oleh

Kegembiraan di Kampung Malang

-Puisi-238 views

NYARIS tiap pagi Papa memutar Koes Ploes dan The Beatles, jika berada di rumah Surabaya. Ketika dewasa, saya baru tahu bahwa Bung Karno tak suka keduanya. Sementara Papa, seorang Soekarnois yang juga penikmat musik mereka. Papa suka bercerita tentang mereka, tentang sosok John Lennon, tentang kota Liverpool.

Ada juga yang disukai Papa, namun tak banyak diceritakannya, seperti; Oscar Harris, Jim Reeves, dan Engelbert Humperdinck, padahal nama terakhirlah yang kemudian menjadi inspirasi baginya untuk menamai anak pertamanya.

Mama mengikuti kebiasaan Papa, memutarkan musik di pagi hari buat kami. Selera mereka cukup berbeda. Mama suka Angel Pfaff, Ade Manuhutu, dan Lex’s Trio. Kami tumbuh dengan musik-musik ini. Kami hanya mendengarkan musik anak-anak di radio. Kami belum punya televisi saat itu.

Di kampung kami, anak-anak menonton televisi di rumah tetangga; hitam putih. Kalau nonton video, di rumah Pak Wassamai, guru matematika YMCA-IMKA. Hanya Pak Wassamai yang punya televisi berwarna, plus teras dan halaman yang luas. Kami senang sekali jika akhir pekan Pak Was, demikian kami memanggilnya, menyewa video, artinya akan ada film bagus buat kami, tak melulu TVRI.

Papa Mama juga punya cara untuk menambah kegembiraan anak-anak di kampung kami. Suatu kali, Papa memotret aktivitas 17 Agustus-an, lalu memuatnya di koran, kalau tidak salah, Suara Indonesia. Papa pulang membawa koran tersebut, menggunting foto dan keterangan foto, lalu menempelkannya di depan rumah. Semua orang, tua muda, berkerumun melihat diri mereka ‘masuk koran.’

Semua orang senang. Siapa yang tidak senang melihat dirinya terpampang di media massa? Sesuatu yang jarang, bahkan langka pada saat itu.

Kesenangan berlanjut

Suatu hari Papa pulang membawa bulletin dari Lembaga Indonesia Amerika (LIA) – Perhimpunan Persahabatan Indonesia Amerika (PPIA). Mereka punya jadwal pemutaran film. Papa menunjukkan jadwal untuk menonton film yang menurutnya bagus, beberapa di antaranya Charlie Chaplin, Superman dan Abbott and Costello.

Sore hari, kami dengan menggunakan baju paling bagus yang kami punya, naik becak beramai-ramai menuju LIA. Tidak hanya kami, anak Papa, tapi juga anak-anak lain di kampung kami. Aktivitas ini berlanjut hingga beberapa tahun kemudian.

Semua orang senang. Siapa yang tidak senang bisa menonton film dengan pulang pergi naik becak, bak tamasya gratis itu?

Kini, pemberi kegembiraan buat anak-anak itu telah berpulang. Terima kasih Papa Mama yang sudah memberi kami -aku dan teman-temanku- kesenangan kanak-kanak yang tak terlupakan itu. Hal sederhana, yang kalian buat menjadi kenangan indah.

Upahmu besar di surga.

 

Moskow, 16 Juni 2020
Enam hari setelah kematian Peter Apollonius Rohi, Oleh: Joaquim Lede Valentino Rohi

Komentar

Jangan Lewatkan