oleh

Kampung Malang, Toleransimu Kini

-Puisi-240 views

DUA kali dalam setahun, saya menukar uang kertas baru pecahan kecil. Tujuannya apalagi kalau bukan dalam rangka hari besar keagamaan. Sejak awal menghuni Kampung Malang, semua orang terbiasa dengan kegiatan silaturahmi yang disebut unjung-unjung.

Aktivitas ini dilakukan tak kenal usia dan batas wilayah, mulai kanak-kanak hingga para orang tua, mulai dari RT/RW yang sama hingga kampung-kampung sebelah. Bagi kanak-kanak pemburu hadiah hari raya, area kunjungan tak terbatas Kampung Malang saja, tapi juga Kedondong, Wonorejo, Tempel, hingga Pandegiling. Begitu pula sebaliknya.

Unjung-unjung hanya dilakukan dalam rangka lebaran dan natalan, di luar itu tidak menjadi kebiasaan warga kampung kami.

Pada saat lebaran, warga non-Muslim mengunjungi rumah para tetangga Muslim. Saat natalan, warga non-Kristen mengunjungi tetangga beragama Kristen. Semua orang membuka pintu rumahnya. Ada kunjungan, ada kunjungan balasan.

Sebelum menikah, saya biasanya berkunjung bersama teman sebaya, mengetuk semua pintu rumah. Mencicipi hidangan, tertawa bersama. Ketika rombongan lain datang, kami undur diri. Pindah ke rumah lain, begitu seterusnya.

Setelah menikah, saya yang tak lagi tinggal di Kampung Malang, datang ke rumah bersama istri. Lalu bertiga, bersama Mama, kami lakukan tradisi silaturahmi Kampung Malang yang usianya sudah puluhan tahun itu.

Namun, ada yang berubah 5-6 tahun belakangan ini. Setidaknya mulai ada tetangga yang tak mau bersalaman dengan warga non-Muslim. Saat lebaran, warga Muslim yang biasanya mudik di hari kedua, akhir-akhir ini mulai mudik di hari pertama. Sehingga saat dikunjungi, rumah mereka tampak gelap, tak berpenghuni.

Yang menyedihkan, adalah kenyataan bahwa mereka adalah orang lama, bukan pendatang baru di kampung kami.

Lebih sedih lagi, ketika Mama memindahkan Papa yang stroke ke rumah Surabaya. Papa seringkali terbangun kaget ketika suara pengeras suara dari mushola baru di kampung sebelah berbunyi. Mama pernah bertanya, “Mama sebenarnya mau protes, tapi protes ke siapa?” “Bagaimana nanti kalau dikira ini persoalan agama?”

Sampai saat Mama meninggal, saya tak mampu berikan jawab untuknya.

 

Moskow, 23 Juni 2020
13 hari setelah kematian Peter Apollonius Rohi

Oleh: Joaquim Lede Valentino Rohi

Komentar

Jangan Lewatkan