.

“Tak kenapa kok padre, saya hanya lagi bingung aja dengan jubah  putih yang digantung di kapel itu. Tampak luarnya begitu indah dan megah, tetapi isi dalamnya tampak luntur dan koyak serta kusut lagi padre,” sambungku sembari mengarahkan pandangan ke arah kapel kecil yang letaknya di sebelah timur.

“Ow, terus  kenapa harus bingung dengan jubah yang kusut itu,” sahutnya dengan nada penuh tanya.

Sambil mengarahkan pandanganku kedepannya, saya mulai bercerita tentang apa yang ada di benak saya.

“Beginilah padre, sebenarnya saya ingin melihat jubah itu lebih lama, bahkan lebih lama dari selamanya. Tapi entah kenapa, ketika mataku menembus ruang-ruang kusut di balik jubah itu, rasa bimbang dan ragu serta malas untuk melihat jubah itu tersingkap di kepalaku padre,” sambungku dengan wajah penuh kebingungan.

Mendengar ucapanku yang membius pikirannya, dia hening lalu dengan senyum manja memegang kepalaku sebagai tanda cinta kasih yang tak terbatas pada ruang-ruang kisah. Memang benar bahwa kasih seorang bapak bukan hanya sebuah prestasi di mata dunia yang membuat perbandingan dengan manusi yang lain. Tetapi, sebuah kebanggaan yang lahir dari hati mereka karena mereka masih bisa mengasihi walaupun darah dan keringat yang membuat mereka lelah berkali-kali untuk menyambung napas kehidupan di dalam keluarga.

***

Ayat demi ayat mulai dia buka dengan sebuah penganalogian. Seakan kusutnya jubah melekat erat pada analogi yang diutarakannya.

“Perhatikanlah buah mangga yang ada di atas pohon itu. Buah-buah mangga yang baik pasti akan selalu disuka dan ingin dimiliki oleh semua orang bukan. Untuk itu banyak batu yang akan dilemparkan kepadanya sebagai cara untuk memiliki buah itu. Tak disadari ketika buah itu telah berada dalam genggaman manusia, tenyata isi dalamnya sudah rusak oleh lemparan batu bertubi-tubi,” kisahnya dengan berbagai ritme nada yang membuatku terhanyut dalam penganalogian itu.

“Begitupun dengan jubah yang menjadi sorotan matamu. Sebenarnya jubah itu begitu bagus dan mengkilap. Hanya karena kilap dan keindahan itu disukai banyak orang maka tak heran jubah itu koyak dan kusut oleh cabikan-cabikan jari tengah yang berusaha menembus benang-benang sutra pengikat isi dalamnya,” ia berguman dengan nada yang mulai serak seakan  sedih dengan banyaknya jubah yang koyak dan  kusut yang di pajang di depan altar suci itu.

Mendengar pengisahannya itu, mataku kemudian mulai melembab  oleh genangan air mata yang sudah menjadi mata air. “Terimah kasih padre penjelasanmu. Berangkali dunia ini tidak rela jika melihat jubah itu tetap megah dan kilau guna menghapus ratap dan tangis yang bermandi di atas jalan salib,” pintaku seraya menghapus air mata  yang mengalir pada bibir hening.

“Tapi jangan lupa rapihkan semuanya itu dalam doamu, agar kelak dunia mengerti bahwa koyaknya jubah menjadi tanda bahwa dunia begitu rakus dengan keindahan,’’ sahutnya sambil mengajakku menuju kapel untuk mendoakan dunia yang haus dengan keindahan.

 

Oleh: Alexander Wande Wegha

(Mahasiswa  STFK Ledalero, Maumere, Flores)

Komentar

Jangan Lewatkan